Lilin-lilin Kecil sebagai Lagu Protes

Sejak SD pendengaran saya sudah terbiasa mendengar lagu yang dinyanyikan Chrisye ini. Tapi baru pada tahun 2008 saya mengetahui kalau lagu yang awalnya masuk dalam album kompilasi 10 Lagu Terbaik Lomba Cipta Lagu Remaja Prambors Rasisonia 1977 ini adalah lagu protes. Adalah artikel wawancara antara Wendi Putranto dengan James F. Sundah, si pencipta lagu, yang dimuat di majalah Rolling Stone Indonesia edisi Oktober (atau November, aku lali je) 2008.

Saya tidak menyangka James F. Sundah bisa membuat lirik protes sekeren ini. Ya, mungkin karena saya berbicara dalam konteks sekarang. Dimana semua orang bebas berbicara. Sedangkan lagu ini dirilis saat kekuasaan Soeharto sedang “tinggi” sampai lepas kendali. Partai-partai dilebur jadi dua partai dan satu Golongan Karya. Golkar jadi mesin politik Soeharto dengan dukungan birokrat sipil dan militer sampai ke tingkat paling bawah.

James sebagai anak muda jengah. Bersama adiknya, Linda yang penyair, membuat pesan protes untuk orang tua-orang tua yang semakin hari semakin gila kuasa. Tapi ini kan Orde Baru. Protes dianggap mengganggu stabilitas bangsa dan negara, bertentangan dengan Pancasila dan UUD ’45. Katanya sih begitu. Dan satu lagi, Iwan Fals belum terkenal hehehehe.

Rekan saya Rama Wirawan menyambar tweet saya saat saya sedikit ngoceh tentang Lilin-lilin Kecil. Jebolan Rolling Stone Indonesia Online yang sekarang jadi editor zine Plak! ini bilang kondisi represif ini membuat seniman banyak menggunakan metafor. Hasilnya adalah karya yang imajinatif dengan penafsiran yang luas.

Tweet RamaBagi saya ini semacam senjata makan tuan. Ketika penguasa makin represif, publik justru makin luas daya imajinasinya. Bukankah kata Einstein imajinasi lebih berarti dari sekedar ilmu pasti ? Toh penguasa saat itu juga doyan bermetafora dan sok-sok an memperhalus ungkapan. Kenaikan harga dibilang penyesuaian, pengen dibantu secara ilegal mintanya mohon kebijaksanannya.

Kembali ke wawancara di majalah tadi. James memberi clue bahwa “lilin-lilin kecil” sebetulnya merujuk ke anak-anak muda yang sudah bosan dengan kelakuan golongan tua, sedangkan “mentari tua” adalah orang-orang tua yang duduk di bangku kekuasaan nyaris absolut sehingga menjadi “lelah berpijar”.

Dari petunjuk tadi saya coba-coba membedah. Ternyata memang liriknya bagai sumbu dinamit yang siap diledakkan. “Berkerut-kerut tiada berseri, tersendat-sendat merayap, dalam kegelapan”. Korupsi makin menggerogoti, sementara pemerintahan ya cuma gitu-gitu doang. “Hitam kini, hitam nanti, gelap kini akankah berganti ?” wah ini bahaya nih, suksesi, makar!

James kemudian menyulut sumbu dengan lirik

Dan kau lilin-lilin kecil
Sanggupkah kau mengganti
Sanggupkah kau memberi
Seberkas cahaya….

Dan kau lilin-lilin kecil
Sanggupkah kau berpijar
Sanggupkah kau menyengat
Seisi dunia

Buat saya ini keren dan sophisticated !  Oh ya, lagu ini pernah di-cover oleh Nania, finalis Indonesian Idol musim pertama tahun 2004 di album kompilasi Indonesian Idol: Indonesian All-Time Hits.

4 Comments

  1. zoehdyhuda Reply

    emang bentuk protes jaman itu lebih “cantik” ketimbang sekarang,bahkan beberapa film komedi pun saling berbalas dengan film komedi propaganda Orba. Sampai-sampai menurut saya Lupus nya Hilman bisa jadi bentuk kegundahan kelas menengah yang saat itu jadi silent class

  2. Budi Warsito Reply

    Meski kalah di ajang LCLR 1977 dari lagu “Kemelut—ciptaan Junaedi Salat dinyanyikan Keenan Nasution—lagu “Lilin-lilin Kecil” ini malah lebih populer dibanding si pemenang. Secara judul, sebenarnya kata ‘kemelut’ lebih potensial jadi lagu protes ketimbang frase ‘lilin-lilin kecil’. Liriknya antara lain, “…di sana aku bernaung/ dalam KEDAMAIAN YANG PENUH KEGELAPAN..” dan juga “..kadangkala ku tak mengerti apakah arti semua ini/ mengapa oh mengapa/ bagaimana aku tahu, bila SEMUA DIAM MEMBISU, SELALU..” Apakah ini juga menyiratkan kondisi (kemelut!) sosial politik saat itu: keterbungkaman? Ah, tapi apa pun memang bisa disambung-sambungin. Hidup othak-athik gathuk!

    1. Fakhri Zakaria Reply

      Lilin-lilin Kecil yang jadi batu lincatan buat Chrisye. Soal othak-athik gathuk, bukankah yang ngajarin juga penguasa? lha wong film Warkop Kiri Kanan Oke disuruh ganti jadi Kanan Kiri Oke amergo kalo Kiri duluan dianggap mendukung PKI. Kudu piye jal ? hihihihihihihihi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *