Surat untuk Jakartans

Pertama-tama saya ucapkan terima kasih atas keriaan selama seminggu terakhir ini.

Terima kasih, sekali lagi terima kasih.

Dear Jakartans,

Kedatanganmu ke kota kecil kami tiap setahun sekali adalah berkah bagi kami

Kegemaranmu berdandan adalah berkah untuk Babah Hiem yang seharian naik turun lemari membungkus batik-batik terbaik untuk dibawa ke Jakarta.

Kami ikhlas sandang yang kami inginkan untuk mematut diri di Hari Raya sudah habis dibeli olehmu.

Belanjamu yang menggila adalah berkah bagi Nyah Pang tukang jenang yang seharian tanpa lelah membungkus beratus-ratus jenang untuk dibawa ke Jakarta.

Kami cukup mengelus dada melihat mulutmu memerintah bagai raja para pekerja yang kau anggap tak becus membereskan pesananmu.

Nafsu makanmu yang besar adalah rezeki bagi Pak Karso bakul bakmi yang semalaman memasak berpiring-piring bakmi untuk mulut-mulutmu yang lapar yang tak pernah menemui bakmi seenak ini di Jakarta.

Kami rela menahan lapar di warung langganan demi perutmu yang ingin diisi lebih dahulu

Kendaraanmu yang memenuhi jalan-jalan kota kami adalah hiburan kala hari lain kota kami sudah sunyi selepas senja.

Kami merelakan diri kami ke tepian membiarkan mobil-mobilmu bisa kau kendalikan tanpa aturan.

Terima kasih Jakartans sekali lagi terima kasih untuk semua tambahan rezeki ini.

Kami tahu diri untuk tidak banyak menuntut.

Kami tahu diri kehadiranmu sangat dinanti oleh Bah Hiem, Pak Karso, Nyah Pang juga semua orang yang berharap tambahan rezeki setahun sekali.

Tapi apakah kalian juga tahu diri, Jakartans?

Kalian merutuki kami bertingkah kampungan di Jakarta, sementara kalian bertingkah lebih kampungan di kota kami.

Kalian mengeluh kedatangan kami mencari rezeki di Jakarta, sementara sumber rezeki kami disini satu demi satu kalian bawa ke Jakarta.

Kalian berteriak supaya kami jangan datang ke Jakarta sementara tanpa sadar kalian menunjukkan pada kami bahwa Jakarta adalah segalanya.

Kami masih tahu diri untuk tidak banyak menuntut.

Hanya satu permintaan dari kami.

Harap kalian juga tahu diri.

Dari penduduk Muntilan yang halaman rumah neneknya pernah kedatangan mobil plat B yang diparkir sembarangan

31 Comments

  1. andi Reply

    Sorry tapi saya ngga ngerti ini tulisannya mau “nembak” siapa yah?
    Dan dalam tulisannya ada yg cukup membingungkan
    Belanja baju org Jakarta dan apa hubungannya dgn org yg di Kampung Halaman?
    Setau saya sih kalau org” Jakarta tuh belanja mendekati hari H yah rata” di Jakarta.
    Jadi ngga ada korelasi langsung antara org Jakarta yg beli dan org yg di Kampung Halaman yg mengelus dada?

    Sorry saya org Jakarta yg kuliah di Jogja, mau dikritik Jakarta ga papa juga sich.
    Cuma pas baca tulisannya ini kok bingung arahnya kemana.

    πŸ˜€

    Semoga berkenan menjelaskan.

    1. Fakhri Zakaria Reply

      Terima kasih mas Andi

      Tulisan ini adalah pengalaman personal saya sebagai penduduk kota kecil Muntilan yang tiap Lebaran berbondong-bondong didatangi dan dilewati oleh pemudik (juga wisatawan) dari Jakarta.

      Semua yang saya tulis disini adalah pengamatan saya sejak saya SMA sampai Lebaran kemarin. Juga hasil tukar cerita dengan teman-teman yang nasibnya sama dengan saya.

      Tentang kebingungan mas Andi,semuanya pernah saya rasakan. Bagaimana kami cuma bisa jadi penonton saat mereka kalap saat membeli. Mereka ingin diperlakukan jadi raja kecil. Imbasnya ya terasa pada kami, yang biasa membeli dalam jumlah kecil. Pelayan toko “terpaksa” tidak menggubris kami yang biasa berlangganan disana

      Mungkin penjelasan tadi bisa menjawab kebingungan mas Andi. Terima kasih πŸ™‚

      1. Pria Biru Reply

        Sesekali dalam setahun mungkin sebaiknya dinikmati saja sebagai romantika…
        bersyukurlah tinggal diwilayah yang selalu didatangi Jakartans setahun sekali sebagai daerah wisata kuliner dan sandanger sehingga tak perlu repot-2 datang ke Jakarta mencari rejeki karena Jakartans sendiri yang datang kesana mengantarkan rejeki…
        makanan enak banyak di Jakarta, apalagi cuma bakmi tapi yang dicari adalah sensasinya…
        jangan sampai tulisan ini pada akhirnya memberatkan Jakartans untuk kembali kesana hanya karena curhatan personal tapi merugikan secara massal….
        Masalah buruknya moral Jakartans adalah masalah personal mereka…tolong jangan dipukul rata..no body perfect kata orang bijak…

        Maaf saya juga akhirnya curhat disini…jujur saya baru beberapa kali ke jogya dan ke muntilan waktu ke borobudur dan saya selalu rindu tempat ini karena sensasinya yang tak kami dapat di Jakarta…masih bolehkah kesempatan untuk singgah sekali lagi…?

        Salam kenal dan salam pertemanan…
        keep blogger hood
        peace….

  2. Ferry Kurniawan Reply

    keliatannya ndak sekedar keliatannya ndak sekedar masalah kota muntilan deh……….

    kota saya jogjakarta pun mengalami hal yang sama………..

    lebaran yang bener2 lebaran hanya D day nya, hari2 berikutnya merupakan neraka bagi saya penduduk jogjakarta

    mau kemana2 mana macet……….. mau masuk malioboro saja antri nya sudah sampe kantor KR.

    sudah masuk malioboro, mau keluar nya lewat beringharjo juga susah………..

    padahal saya merasa kota saya jogjakarta ndak ada apa2 nya utk dilihat, dinikmati kulinernya…………

    ttp kenapa para jakartans ( pinjem istilah ya mas ) pada ke kota jogja…………

    1. Fakhri Zakaria Reply

      Thanks komentarnya mas Ferry

      Sebenernya saya pribadi ga masalah dengan macet dari mobil-mobil mereka. Atau sulitnya cari makan karena sudah habis diborong duluan. Itu rejeki kok buat yang bakulan. Tapi mbok yo tata kramanya itu lho. Dijaga πŸ™‚

      p.s: komennya saya edit dikit ya pas bagian terakhir πŸ™‚

  3. Afiat Anang Reply

    wangun tenan masjaki tulisan sui iki..
    mewakili perasaan tenan…
    blog e jenengan apik2 tulisane, mantep tenan cah muntilan

      1. Afiat Reply

        lor sawitan(lor kabupaten) mas papan tepate, caket jembatan anyar arah rambeanak-paremono,

        Namun sakniki sek melu-melu njajal dadi jakartans, depokians deng, dadi penduduke NurMahmudi
        Ndikek sok mangkel nek dino riyaya karo wong jakarta seng sok gaweni macet, tapi sakniki malah melu2 ng jakarta,,, hhe

          1. Afiat

            rasah boso mas jak, dadi ngroso tuo kulo mas,

            aku luwih enom seko jenengan kok,
            aku seng kudune boso karo jenengan ya… hehe.

  4. aryan Reply

    Semoga nggak kejadian lagi ya mas. Itu yang begitu itu di Jakarta juga dicap kampungan kok…

    (semoga saya nggak perlu menjelaskan konteks kampungan di sini)

    Salam πŸ™‚

Leave a Reply to v Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *