Photowork itu Ndeso

Sejak mewawancarai Jodie, praktis tidak ada lagi program #ngosngosan a.k.a ngobrol selo-selo an di warung ini. Bukan salah Jodie, bukan salah bunda mengandung, tapi salah saya yang tiap Seloso gak pernah selo. Kerja, ngelonin istri, main Football Manager dan banyak lagi sehingga program ini banyak alpa daripada hadirnya kayak anggota DPR. Tapi tenang. Semalam saya sudah selo dan sekarang juga selo. Makanya saya angkat lagi wawancara dengan temen saya.

Hermitianta Prasetya alias Mimit adalah salah satu tokoh sangar di Jurusan Ilmu Komunikasi UGM.  Dia angkatan 2004, saya 2005. Mantan pacarnya anak 2005, makanya kami bisa intim.  Selama kuliah sampai lulus pernah jadi juru foto di Radar Jogja. Tahun 2010 mengikuti Angkor Photo Workshop 2010 di Siem Reap, Kamboja. Mimit lalu mengambil studi Diploma in Photojournalism dari Konrad Adenauer Asian Center for Journalism di Ateneo de Manila University pada tahun 2012.  Itu belum termasuk menang kontes foto disana-sini lho.

Sempat jadi fotografer lepas dan tinggal di Jakarta, Mimit kini sedang di Jogja. Salah satunya untuk mengejar cinta selepas putus hubungan asmara tahun (eh kowe pegat ro D*A*M*A*R taun piro mit ?).

Wawancara ini dilakukan sekitar bulan Desember tahun kemarin. Waktu saya belum nikah dan Mimit masih jomblo. Kalo sekarang dia sedang menyiapkan panah-panah cinta. Kepada saya Mimit berbicara (eh mengetik) panjang lebar tentang fenomena Photoworks, keenganannya disebut fotografer dan motret model, serta hubungan foto dan mantan pacar.

Mit, kok diam. Belum sarapan ya ?

Hasem… saya puasa, bang…

Puasa apa ? Asyura?

Yoi

Kamu…kamu

Preet….

Gak mau bikin Mimit Photowork ?

Aku lagi cari pengganti. Pengganti yang garap kerjaan disini. Biar bisa garap Photowork. Hahahaha

Pendapatmu tentang photowork apa ?

Kerja foto ahahahahahah

Serius

Hadeh. Nek rung sarapan dikon serius ki sesuatuk! Opo, ya…Aku gak familiar dengan istilah photowork je, Jak

(Kalo belum sarapan disuruh serius itu sesuatu. Apa ya…aku gak familiar dengan istilah photoworks)

Tapi kan dadi fenomena kuwi (tapi kan jadi fenomena)

Fenomena opo? Photowalk?

Sitik-sitik photoworks (sedikit-sedikit photoworks)

Nek photowalk aku ngerti. Nek photoworks biasane nggo embel-embel sing dho gawe usaha jasa pemotretan, entah prewedding ataupun stok foto. Nek orang-orang profesional sing kondang jarang pake istilah photoworks. Istilah photowork itu menurutku terlalu… ndeso. Dangkal. Aku ra bakal gawe jenenge photowork

(Kalo photowalk aku ngerti. Kalo photoworks buat embel-embel yang pada bikin usaha jasa motret. Orang-orang professional yang kondang jarang pake istilah photoworks. Istilah photoworks menurutku terlalu ndeso. Aku gak bakal bikin yang namanya photoworks)

Nek profesional nganggone opo Mit? (Kalo professional pake istilah apa ?)

Pake namanya dia sendiri. Paling mentok ditambahi embel-embel “photography” semacam “Darwis Triadi Photography”. Embel-embel photoworks itu jadi membatasi diri sendiri hanya berurusan dengan foto padahal bisa jadi lahan eksplorasi yang luas ketika berangkat dari foto

Eksplorasi luas maksudnya?

Bukan motret trus bubar. Diferensiasi produk

Kayak video gitu ?

Yang itu bisa jadi multimedia project. Mencakup foto+video+audio. Itu diajarkan pas aku kuliah di Manila

Jadi fotografer sekarang dituntut punya skill banyak?

Yes. Sudah terlalu banyak orang yang bisa motret, Jek. Setiap fotografer harus punya nilai tambah. Diferensiasi dan positioning yang jelas. It’s all about how to sell themselves

Menurutmu fotografi hari ini itu apa?

Eranya fotografi subyektif, Jek. Kayak jaman lukisan yang mulai bergeser ke seni. Fotografi sudah jadi pop culture. Dan orang-orang yang serius di bidang fotografi mulai meninggalkan premis fotografi sebagai medium objektivitas

Itu karena apa Mit?. Karena sekarang semua orang bisa jadi “pelapor” sebagai imbas teknologi ?

Pop culture, Jek nek ngaranku lho (Pop culture kalo menurutku). Semakin populernya teknologi. Bukan “pelapor” tapi lebih ke semua orang bisa semata-mata “menangkap peristiwa”. Semua orang bisa mendokumentasikan yang kemudian disebarluaskan melalui media baru.

Kowe ngomong fotografer sekarang butuh diferensiasi. Ini yg bikin mereka yang serius di fotografi meninggalkan premis fotografi sebagai medium objektivitas atas nama diferensiasi ?

Atas nama kesadaran atas subyektivitas dan kompetisi, Jek. Diferensiasi itu imbas, solusi bagi mereka yang pengen maju dan tetep eksis

Menurutmu profesi fotografer masih seksi ? Sekarang kan banyak orang bisa beli kamera mahal dan bisa motret

Gak. Cenderung overrated. Aku ora bangga disebut fotografer, Jek. Kabeh wong ki fotografer saiki (Aku gak bangga dibilang fotografer. Semua orang sekarang fotografer)

Terus kowe pengen disebut opo ? (terus kamu mau dipanggil apa ?)

Opo ya. Aku saiki lagi masa transisi, Jek. Mencari sebutan yang baru. Awal tahun aku mulih Jogja. Meh dadi entrepreneur/social worker tapi tetep berkarya dengan foto. Praktisi komunikasi mungkin luwih cocok. Usulmu opo? sing terdengar kontemporer ngono hahahahha

(Apa ya. Aku sekarang lagi masa transisi nyari sebutan baru. Awal taun aku pulang Jogja pengen jadi entrepreneur/social worker. Praktisi komunikasi mungkin lebih cocok. Usulmu apa ? yang terdengar kontemporer gitu)

Beb

Setttt….

Aku pengen adus e (Aku pengen mandi)

Iso adhus dewe to ? (Bisa mandi sendiri kan ?)

Iso (Bisa)

Sip

Perbincangan ditunda sebentar karena saya mandi dan perlu sarapan. Maklum Indonesia, gak cukup cuma makan roti. Harus kesentuh nasi

Menurutmu hubungan foto dan memori itu apa ?

Nek mbiyen ono fotografer sing omong (dulu ada fotografer yang bilang) , yang intinya “I can’t print memory, So I took a photo” tapi aku lali sopo (aku lupa siapa). Salah satunya aku pilih berkutat di ranah fotografi adalah karena aku punya memori yang lemah. Aku pelupa dan dengan dipertemukan dengan fotografi aku jadi menemukan “Separuh Aku” makane aku ra bakal (makanya aku gak bakal)  meninggalkan fotografi.

Dengan memotret aku merekam perjalanan hidupku, Jek.Iki subyektif nggo aku dhewe (ini subyektif buatku sendiri) jadi aku ora bakal lali aku tau ngopo wae, ning ngendi wae iso cerito-cerito  karo anak cucu dan orang banyak, ngono lah. (Aku gak bakal lupa aku ngapain aja, kemana ja, bisa cerita-cerita ke anak cucu dan orang banyak, gitu lah)

Termasuk tetap merekam kisah lama cintamu Mit?

Percaya atau tidak foto-fotonya masih tersimpan rapi di laptopku. Mung jarang tak buka wae (cuma jarang aku buka saja)

Perasaanmu tiap liat kimcil yang nenteng-nenteng DSLR?

Pengen tahu “what was in their mind?”. Apa sih yang pengen difoto orang2 jaman sekarang ?. Pengen gaya-gayaan atau punya subyektivitas yang unik ?

Makin banyak orang punya kamera harusnya makin banyak dokumentasi. Tapi kok di Indonesia ga berlaku ya. Menurutmu kenapa ?

Foto dokumentasi itu banyak banget. Motret itu gampang banget. Yang gak ada adalah orang yang mengarsipkannya. Fungsi kuratorial itu kerjaan yang prestisius di Amerika

Kalo disini sudah ada?

Kalo yang kecil-kecilan sih banyak.. Oscar Motuloh itu termasuk terkenal juga di dunia internasional. Tapi yang bisa melihat Indonesia dan merangkum “gimmick” serta mempersatukan dalam satu tema yang kompleks kayaknya belum ada.Gawe project kuwi yo, Jek. (Bikin proyek itu yuk)

Wah aku kan gak kompeten di foto Mit

Helloooo…

Aku kompetennya manasi

Kuratorial itu gak harus bisa fotografi tapi bisa membaca foto. Punya kemampuan visual literasi yang oke. Dosen visual literasiku di Manila ibu-ibu yang gak bisa motret

Menurutmu kenapa fungsi arsip belum dipandang penting Mit?

Pengarsipan dan kuratorial adalah pekerjaan yang melelahkan, butuh ketelitian, dan pengetahuan yang tingkat tinggi. Orang indonesia kebanyakan lebih suka hal-hal yang menghasilkan duit. Jarang menjamah hal-hal rumit karena itu butuh waktu dan tenaga yang luarbiasa. Di sini mana ada orang yang mau kerja gitu tapi gak ada duitnya ?.

Kenapa kamu gak moto model?

Saya…saya… takut godaannya…hahahha. Nggak ding. Aku lebih tertarik ketemu orang banyak, bukan mendalami satu subjek aja. Saya orangnya gampang bosan.

Kalo sama cewek bukan model bosan juga ?

Mancing lho, Jek. Iya, bosan. Aku harus ada di sekitar orang yang “ubeg”, orang yang kritis, dan penuh inovasi. Sangar tenan kriteria calon pacarku (sangar banget kriteria calon pacarku)

Antara kamera sama cewek kamu milih mana ?

Hahahahapreeettt. Milih cewek lah. Camera’s just a tool

Ta’ gawe ning blog yo ? (kubikin buat blog ya?)

Opo ? (apa?)

Iki wawancarane. Aku ki seneng wawancara unplanned. Ngalir. Koyo tai ning Selokan Mataram (Wawancara ini. Aku seneng wawancara unplanned. Ngalir kayak tai di Selokan Mataram)

Pantes rupamu koyo….Yoh upload wae. (Pantas wajahmu seperti…ya upload aja)

Ning lak duwe pacar (tapi kan punya pacar)

Pret……

11 Comments

  1. bisma Reply

    terrrimakasih udah berbagi cerita … motivasi awal saya moto juga karena lemah memori, jadi.. jadi.. *sendu* apa sih. oke. sekian & terimakasih lagi atas sharingnya. merdeka!

  2. Budi Prast Reply

    Untung wae Mit, fotomu kui ning pojokan kanan ngisor ora mbok tulisi ” Budi Prast Photoworking working” lha iso kondang bgt no aku….:)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *