Yang Terbalas di 2012

Terlalu cetek menjadikan pergantian tahun hanya sebagai ajang hura-hura tiup terompet. Buat saya, pergantian tahun adalah saat bagi diri untuk menengok ke belakang. Melihat apa-apa yang sudah digarap dalam setahun belakangan.

Boleh dibilang saya mendapat banyak hal-hal impian saya di tahun yang katanya jadi Tahun Kiamat Internasional. Sepertinya kalau memang dunia benar-benar kiamat saya bisa mati dengan tenang hehe.

Baiklah, inilah semua doa dan harapan saya yang terbalas di tahun 2012.

Pergi ke Iran

Iran

Baru saja membuka kalender saya mendapat tugas yang menyenangkan sekaligus membuat ketar-ketir. Menyenangkan adalah bertugas lagi ke luar negeri setelah sebelumnya ke Thailand pada tahun 2011 (status saya saat itu baru 8 bulan kerja). Dan yang bikin was-was adalah negara tujuannya. Iran. Negerinya Ahmadinejad yang saat itu tensinya lagi tinggi pasca blokade selat Hormuz.

Saya sudah berpikiran macam-macam. Antara jadi pengungsi yang ditampung di KBRI atau yang paling pahit, mati dan dikubur di negeri para Mullah sebagai korban perang. Syukurlah semuanya tidak kejadian. Hanya maag yang kambuh karena mencoba kopi disana serta penyakit khas musim dingin. Biduran. Yang jelas, saya belajar tentang kesederhanaan dan kebersahajaan ketika menapaki kaki di Tehran yang skalanya mungkin jauh sekali jika dibandingkan Jakarta yang genit. Cerita lengkapnya ada disini

Wawancara terbaik

Konser Ulang Tahun Sheila On 7

Bukan karena Sheila On 7 adalah salah satu band idola saya. Tapi dari sekian kali wawancara yang pernah saya lakukan, inilah wawancara terbaik untuk saya. Sejak muncul kabar mereka akan menggelar konser ulang tahun ke-16 bulan Mei lalu saya sudah mengantisipasi jauh hari. Dari tiket pesawat pergi pulang sampai tiket konser sudah aman.

Meski saya bisa saja meminta ke editor untuk melakukan peliputan, tapi saya ingin datang sebagai fans hehehe. Tapi beberapa hari sebelum konser pikiran saya berubah. Terlebih belum ada tanda-tanda kontributor Rolling Stone Indonesia wilayah Jogja yang mau ambil liputan ini. Editor saya, mas Wendi Putranto, memberi lampu hijau.

Saya selalu ingat kata-katanya. Jangan pernah wawancara dengan kepala kosong, itu sama saja cari mati. Tentu saya tidak ingin mengecewakan editor sekaligus band idola saya dengan pertanyaan-pertanyaan klise maha bodoh. Saya jelajahi berita-berita mereka dalam setahun terakhir untuk amunisi pertanyaan. Saat wawancara semuanya begitu mengalir. Saya banyak mengorek Eross Candra sebagai otak kreatif band kebanggaan Jogja ini. Sayang, saya tak terlalu banyak berbincang dengan Duta. Padahal dia selalu punya jawaban-jawaban bagus. Setidaknya dari dua kali kesempatan wawancara yang pernah saya lakukan. Wawancara ini dimuat disini. Kalau kamu malas buka link-nya, nih saya pajang disini.

Sheila On 7: Generasi Sekarang adalah Generasi Skip

Oleh : Fakhri Zakaria

 

Salah satu unit pop terbaik di Indonesia, Sheila On 7, pada Jum’at (18/5) kemarin menggelar konser 16th Anniversary Concert di kota kelahirannya, Jogjakarta. Disela-sela persiapan konser yang disaksikan  sekitar 4500 orang tersebut, Rolling Stone menemui secara terpisah Achdiyat Duta Modjo (vokal), Eross Chandra (gitar), dan Brian Kresnoputro (drum). Minus bassis Adam M. Subarkah yang tengah melakukan sound check, band yang mencetak hattrick penjualan diatas satu juta kopi untuk tiga album pertamanya itu  menuturkan potret musik pop Indonesia hari ini, definisi ideal tentang  pop easy listening, juga bagaimana menjaga mood lagu dan kesolidan selama 16 tahun berkarya.

 

Apa makna 16 tahun untuk Sheila On 7 ?

Eross : Buat kita 16 tahun itu bersyukur yang kita alamin bukan cuma enak aja tapi pelajaran buat kita jadi dewasa. Berpikir lebih serius untuk jadi seorang manusia. Pada intinya 16 tahun di Sheila On 7 membikin kita jadi orang yang berguna di keluarga

Apakah saat dulu membentuk Sheila On 7 tahun 1996 terpikir langkah kalian akan sampai sejauh ini ?

 Eross: Sebenarnya kita gak nyangka angkanya sudah nyampe ke-16. Keliatannya kita baru kemaren. Kemaren aku ngambil salah satu CD album ketiga yang menurut aku belum terlalu lama. Pas aku lagi di toilet duduk pegang CD-nya iseng-iseng aku baca. Wah gila album ketiga aja udah sepuluh tahun yang lalu. Kita dulu memang berangkat dari suka main musik. Sama kayak anak-anak yang sekarang. Tapi orientasi sekarang orang main musik bisa aku bilang ada dua. Karena cari duit dan karena suka. Sampai hari ini kita suka pekerjaan ini. Kita dari awal gak mikirin apa bisa sukses ataukah tetap begitu-begitu aja. Yang jelas dulu aku ngomong ke anak-anak waktu kita mau ngasih demo yang pertama, “Kalo ini gagal nanti kita akan coba yang kedua, ketiga dan seterusnya. Sampai kita merasa tidak enjoy,”. Dan ternyata. pertama langsung dibukakan jalannya ya Alhamdulillah. Perjuangan kita dimudahkan. Sangat dimudahkan.

Duta : Enggak (tertawa). Tapi kita band yang punya cita-cita tinggi. Sebelum Sheila On 7 belum jadi aku punya panutan, punya contoh. Aku melihat band-band senior. Sekarang ternyata Sheila On 7 di fase itu. Banyak band-band muda tanya ke Sheila On 7. Artinya kita ada di track yang bener

Kehadiran Sheila On 7 mampu merubah industri musik Indonesia, terutama di ranah musik pop. Menurut anda sendiri apa faktor yang membuat Sheila On 7 mampu melakukan itu ?

Eross: Kalo aku bilang ada kaitannya sama timming. Pas banget dan sangat mencuri perhatian. Jadi kita sangat dimudahkan. Kita pernah punya momen yang bagus sekali jadi sekarang kita tinggal maintenance. Selain itu juga kerja keras anak-anak gak bisa dipungkiri. Saya masih inget banget dulu awal-awal karir ke Jakarta naik VW Combi-nya Duta. Bannya pecah kita tidur di jalan. Di Jakarta gak bisa makan. Itu udah kita alami semua. Dan saya inget banget kita gak pernah mengeluhkan itu. Kalo sekarang sih ya pasti sudah mengeluh, sudah berantem (tertawa)

Duta: Sebagai pemain band aku sendiri senang sama lagunya Sheila On 7. Dibilang narsis mungkin bisa. Tapi aku percaya diri dan optimis ketika lagu Kita ramai diputar di Jogja dan ternyata sampai Jakarta ada label yang mau. Tapi ada juga faktor luck. Tahun 1999 idola-idola musik yang ada lagi pada berantakan. Slank lagi kacau, Dewa vakum, GIGI tinggal Budjana sama Armand. Kalo aku bilang momennya pas  dan materinya juga bagus.

Saat kemunculannya, Sheila on 7 sudah mempunya cetak biru lewat pop easy-listening dengan aransemen simpel dan lirik yang lugas. Saat itu tak sedikit yang meremehkan anda. Saya ingat musisi Tamam Hussein pernah membedah lagu anda dan menemukan partitur-partitur lagu yang berantakan. Bagaimana anda menanggapi tanggapan-tanggapan itu?

 Eross: Gak masalah. Tidak semua orang mengerti yang jadi pemikiran orang jenius pada awalnya karena dia tidak nyampe (tertawa). Kadang sesuatu yang simpel bisa lebih agung dan long lasting daripada sesuatu yang rumit. Musik itu kan kaitanya dengan imajinasi.Orang-orang seperti itu yang imajinansinya gak nyampe. Toh kita bisa bertahan selama ini karena secara kualitas setiap hari kita semakin bagus. Beda dengan musisi yang gak mau belajar dan cuma memanfaatkan momen. Ada bakal buah yang masih hijau yang orang bisa tau ini bibit yang bagus ini yang gak bagus. Itu harus dibedakan. Kalo yang gak bagus ya udah disitu aja.

Lalu bagaimana Sheila On 7 melihat perkembangan musik pop Indonesia dewasa ini?

 Eross: Nah itu. Sekarang banyak bibit yang jelek, yang gak kemana-mana (tertawa). Gila deh. Gak bisa disalahkan juga, karena budaya single , budaya sangat instan. Beberapa dari mereka mulai main musik buat cari duit. Itu udah salah banget. Bikin single yang reff-nya catchy, dijual di  RBT , dapat uang tapi habis itu gak tau mau apa. Beda sama awal-awal SO7. Kita memang orang yang mencintai musik.

Duta: Justru sekarang pop yang bahkandibilang mainstream jaman Sheila On 7 dulu aja udah susah. Pergeserannya sudah jauh sekali kayak sekarang ada boyband lalu sempat dulu lagu Melayu. Kita sih pengen ada regenerasi. Apa yang kita mainin ada yang nerusin.

 

Lebih buruk?

 Eross: Ya lebih buruk lah. Rekaman dipermudah. Orang gak bisa nyanyi, gak bisa main gitar, gak bisa ngedrum gak bisa tempo, bisa aja take. Kalo dulu kan bener-bener belajar, bener-bener (memperhatikan, -pen) tempo. Sebenernya jadi musisi sekarang lebih susah. Jangan sampai terperosok sebagai musisi musiman. Musisi yang hanya dibantu sama alat yang gak punya skill mumpuni. Bukan skill full tapi musik kamu harus bisa dipertanggungjawabkan. Itu yang sekarang tidak terpikirkan karena teknologi semakin berkembang. Kalo aku bilang generasi sekarang adalah generasi skip. Gak perlu belajar dari bawah, langsung ke atas. Semuanya serba instan. Gak suka satu album cuma suka dua lagu download aja udah. Itu namanya generasi skip.

 

Lalu bagaimana definisi pop easy listening yang ideal dari kacamata Sheila On 7?

 Eross: Pop yang simpel itu tidak sesimpel sebenernya. Ada roots dan pakem yang harus dipelajari. Jadi yang kamu sampikan ke orang bisa berisi.  Roots-nya jelas. Oke main musik melayu. Menurutku musik melayu itu bagus. Bule aja gak bisa. Tapi musik melayu yang gimana? Ya musik Melayu yang kamu harus bener-bener belajar basic-nya. Jangan kamu main di area itu-itu aja. Yang liriknya dibuat asal-asalan. Semakin asal semakin gampang dikenal.

Bagaimana Sheila On 7 menjaga mood lagu-lagunya mengingat saat ini semua sudah masuk kepala tiga, berkeluarga dan punya anak? Sementara dulu saat kali pertama muncul anda semua masih muda.

 Eross : Itu yang masih saya pelajari sampai sekarang (tertawa). Dari 1999 sampai sekarang pasti ada perasaan, taste yang berbeda . Itu tidak bisa dipaksakan. Dan aku juga gak mau maksain bikin lagu yang kayak jaman dulu lagi. Selain aku gak mau juga aku gak bisa. Waktunya udah lewat. Aku harus bertahan dengan cara yang baru, gak tau gimana caranya. Kalo dulu saya bikin lagu kayak storyteller. Keseharian yang saya alami, cerita teman nonton TV, baca buku. Sekarang beda.  Saya pulang ketemu anak saya daripada main, ke bioskop.  Faktor regenerasi fans juga. Ada yang suka kita bawain lagu-lagu lama, sementara fans yang baru kenal Sheila On 7 diem aja. Begitu juga sebaliknya.

Duta : Nah itu yang susah. Easy listening sebenernya cap aja. Kita gak sampai  untuk mengkotak-kotakkan apa yang kita bikin. Kita berpikir lirik ini jujur. Itu yang dialami. Gak ada dilebih-lebihin, make-up story semacamnya. Lirik kita pasti terus berkembang. Yang pasti lirik gak sok putisi tapi maknaya luas,. Kita gak memaksakan seperti pusisi. Sebenarnya banyak kata-kata yang dipakai sehari-hari. Pokoknya yang kita bikin ya sesuai hati nurani dan hasilnya orang yang ngikuti Sheila On 7 senang juga

Tapi lagu Generasi Patah Hati di album Pejantan Tangguh seperti menunjukkan bahwa Sheila On 7  sudah berhadapan dengan fase yang berbeda ya?

 Eross: Waktu lagu itu dibikin aku belum married. Duta yang udah married dan anak-anak kru juga mulai menikah. Mereka bercerita ternyata punya keluarga itu punya tanggung jawab. Seorang laki-laki setelah menikah mereka pasti punya visi berbeda. Dan itu aku rasain. Atmosfernya di S07 udah mulai berubah. Kita gak semuanya bujang lagi. Disitu aku dapet kata-katanya ,”Ku bekerja siang dan malam…”. Kita tour siang dan malam di perjalanan buat anak dan istri bahagia.

Saya amati mood-nya lalu kembali lagi di album Menentukan Arah ?

 Eross: Aku gak mau bohong bahwa aku bisa aja bikin sesuatu yang rumit yang aku suka. Tapi sekarang Sheila On 7 di industri. Kalo Sheila On 7 rodanya gak berhasil muter akan banyak roda lain yang gak akan muter dan akhirnya menyengsarakan banyak orang. Kita harus pinter, bisa dikatakan, manipulasi juga . Kamu dapat ide dari sesuatu yang berat. Bagaimana caranya kamu menerjemahkan ke dalam sesuatu yang ringan. Yang orang suka. Orang berpikiran ini lagu simpel sekali, cuma dapetinnya gak simpel. Dari sesuatu yang lebih kompleks. Contohnya Sheila Gank (fans Sheila On 7 ,-pen) . Mereka sangat ingin sekali diwakili di lagunya Sheila On 7. Bisa dikatakan salah satu faktor kita main musik ya Sheila Gank. Mereka kayak tone control. Wah ini berlebihan mas aku terlalu berat. Itu harus kita pikirkan.

Masih ada keinginan untuk membuat album eksperimental seperti Pejantan Tangguh lagi?

 Eross: Pasti akan ada waktu kita buat balik ke era Pejantan Tangguh. Tinggal tunggu mood-nya

Dengan kondisi industri musik yang serba tidak pasti, bagaimana Sheila On 7 menjadikan faktor fanbase dalam Sheila Gank sebagai faktor penyokong eksistensi Sheila On 7 ?

 Brian: Sebenernya gak pernah ada niatan kita set secara sengaja jadi fans kita. Justru disaat banyak orang nanya Sheila On 7 kemana, orang-orang ini yang dengan lantang ngomong saya Sheila Gank. Mereka berkumpul, bikin organisasi , ada ketuanya . Dari situ mereka sounding ke kita. Sebenernya agak  kaget juga. Cuma kita percaya hal yang dibuat-buat gak bertahan  lama. Nah momen (konser ulang tahun ke-16 Sheila On 7, -pen) ini bisa dibilang Lebaran-nya Sheila Gank. Semua datang kesini, kumpul, kenalan, bikin kegiatan segala macem. Apapun aktivitas S07 dari manggung, di studio bikin album, mereka duluan yang kita sounding. Jadi mereka punya privilege ngerasa deket sama kita. Dari situ kita yakin Insya Allah akan lebih langgeng.

Faktor kecintaan pada musik serta dukungan fans. Inikah resep Sheila On 7 menjaga kesolidan hingga usia ke-16 ?

 Brian : Sebenernya Sheila On 7 bukan contoh band yang awet karena ada pergantian personel. Tapi kita berusaha memperbaiki hubungan personal, hubungan dengan SG. Buat orang angka 16 udah lama banget tapi buat kita ngerasa belum banyak yang kita capai. Poin yang kita pegang, kita melakukan sesuatu yang kita suka dan cintai.

Termasuk tetap suka merilis album fisik dan tidak terjebak arus jualan single dan RBT ?

 Brian :Jelas kalau itu. Buat Sheila On 7 kita masih berpikir patokan musisi ya album. Sampai detik ini kalau kita seneng sama band ya kita beli albumnya. Disitu kita bisa lihat totalitas musisi itu. Kalo cuma satu dua lagu gak cukup mewakili. Kita gak bisa pegang covernya. Ada hal yang lebih.

Duta: Sekali lagi kalo RBT Cuma buat appetizer aku setuju. Untuk main course aku gak setuju. Tetep CD

Termasuk juga lebih suka menetap di Jogja dan tidak mau ke Jakarta ?

 Brian : Gak lah, liat aja udah pusing (tertawa).

Eross: Lupa mau pindah ke Jakarta (tertawa). Kita berangkat saat masih 18-19 tahun, masih teenager. Kalo di Indonesia 18-19 tahun hidup sama orang tua gak aneh. Kebetulan dulu ibuku sama aku ngontrak. Jadi begitu sukses aku buat rumah untuk ibuku dan aku di Jogja dong . Habis itu malah keterusan dan keenakan. Selama 16 tahun ini bolak balik gak masalah. Nek mulih(kalau pulang, -pen)  ya ke Jogja

Tapi Sheila On 7 jadi jarang tampil di acara musik pagi ?

Eross: Ya itu kita terima gak masalah (tertawa)

 

Ada pesan untuk band-band yang akan memulai karier bermusik ?

 Eross: Pasti ada band yang lebih keren dengan Sheila On7. Yang belum keliatan. Pokoknya tetep percaya musik bagus akan tetep dihargai. Jangan melecehkan musik kalian sendiri. Aku tahu band-band sekarang yang ngetop beberapa dari mereka tidak memainkan musik yang mereka mau. Dan itu buatku memalukan sekali. Kalian, orang-orang yang masih percaya musik kalian dan melakukan apa yang kalian suka tidak mengikuti pasar, saya sangat menghargai itu. Kita sebagai musisi yang dikasih talent kalau sekali kita  mengeluarkan produk yang tidak bertanggung jawab, yang seadanya, yang seenaknya, dimana sumbangsih kalian sebagai manusia?.

Duta: Kecintaan kamu sama musik akan dilihat saat kamu enak dan gak enak tetep main musik . Main band sebetulnya gak seenak yang diliat. Gak ada yang enak terus.. Kalo mau liat enaknya doang gak akan berumur panjang. Pasti band karbitan.

Masuk nominasi blog musik terfavorit AXIS Blog Awards 2012

COBLOS!

Kaget juga ketika saya mendapat email dari AXIS yang provider telekomunikasi itu bahwa blog saya ini masuk dalam nominasi blog musik terfavorit. Padahal saya baru beberapa bulan membuka warung ini setelah sebelumnya jadi aktivis Multiply. Selain itu juga siapa sih saya?. Wong nama-nama yang lain sudah begitu menancap, seperti mas Widiasmoro, Hasief, dan Samack. Tapi ya namanya rejeki, siapa yang tahu hehe. Kata mereka, blog saya ini inilai sukses dalam memberikan informasi, hiburan dan kisah-kisah inspiratif yang sesuai dengan bidangnya masing-masing. Kata mereka sih…

Nah supaya bisa menang saya kudu ngajak orang sebanyak-banyaknya buat vote. Sebenarnya malas juga sih beginian. Tapi ya namanya juga usaha. Terima kasih untuk teman-teman yang sudah mendukung. Juaranya sih saya udah tau siapa. Mas Widiasmoro. Buat yang menaruh perhatian di isu-isu seputar bisnis musik, ini orang yang paling bener buat jadi bahan pelajaran. Sedikit banyak juga saya belajar dari dia. Selamat mas Widi, semoga cita-citanya bikin konferensi musik Indonesia tercapai.

Dan akhirnya…menikahi Rahajeng Nurwidyastuti

Enaaak kaaan?

Ibarat konser inilah encore-nya. Penutup paling manis dari segala yang sudah saya dapatkan di tahun ini. Proposal saya diterima oleh Dr.Ir. Budi Nurtama, M.Agr. Proposal untuk menikahi anaknya. Pacar pertama saya yang sudah saya pacari 3 tahun ini hehehe. Maklum dulu kan saya dikelilingi grupis gitu deh kayak Nuran Wibisono.

Saya harus jadi dewasa. Belajar bertanggung jawab. Jadi pemimpin. Saya harus menikah. Menseriuskan, menaikkan, sekaligus menghalalkan hubungan. Alhamdulillah, 22 Desember kemarin tepat pada peringatan Hari Ibu, saya menjadikan Rahajeng sebagai ibu untuk anak-anak saya kelak. Segala kerepotan, gontok-gontokan, kelelahan badan dan pikiran mempersiapkan pernikahan mendadak sirna begitu penghulu dan saksi-saksi mengucapkan kata sah. Mohon doa restu dan terima kado 😀

8 Comments

  1. Helsa Permata Reply

    masjaki, aku follower di twitternya masjaki (at hellsizme, pernah interaksi sekali waktu)
    selamat buat cerita2 masnisnya selama 2012 ya, berharap di tahun 2013 aku punya prestasi dan bisa ku dokumentasikan ke blog 😀

  2. Adiitoo Reply

    uwooooo, Mas Jak sudah menikah, toh? sihiy. selamat menempuh hidup baru Mas dan Mbaknya. semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, warahmah.

    jangan pernah tutup warung ini, Mas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *