Ada Apa Dengan Presale ?

Sesiang kemarin linimasa saya ramai. Tepatnya ramai dengan keluhan-keluhan beberapa kawan yang gagal mendapat tiket pre-sale konser Blur di Jakarta tanggal 15 Mei besok. Ya wajar saja, wong Cuma 3 menit tiket sudah ludes. Kalo kata orang-orang PKS atau Hizbut Tahrir pasti karena konspirasi zionis.

Iseng saya melihat beda harga antara tiket pre-sale dengan tiket regular. Harga presale untuk kelas festival dan VIP Rp 750 ribu dan Rp 1 juta. Sementara harga normalnya, Festival dipatok Rp 900 ribu dan VIP seharga Rp 1,2 juta. Bedanya “cuma” 150 ribu dan 200 ribu.

Kenapa “cuma”? . Ya karena mereka yang meributkan selisih harga tadi adalah yang biasa mengeluarkan 50ribu untuk secangkir kopi, biasa menghabiskan 200ribu untuk pulsa ponsel canggihnya, atau bahkan menggesek berjuta-juta rupiah lewat kartu untuk mendapat gadget keluaran paling mutakhir. Beda cerita kalau harga antara tiket presale dengan regular mencapai setengah juta kayak konser Maroon 5. Baru tuh layak diperjuangkan.

Mungkin ini sudah jadi kelakuan manusia. Ketika urusan perut beres, baju sudah necis dan rumah sudah gedong, apalagi yang dicari kalau bukan diakui keberadaannya?. Jadi yang paling pertama, paling terlihat, dan paling-paling yang lain. Salah satunya ya jadi yang paling pertama dapat tiket. Kalo sempat ya dipamerkan ke semesta. Mungkin lho mungkin.

Saya sih bukan fans Blur. Tapi kalo jadi fans, saya yang gajinya kadang ngepas buat makan sama ongkos jalan ke kantor, mending beli tiket reguler dari hasil nyisihin recehan sekeping demi sekeping daripada ngamuk-ngamuk rempong kayak FPI.

Katanya situ fans ?

9 Comments

  1. Rianti Fajar (@ntiowhnti) Reply

    Hahahaa kalo gue sih biasa nya ngejar harga presale karena buat nonton konser itu ga cuma perlu tiket tapi juga buat makan sm transport, nah kl konser sampe mlm kan terpaksa mesti naik taksi. Makanya selisih 150rb itu sih berharga bgt buat fans kere kayak gue. Gue sih gak terlalu into blur tp smoga pas the kooks bs dpt yg presale 🙂

  2. Dinar Ayu Adeline (@dinaradeline) Reply

    Wah pasti iki masnya belom pernah merasakan kehabisan tiket band favorit ya. Presale itu kan penjualan tiket dengan jeda waktu jauh sebelum konser. Semacam maroon5 dulu itu, kalau presale sudah habis, semua dijual dengan harga reguler tapi ttp sistem presale. Jadi menurut saya, presale bukan cuma hemat, tapi juga tentang kepastian mendapatkan tiket 🙂

    1. Fakhri Zakaria Reply

      Terima kasih komentarnya. Sangat membangun. Sampai saat ini belom pernah keabisan tiket, wong band-band yang saya tonton kebanyakan bukan yang bisa mengumpulkan banyak massa. Kebetulan juga kerjaan mendukung 😀

      Salam,

  3. Budi Warsito Reply

    Tuduhan kamu prematur dan serampangan Jak. Hati-hati lho, tudinganmu soal “yang biasa mengeluarkan 50ribu untuk secangkir kopi, biasa menghabiskan 200ribu untuk pulsa ponsel canggihnya, atau bahkan menggesek berjuta-juta rupiah lewat kartu untuk mendapat gadget keluaran paling mutakhir” itu mudah tergelincir jadi generalisasi yg gegabah, jika bukan terdengar seperti kecemburuan kelas. 🙂

    1. Fakhri Zakaria Reply

      Nah, ini komentar yang paling ta’ tunggu.

      Jadi begini…..titik tolaknya adalah anomali konsumen mas e. Ini lucu menurutku. Kayaknya pernah juga dijadikan bahan komik Mice di Kompas (aku lupa edisi berapa) sama tulisannya Sindhunata di Burung-burung di Bundaran HI. Bagaimana mereka yang bisa gampang beli ini itu giliran beli brambang ato rambutan di pasar nawarnya setengah hidup.

      Ini yang aku sorotin. Lha wong kalo jajan tiap bulan bisa 500 ribu di mall kok keluar 150 ribu buat band idola kayak gak ikhlas. Jadi bukan generalisasi kelas. Cuma mau memperlihatkan anomali.

      Begitu Mas Budi Valentine 🙂

  4. Ardi Wilda Reply

    Jak, nek ngaranku bukan faktor selisih hargane. Tapi soal rasa aman dapet tiket atau gaknya. Koyo uwong inden pit montor lah ibarat e, kepastian koe wes memiliki sesuatu kui rasane lego e dab. Apalagi nek kui perkoro nonton idola. Menawi ngoten niku mas e 🙂

    1. Fakhri Zakaria Reply

      Iyo we aku sesat pikir. Aku mengakui, aku ra gelem atos-atosan mergo aku udu selebtwit. Menawi dik Rara sampun presale? kamsud e sampun ditumbaske tiket presale?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *