Sephia: Sebuah Kisah Klasik untuk Kekasih Gelap

Kekuatan Sephia adalah berhasil mengubah dirinya menjadi sebuah representasi para kekasih gelap.

“Parah ini lagu…”

Ucapan Bimbim, drummer Slank, dalam sebuah wawancara televisi beberapa tahun silam mengejutkan saya. Bagaimana motor dari salah satu icon rock n roll Indonesia itu mengakui muatan-muatan berbahaya yang ada di tiap-tiap bait lagu berjudul “Sephia” milik Sheila On 7. Sekali lagi Sheila On 7.

Tiga belas tahun silam, Sheila On 7 merilis album keduanya, Kisah Klasik Untuk Masa Depan. Catatan penjualan yang masih perlu diperdebatkan, ya ini PR besar industri musik Indonesia, menyebut angka 1,7 juta kopi. Angka ini sekaligus menghapus kutukan sindrom album kedua yang acap ditemui di band-band baru yang mereguk angka penjualan manis di album pertama.

Tapi hal itu bukanlah satu-satunya yang membuat album ini perlu mendapat kredit khusus. Diantara lagu-lagu hits seperti “Bila Kau Tak Disampingku”, “Sahabat Sejati” juga “Sebuah Kisah Klasik”, terselip nomor berdurasi nyaris lima menit berjudul “Sephia”. Durasi yang sulit ditemui di lagu-lagu pop yang tumbuh di era RBT dewasa ini.

Hey Sephia
Malam ini kutakkan datang
Mencoba tuk berpaling sayang
Dari cintamu

Hey Sephia
Malam ini ku takkan pulang
Tak usah kau mencari aku
Demi cintamu

Hadapilah ini
Kisah kita takkan abadi

Selamat tidur kekasih gelapku (o…Sephia)
Semoga cepat kau lupakan aku
Kekasih sejatimu takkan pernah sanggup untuk melupakanmu

Selamat tinggal kasih tak terungkap (o…Sephia)
Semoga kau lupakan aku cepat
Kekasih sejatimu takkan pernah sanggup untuk meninggalkanmu

Hey  Sephia
Jangan pernah panggil namaku
Bila kita bertemu lagi di lain hari

Hadapilah ini
Kisah kita takkan abadi

Duta bernyanyi malas di bagian awal lagu, hanya ditimpali genjreng gitar elektrik. Setelah mengucap kisah kita tak kan abadi, lagu berhenti beberapa detik. Suara tarikan nafas Duta seakan menggambarkan ada keputusan berat yang harus diambil antara tokoh Aku dan Sephia. Suara cello semakin membuat kisah cinta “Sephia” ini dramatis. Emosi lagu lalu dinaikkan dengan balutan string section khas Sheila On 7 yang mendominasi dari sebelum reffrain sampai lagu ini berakhir.

Seno Gumira menyebut kisah si Sephia sebagai kisah cinta segitiga yang lumayan seru. Sang Kekasih Sejati mencintai Sephia, Sephia mencintai Aku, dan Aku telah memutuskan meninggalkannya. Meminjam teori cinta milik Erich Fromm, Seno menyebut cinta milik Aku ini lebih dewasa daripada cinta Sephia karena Aku tidak memberi sebagai pengorbanan.

Pelabelan kekasih gelap pada “Sephia” berhasil membuatnya menjadi icon. Menjadi representasi para kekasih gelap. Eross Candra sebagai pencipta lagu mengubah Sephia selaku subyek menjadi obyek. “Sephia” adalah tindakan dalam hubungan gelap percintaan. Para kekasih gelap menemukan identitasnya yang selama ini tertutupi (atau terpaksa ditutupi?)

“Sephia” lalu menjadi sosok  tak terpisahkan dari Sheila On 7, mengalahkan nama-nama lain yang ada dalam diskografi band tersebut seperti Rani, Niah, Khaylila ataupun yang terakhir Ibu Linda. Formula lagu hubungan gelap dengan set waktu malam hari beserta bumbu aura misterius didalamnya membuat “Sephia” menjadi populer. Eross seperti paham karakter perilaku manusia selaku makhluk sosial.

Psikolog Melvin. H Marx menyebut motif ingin tahu (curiousity) sebagai salah satu kebutuhan organis manusia. Hubungan gelap seperti kisah Sephia selalu memunculkan kecurigaan yang memancing rasa ingin tahu. Latar waktu malam hari lewat nukilan lirik malam ini kutakkan datang dan malam ini kutakkan pulang menambah teka-teki itu.

Terlebih lagi, lagu ini diselimuti kabut misteri tentang siapa sebetulnya sosok Sephia. Ada yang menyebut Sephia adalah sosok dalam kisah cinta Eross. Bahkan santer juga terdengar jika Sephia sebetulnya adalah sosok makhluk ghaib yang menghubungi Eross lewat telepon untuk dibuatkan lagu.

Dalam situasi seperti ini, lanjut Melvin, orang cenderung tidak sabar dalam suasana ambigu dan tidak menentu. Mereka kemudian sibuk mencari-cari jawaban sendiri. Sama seperti yang dialami oleh Sephia. Orang dipenuhi rasa ingin tahu siapa sebetulnya Sephia dan bagaimana akhir dari petualangan cintanya.

Kisah Sephia juga tidak bisa dilepaskan dari aspek sosial dalam penciptaan lagu tersebut. Sebagai salah satu produk media, Sephia  tidaklah berada dalam ruang hampa. Sephia berkaitan erat dengan latar belakang personal Eross sebagai pencipta lagu hingga kondisi sosio-politik Indonesia saat itu.

Meski penuh aura gelap-gelapan, Eross dengan frontal menggambarkan Sephia sebagai kekasih gelap. Mengejutkan mengingat latar belakang sosio kultural Eross sebagai pria yang tumbuh besar di Yogyakarta, daerah yang disebut-sebut sebagai poros  nilai dan norma budaya Jawa.

Eross yang lahir tahun 1979 saat itu baru berusia 21 tahun dan masih bujang. Masih masuk kategori joko, sinoman atau anak muda. Jika merujuk pada penjelasan Hilderd Geertz tentang keluarga Jawa maka tindak-tindak Eross lewat Sephia tentu membuat dirinya dicap sebagai durung Jowo atau belum Jawa. Keluarga Jawa mengharapkan anaknya jadi penurut, sopan serta pandai mengendalikan diri, termasuk dengan tidak mengumbar skandal asmara seperti yang dituliskannya dalam Sephia.

Dalam ranah yang lebih luas lagi, lagu ini hadir saat Indonesia masih menikmati euforia reformasi 1998. Kran kebebasan media mulai dibuka dengan dibubarkannya Departemen Penerangan. Jika lagu ini hadir saat rezim Orde Baru masih berkuasa, boleh jadi Eross harus merasakan gunting sensor yang terkenal tanpa ampun namun standarnya tidak jelas. Betharia Sonata dan Obbie Mesakh misalnya, pernah kena cekal karena lagu-lagunya yang dianggap cengeng dan penuh keputusasaan. Kata-kata kekasih gelap bisa jadi dianggap Harmoko tidak sesuai dengan kepribadian bangsa. Pendeknya, momentum lagu ini tepat.

Jika ditilik dari sudut ilmu publisistik, “Sephia” sudah layak menjadi bahan berita. Klasifikasi nilai berita dari John Galtung dan Mari Homboe Ruge, yang menjadi referensi klasik perihal penentuan nilai berita, menyebut Unexpectedness atau ketidakbiasaan sebagai salah satu sebauh persitiwa layak jadi berita. Keberanian “Sephia” menampakkan diri sebagai kekasih gelap jadi suatu hal yang luar biasa, baik itu dari segi latar belakang kultural Eross selaku pencipta lagu maupun dalam konteks lirik lagu-lagu Indonesia populer kala itu.

Kriteria nilai berita yang lain diajukan oleh Denis MacShane menyebut skandal dan konflik sebagai salah satu nilai berita. Kisah cinta antara Sephia, Aku, dan Kekasih Sejati-nya Sephia. Skandal sudah diungkapkan secara lugas lewat selamat tidur kekasih gelapku dan selamat tinggal kasih tak terungkap. Tokoh Aku seakan menyadari bahwa kehadirannya akan menggangu hubungan Sephia dan Kekasih Sejati (Hadapilah ini kisah kita takkan abadi …Kekasih sejatimu tak kan pernah sanggup untuk melupakanmu ). Dan sebelum konflik makin runyam, Aku memutuskan malam ini tak akan datang dan mencoba untuk berpaling sayang dari Sephia.

Inilah yang membuat “Sephia” hingga sekarang tetap berbeda dengan lagu-lagu bertema perselingkuhan yang kini menjadi semacam lagu wajib untuk musisi-musisi arus utama. Mungkin hampir semua musisi-musisi sekarang menampilkan tema perselingkuhan sebagai materi andalan.

Band-band pop seperti Ungu, ST12 sampai band-band medioker sekelas Govinda dengan vulgar menjejalkan kata-kata seperti kekasih gelapku, selingkuh, atau simpanan. Ya, itulah tren. Suatu kewajaran dalam industri musik. Tapi sepertinya mereka lupa prinsip tak tertulis dalam hubungan gelap. Jangan bilang siapa-siapa. Ooo..o..kamu ketahuan!

16 Comments

  1. Rafael Yanuar Reply

    Selain tema tentang perselingkuhan, Sephia menjadi “berbeda” karena Sheila on 7 jarang memakai nada minor dalam lagu-lagunya.

    Suasana sembunyi-sembunyi sudah dibangun (dengan baik) melalui bisikan di lirik monumental, “Selamat tidur kekasih gelapku.”
    Vokal Duta di sini juga kedengarannya pasrah banget, hehehe.

    Oh, satu lagi, dulu ada yang bilang, Sephia bukan nama, tapi ungkapan, artinya “selingkuhan bagi yang kesepian.”

  2. muhamad halil Reply

    may i post this article to my Blog ? i’m a sheilagank, i just search about a story of SHEILAON7, but suprsely i found this article, so i was interested to post it on my blog,.. ^^ ofcourse i’ll mention ur name even ur site on my blog.. may i ?

  3. Biondi Reply

    wowwww sheila on 7?? saya suka band ini, sy punya albumnya komplit plit plit, yg sy kumpulin dr jaman SMP..hehe
    jadi kangen masa lalu..hadeuh..
    thnks buat infonya..

  4. wawaney Reply

    dulu, dalam upaya membetulkan “moral” lagu ini, saya dan teman-teman suka nyanyi: “begadang jangan begadang” dijawab “sephia” terus dilanjut “kalau tiada artinya” dijawab “sephia” dan dilanjutkan “begadang boleh saja…… asal sama sephia”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *