5 Band yang Sebaiknya Merilis Album di 2013

Akhirnya 2012 lewat sudah. Tentu saja dengan meninggalkan banyak rekaman kejadian yang riuh rendah di industri musik lokal. Tahun 2012 layak dicatat sebagai penyadaran publik akan kekuatan kolektif kaum muda lewat kampanye Sahabat Lokananta. Indonesia juga makin digandrungi menjadi destinasi konser musisi-musisi mancanegara. Penutupnya tentu saja saat band paling buas sedunia, Guns N Roses datang ke rimba Jakarta. Kisah serunya ditulis oleh kawan saya yang sampai mati menyerahkan diri pada Axl Rose, Nuran Wibisono.

Selain itu juga tahun 2012 disebut-sebut sebagai tahun kebangkitan kembali eksponen-eksponen lama, baik di ranah independen maupun di arus utama. Ada Pure Saturday yang kembali dari 5 tahun pertapaan dengan merilis  album Grey juga Rumahsakit yang kembali dari hiatus lewat album I.C.U.

Juga yang tidak bisa dilupakan adalah bagaimana hype saat Ariel bebas kemudian bersama Peterpan bermalih rupa menjadi NOAH. Memang terlalu berlebihan, tapi kehadiran NOAH seperti gelombang pasang yang pelan-pelan melumat kedigdayaan boyband dan girlband. Indikasi pertama langsung jelas terlihat. SM*SH diisukan bubar.

Bagi saya keberadaan boyband maupun girlband adalah kewajaran atas nama kebebasan berekspresi. Yang kemudian jadi kejanggalan adalah saat term “kebebasan berekspresi” tadi kemudian berubah menjadi kualitas vokal ala kadar yang disamarkan lewat wajah licin dan format lip sync. Toh kita juga tidak tahu apakah betul keberadaan mereka memang atas keinginan “berkespresi” atau kebutuhan akan pundi-pundi ?

Ah sudahlah. Toh kita baru saja membuka lembar baru di 2013. Ada banyak harapan tentunya meski penganut nomer buntut menganggap 13 sebagai angka sial. Mumpung harapan masih boleh dan belum dibuat Perda yang mengatur segala rupanya, saya berharap 5 nama ini merilis karya mereka di tahun ini.

Humania

Humania

Saya terkesiap saat membaca wawnacara dengan EQ Puradiredja di majalah Rolling Stone Indonesia edisi bulan ini. Satu dari dua personel Humania yang kini berada dibalik kesuksesan Java Festival Production ini menyatakan Humania akan merilis album lagi.

Duet EQ bersama  Heru Nurcahyo adalah pembuka warna jazz yang renyah untuk dinikmati semua kalangan sebelum jazz kini tampil begitu kasual. Terserah yang mencampurkan adonan reggae adalah perkenalan pertama saya.

Bagi saya, kembalinya Humania adalah pengingat bagi dedek-dedek lucu yang merasa dirinya “paling jazz” saat mendengar Maliq & D’Essentials, band yang juga dibidani oleh EQ.

Rida Sita Dewi

Rida Sita Dewi

Trio Rida Farida (Rida), Sita Nursanti (Sita) dan Dewi Lestari (Dewi) adalah definisi sempurna bagi saya terhadap konsep girlband. Cantik dan bisa bernyanyi merdu. Kurang apalagi coba ?. Sayang tahun 2003 mereka memutuskan pecah kongsi sepeninggal Dewi. Lalu mereka kembali lewat sepotong lagu berjudul Langit Amat Indah yang mengisi album soundtrack Perahu Kertas. Film yang diambil dari novel berjudul sama karangan Dewi.

Mengingat         : Makin jengahnya publik terhadap konsep gilrband hasil impor dari Korea seperti  Cherrybelle  dan menyebalkannya kelakuan fans-fans idol group JKT48

Menimbang       : Perlunya definisi ulang terhadap konsep girl band yang ng-Indonesia

Memutuskan     : Meminta Rida Sita Dewi reuni dan merilis album baru di tahun ini.

Potret

Potret

Debut manis Melly Goeslaw di album soundtrack Ada Apa Dengan Cinta adalah anugerah sekaligus kutukan. Anugerah karena Melly kemudian mendapat gelar sebagai Ratu Soundtrack. Kutukan karena selepas itu kemampuan penulisan lirik Melly yang genit namun nakal seakan menguap dan berganti jadi lirik absurd semacam let’s dance together get on the dance floor the party won’t start if you stand still like that atau

Ku tak jahat, tapi ku tak baik

Mungkin ku tak punya cinta yang kau mau

Namun ku terang ku bercahaya

Memancar glow, (glow), glow, (glow),glow, (glow)!

 Cukup. Cukup sudah. Melly harus kembali lagi ke ruamhnya. Kembali ke Potret dan menciptakan lirik sebernas

 S’lalu ku bilang aku tak sebaik kau pikir

Tak pernah ku nantikan kamu

Ku cinta kamu bukan berarti ku tak mendua

Sayang kau nilai aku salah

 Dan

Kau tunjuk mukaku aku diam

Kau hina diriku aku diam

Kau jambak rambutku aku diam

Kau paksa ku berbuat ‘ku tak diam
Oo oh oh oh sudah terlalu

Oo oh oh oh Tak ku maafkan

Tak ku maafkan
Sabarku pasti terbatas

Apalagi menyangkut yang ini

Kupuja kau karena kau mampu bertahan

Karena kutahu semua

Ternyata tidak

 Padi

Lain Dunia (Gambar dari https://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Padilaindunia.jpg)

Sudah cukup band-band seperti Ungu secara ngawur bermain-main dengan  konsep pop rock yang berusaha menggabungkan maskulinitas rock dengan kecantikan pop. Ungu membuat pop rock tak ubahnya pria cengeng yang berusaha terlihat gagah dengan gertak sambal lewat distorsi gitar.

Pop rock sebenarnya bagi saya adalah milik Padi. Padi berhasil mendefinsikan bagaimana pop rock seharusnya dimainkan. Bukan sekedar gedubrakan bunyi yang diisi lirik-lirik cengeng penuh desahan. Skil musikal tingkat dewa tiap personel lewat harmonisasi gitar Piyu dan Ari, gebukan penuh tenaga dari Yoyo (drum), pondasi kukuh dari Rindra (bass), serta balutan vokal Fadly yang nge-soul, begitu istilah jaman kuliah untuk menyebut sesuatu yang sangat keren dan datangnya dari hati  *opo toh

Setelah merilis Tak Hanya Diam tahun 2007, Padi memasuki masa tidur panjang. Apalagi Yoyo sempat masuk bui karena kasus narkotika. Sementara Piyu asyik dengan mainan baru di label rekaman bentukannya dan Fadly….ah Fadly rupanya menjajal seni peran lewat penampilan di sinetron religi bersama kawan duetnya, Maher Zain.

Tapi Indonesia butuh musik manis yang bertenaga. Dan saya meminta Padi…wahai Padi, keluarkan kembali karya anda!

Ahmad Band

Ahmad Band

Bubarnya Dewa 19 adalah salah satu kehilangan besar untuk musik Indonesia. Pun ketika Dhani selaku leader membentuk Mahadewa yang disebut-sebut sebagai “pengganti”, Dewa 19 tetap tidak bisa tergantikan. Secara subyektif Dewa 19 bagi saya adalah Ari Lasso, Ahmad Dhani, Andra Junaedi, Erwin Prasetya dan Aksan Sjuman yang menelurkan Pandawa Lima sebagai album terbaik Dewa 19.

Persoalannya, Ahmad Dhani dengan segala ketengilan dan arogansinya adalah sosok penting yang tidak bisa dibiarkan terus menerus keasyikan dengan proyek-proyek narsisnya dibawah bendera  Republik Cinta Management. Kenarsisan Ahmad Dhani perlu diberi ruang yang layak ketimbang terus menerus menyuruh musisi-musisi binaannya menyanyikan lagu-lagu hits ciptaannya dengan aransemen yang itu-itu melulu. Ruang itu adalah Ahmad Band.

Ahmad Band adalah super group. Semacam Cream , The Velvet Underground, atau Kantata Takwa. Jika diibaratkan klub sepak bola, maka Ahmad Band adalah skuad yang menyenangkan semua pelatih karena dibekali individu-individu dengan kemampuan diatas rata-rata. Diperkuat Andra Junaedi, tambahan tenaga yang diimpor langsung dari Potlot, Bongky dan Pay, serta mantan punggawa Netral, Bimo Sulaksono. Nama Ahmad Band sudah jelas menunjukkan siapa yang pegang “kuasa”. Sudah pasti Ahmad Dhani.

Dengan formasi tadi, Ahmad Band menghasilkan nomor-nomor paten seperti Distorsi, Bidadari di Kesunyian, Dimensi dan tentu saja Aku Cinta Kau dan Dia. Ahmad Band hanya punya Ideologi, Sikap dan Otak sebagai satu-satunya diskografi.  Mengingat Dewa 19 sudah lewat, masih meluapnya kadar kenarsisan si master mister, Bongky dan Pay yang sedang tidak sibuk dengan BIP serta Bimo yang tidak terdengar lagi kabarnya setelah proyek Brutal bersama Bagus Netral, maka reuni dan rilis album adalah keniscayaan buat Ahmad Band.

15 Comments

  1. Rafael Yanuar Reply

    Ebiet G. Ade pun kabarnya mau merilis album lagi, dengan berisikan materi baru. Sayangnya, Billy J. Budiarjo sudah tidak mungkin jadi penata musiknya lagi (´._.`).

  2. frank triple Reply

    suka nulis gara2 satu bintang di langit kelam nya RSD, sampai skrg berharap mereka “masih ada” di musik indonesia. btw bakal konser eunian sptnya rsd november nanti…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *