9 Tipe Penonton Konser Musik

Konser musik tanpa penonton seperti gedang goreng ra digandumi, podo wae ngapusi. Ya, penonton adalah salah satu ruh dalam pertunjukan musik. Joko Anwar di Janji Joni memberi klasifikasi karakter penonton bioskop dengan pendekatan humor yang nyinyir namun terasa nyata. Kesepuluh tipe penonton itu adalah penonton cari perhatian, penonton piknik, penonton pacaran, penonton pembajak, penonton spoiler, kritikus film, penonton ponsel, penonton tidur, penonton telmi, dan terakhir penonton perfeksionis.

Dan kali ini simaklah tipe-tipe penonton dalam konser musik. Penentuan tipe ini amatsangatpisan subyektif, jadi kalau ada yang kurang berkenan mohon dimaklumi saja. Kalo gak suka ya situ bikin daftar sendiri. Jangan ngeyel-ngeyel kayak FPI ah.

1. Penonton Penasaran
Sesuai namanya, penonton tipe ini adalah orang-orang yang penasaran. Tipe penonton ini dipilah lagi menjadi dua kubu. Pertama adalah mereka yang penasaran akan artis pengisi acara. Ini jamak ditemui di konser-konser band atau musisi baru yang tengah membius perhatian publik dangan satu atau dua lagu hits saja atau istilah kerennya one hits wonder.

Di sudut lain adalah mereka yang kebetulan lewat di arena konser dan penasaran ada keramaian. Lalu mereka mencari tahu sumber keramaian itu. Tipe ini biasanya adalah mereka yang tidak tahu mau mengisi malam panjang dimana, dengan siapa dan berbuat apa (lah kok malah manggil Yolanda ???), jadi mereka berkeliling sudut kota, siapa tau ada yang nyantol

2. Penonton Gengsi
Musik jazz telah naik kasta dari musik pengisi waktu senggang budak-budak kulit hitam di New Orleans pada jaman baheula, menjadi musik yang wah, berkelas. Kalo kata kamus temen saya, glamor. Nah kesan wah dari musik jazz itu yang mendorong orang-orang untuk nonton dengan tujuan, salah satunya, menaikkan gengsi. Suatu ketika teman saya cerita dirinya baru saja nonton konser jazz (gratisan) yang diadakan salah satu perusahaan rokok.

Saya                 : Tumben amat nonton jazz. Suka ?
Temen (T)          : Ya, gak terlalu juga sih
S                      : Lah terus nonton buat apa ?
T                      : Biar glamor…..

3. Penonton Mabuk
Ciri-cirinya gampang. Mereka selalu menenteng botol yang dibungkus kantong plastik. Posisinya di depan panggung atau malah di pojokan venue yang sepi. Begitu didekati tercium aroma-aroma khas.  Dan mereka yang seringkali memicu terjadinya kekacauan di konser musik. Terdaftar sebagai anggota GPK. Gerombolan Pengacau Konser

4. Penonton Jebolan
Ini juga salah satu GPK. Mereka adalah makhluk-makhluk penunggu gerbang, memaksa untuk masuk ke venue dan menikmati konser tanpa bayar. Tanpa bayar sekakli lagi saudara-saudara. Mereka tak segan-segan bertindak anarkis, karenanya panitia seringkali tak mau ambil resiko. Biasanya panitia membuka gerbang saat pertunjukan berjalan separo. Jadi kalau setlist nya ada dua puluh lagu, di lagu kesepuluh gerbang dibuka. Dan asu-nya, penonton tipe ini masih saja membuat rusuh di dalam. Ibaratnya di kasih ati malah minta yang jual ati.

Saya pernah punya pengalaman menggelikan saat nonton konser. Kebetulan teman saya ada yang ikut sekte ini. Dia menunggu di luar arena , berharap ada jebolan. Benar saja, panitia akhirnya membuka gerbang, tapi tunggu dulu saudara-saudara. Itu terjadi di lagu terakhir, saat drummer band pengisi acara melakukan pukulan terakhir di bedug inggrisnya.  Dan saya sekelabat melihat teman saya yang hanya bisa tercenung meratapi nasib…..

5. Penonton Pacaran
Konser yang ramai mendadak sepi bagi mereka yang tergabung di geng mbojo  ini. Apalagi kalau pengisi acaranya adalah musisi yang beken dengan lagu-lagu romantis, dijamin pelukan dan dekapan bakal makin lengket seperti lem tikus. Ah yang lain kan cuma indekos neng…

6. Seksi Dokumentasi
Sepertinya tipe penonton ini bisa merangkap sebagai seksi dokumentasi konser musik. Saat arena bergemuruh dengan hentakan musik  dan bumi serasa goyang karena penonton yang berlompatan, mereka tetap tenang dengan senjata andalan masing-masing. Ponsel berkamera, kamera foto, atau kamera video. Seiring dengan majunya teknologi, tablet PC yang ukurannya sebesar nampan juga dijadikan alat dokumentasi. MUngkin besok-beok ada yang selo bawa laptop atau PC di rumah. Sekarang saya jadi heran. Yang saya tonton itu konser musik apa konser gadget?.

7. Penonton Cari Perhatian
Acapkali ditemui dalam festival band yang menjadi ajang kompetisi band-band yang baru merintis karir musik. . Mereka adalah pihak yang paling pertama bersorak girang kalau musisi yang ada di pentas melakukan kesalahan. Dan tipe penonton ini juga bisa disebut tipe penonton tape singkong. Cuma berani bersorak kalau teman-teman mereka ada. Kalau cuma sendiri, mereka lembek seperti tape singkong

8. Penonton Niat
Inilah cermin ideal seorang penonton. Datang tepat waktu sesuai jam yang tertera, masuk dengan tiket dan menikmati perunjukan sebagaimana mestinya. Mereka umunya fans dari musisi pengisi acara. Karenanya mereka juga sedikit-sedikit mencari kesempatan untuk dekat dengan idola, entah sekedar foto bersama, minta setlist ke panitia setelah konser selesai untuk memorabilia atau minta tanda tangan di kaos.

Tipe penonton niat ini ada tingkatannya. Pertama yang niat pol-polan, mereka menikmati keseluruhan konser, sejak gerbang dibuka, musisi pembuka mengantarkan acara, sampai ke inti pertunjukan dimana musisi idola mereka tampil. Kedua yang setengah mateng. Ya mereka ini datang pas musisi kesukaan mereka tampil saja. Biasanya mereka sudah mengantongi perkiraaan jam berapa musisi pujaaan mereka naik pentas

9. Loyalis
Derajat tertinggi semua penonton konser pantas disandingkan pada mereka . Dari pentas organ tunggal nikahan di kampung sampai konser musik sekaliber Soundrenaline. Hampir dipastikan mereka selalu ada di tiap keramaian.  Jauh sebelum itu venue ramai penonton , saat panggung masih ditata pun mereka sudah hadir. Mereka baru benar-benar pergi saat arena tinggal benar-benar sepi. Tinggal menyisakan sampah-sampah yang diterbangkan angi. Gampang saja mengenali mereka karena mereka punya kode-kode yang khas
Aqua..qua..qua, yang haus, yang haus, aqua..qua..qua….

Jadi situ masuk yang mana?

6 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *