Kaset Tak Sampai

Seminggu kemarin saya mengambil jatah cuti tahunan. Jatah waktu 5 hari saya gunakan untuk pulang ke kampung saya di Muntilan, dan juga kota tercinta Jogjakarta. Selama sepekan saya menghabiskan waktu dengan kegiatan-kegiatan yang mungkin dinilai tidak produktif oleh Jakartans: SELO.

Salah satu keseloan saya adalah mengunjungi toko kaset langganan, yang kini jadi satu-satunya, di Muntilan. Namanya toko kaset Kartika. Menyatu dengan toko mas dan arloji bernama sama. Letaknya di tengah kota Muntilan. Tepatnya di Jalan Pemuda, hanya beberapa langkah dari kelenteng Hok An Kiong. Pasti dilewati dalam perjalanan dari Jogja ke Magelang.

Seingat saya Muntilan punya 2 toko kaset. Satu lagi bernama toko kaset Jago. Tempatnya juga menyatu dengan toko mas dan arloji Jago. Mungkin kaset adalah barang mewah jadi letaknya disatukan dengan toko perhiasan hehe.

Saat saya SMA, tepatnya antara tahun 2002-2005, dua toko kaset ini adalah jujugan saya tiap bulan. Setiap mendapat uang hasil jualan koran bekas atau sangu dari pakde, saya segera menghabiskannya disini.

Untuk ukuran kota kecil seperti Muntilan, dua toko kaset ini lumayan lengkap koleksinya. Album-album terbaru dari artis-artis arus utama baik dalam dan luar negeri mudah ditemui. Kalau yang indie-indie agak susah. Harap maklum. Tapi album My Diary-nya punya Mocca sempat mampir lho.

Menginjak medio 2004-2005, keberadaan toko kaset ini terusik dengan maraknya counter-counter telepon selular yang menyediakan layanan pengisian koleksi lagu berformat mp3 yang tentunya ilegal. Juga lapak-lapak CD bajakan di pasar dan terminal Muntilan. Saya pun mulai beralih moda konsumsi ke CD. Saya ingat kaset terakhir yang saya beli disini adalah album Siang milik Jikustik.

“Udah gak ada,” kata Kokoh (panggilan orang Tionghoa untuk lelaki yang lebih tua) Hong, pemilik toko kaset Kartika sambil mengibaskan tangan. Saya memang ingin bertanya tentang nasib salah satu tempat favorit saya di Muntilan, selain terminal bis, yang boleh dibilang hampir sekarat.

Bayangkan. Rak kaset yang dulu sampai empat buah dan dipenuhi beragam koleksi kini tinggal ada dua. Itupun isinya koleksi lama yang menunggu untuk dimasukkan gudang atau dilego.

Dia lalu beranjak dari kursi malasnya untuk menemui saya. “Sudah males gak mau mikir,”. Tapi saya berhasil membuat penyuka musik blues ini untuk sedikit bicara tentang tokonya. Sila disimak

Koh, saya cari kaset Waldjinah kok gak ada yang baru ya? Adanya kaset lama. Sampulnya sudah mblawuk (lusuh)

Wah, sudah gak ada yang baru. Sudah 6 bulan gak disetori agen dari Semarang. Sudah mau saya tutup

Tapi ini masih dipajang koleksinya?

Daripada kosong. Mau diapakan?. Mau usaha lain juga apa? Ekonomi lagi sulit gini.

Mulai kapan Koh jualan kaset jadi sepi begini?

Mulai orang-orang pada kenal CD. Mulai gembos. Terus komputer. Sekarang kan gampang menuhi lagu dari komputer. Mau berapa lagu juga gampang

Lha kok gak coba jual CD ?

CD siapa yang mau beli? Paling murah 40 ribu, malah kalo yang barat sampe 220ribu. Dulu sempat ada yang nitip, tapi jualnya susah, ndak laku-laku. Saya bilang kalo nitip ya sini. Tapi aku ndak mau kalo suruh jualin (tertawa)

Kecuali CD yang sepuluh ribu dapat tiga itu. Itu wae pake nawar (tertawa). Kalau mau jual CD paling ya yang ilegal. Saya ndak berani ambil resiko. Nanti malah dicari-cari. Wong sudah mau pensiun.

Orang daerah kayak disini yo pada rewel. Dulu kaset masih disegel besoknya ditukar. Katanya suaranya jelek. Apalagi CD. Sulit.

Tapi di pasar Muntilan banyak, Koh?

Di pasar kan gampang. Habis ya tinggal kukut (tutup lapak). Lha disini kan toko. Sana juga katanya setorannya kuat.

Semua kaset disini asli, Koh?

Asli dong. Disini semua original. Kaset yang harganya cuma 5 ribu isinya suara burung juga original (tertawa)

Dulu mulai jual kaset tahun berapa, Koh?

Lupa. Sekitar 80an lah

Karena suka musik, Koh?

Ya karena duit to. Kan namanya usaha ya cari duit to? (tertawa). Jaman 80an kaset pas booming ya jualan kaset. Tapi anak sekarang gak kayak dulu. Kayaknya pada ngirit-ngirit kalo sekarang. Pada gak suka beli kaset.

Lha kalo Koh Hong sendiri suka dengar musik ndak?

Suka. Saya suka blues. Pokoknya semua blues saya suka.

Dulu kenceng-kencengnya jualan kaset taun berapa Koh ?

Lupa. 90an lah. Sampai harus indent ke agen. Kalo gak indent, cash bayar di depan ya gak dapet barang

Sampai sekarang yang cari kaset masih ada?

Ya jarang-jarang.

Yang dicari biasanya apa ?

Lupa. Macem-macem. Dulu waktu booming kaset masih ngikuti. Jadi tau maunya apa yang bagus buat dijual.

Gak coba ditawarin ke kolektor, Koh?

Kolektor itu susah. Rewel. Kalo kasetnya berseri kudu lengkap. Belum sama suaranya. Ini cuma habisin stok. Mungkin kalo gak ada yang mau beli lagi ya saya tutup. Apa situ mau mbeli semua? Saya kasih setengah harga (tertawa).

Saya lalu beranjak ke rak kaset. Melihat beberapa koleksi yang tersisa. Lihat, masih ada kaset album Nirvana Unplugged In New York dengan sampul kecoklatan tanda lusuh. Juga kaset Brandalisme, album ketiga milik The Brandals.Tapi yang saya pilih adalah OST. Ada Apa Dengan Cinta garapan Melly Goeslaw dan Anto Hoed.

Pertimbangan saya, ini adalah salah satu cetak biru OST film Indonesia selain album OST. Badai Pasti Berlalu. Album ini juga jadi pencapaian tertinggi Melly di bidang soundtrack film sebelum makin jatuh ke titik nadir setelah menggarap soundtrack semacam Bukan Bintang Biasa.

“Tinggal segini mbak kasetnya ?” tanya saya pada pramuniaga. “Habisin barang mas. Udah gak kulakan lagi, yang beli yo cuma sedikit,”.

Setelah membayar, saya beranjak ke toko Jago. Saat saya melewatinya bulan Mei kemarin, Jago masih menjual kaset. Namun saat saya menyambanginya untuk kedua kali, etalase kaset sudah diganti dengan etalase yang penuh berisi aneka rupa perhiasan.

Ah, saya tak kesampaian.

7 Comments

  1. Zaki Reply

    kapan-kapan mampir Surabaya masberoo. Tak ajak ke Nggembong, berburu kaset. Tapi bekas. Tapi buanyaakk pilihannya masbro. hehehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *