Perjamuan Kudus dari Sudut Muntilan

Arsitek asal Belanda F.J Ghijsels pernah bilang, “Simplicity is the shortest path to beauty“. Di Muntilan, perkataan Sinyo Londo tadi terbangun dalam seporsi Sop Empal.

Tampilannya amat bersahaja kalau tak mau dibilang terlampau sederhana. Hanya daging sapi goreng yang disuwir dipadukan bihun dan daun kol rebus yang diguyur kuah sop. Tak lebih dan tak kurang. Tapi suapan pertama adalah mendekati surga dan berikutnya adalah puncak segala kenikmatan dunia.

Bayangkan daging yang tekstur dan gurihnya begitu aduhai dipadu kuah sop nan hangat yang ya Tuhan amboi nian. Bihun dan daun kol rebus bukan sekedar tim hore namun menjadi kompatriot dalam aransemen rasa maha dahsyat ciptaan komposer bernama bu Haryoko. Sebagian lagi memanggilanya Yati, tapi bagi warga kampung saya nama mbah Lim yang lebih terkenal. Ah apalah arti sebuah nama. Saya sami’na wa atho’na sejak cecapan pertama.

Senin (20/5) kemarin saya diberi kesempatan oleh Gusti Allah lagi untuk meneguk hidangan surga itu. Sop Empal adalah bagian wajib dalam kunjungan agung ke Muntilan. Tiga puluh menit saya takzim dalam ritual. Seraya tak lupa mengirim foto ke tanah Norwegia sana, tempat kawan saya Mister Tuki berada. Balasannya, “Telek. Untung HP ku mati lagi murup saiki (Tai, untung HP ku mati baru hidup sekarang). Habis Lebaran gue geruduk dah tuh sop.”

IMG_20130410_10383521/5/2013 14.00. Postingan setelah absen gara-gara jetlag dalam perjalanan Jakarta-Muntilan-Solo-Muntilan-Jakarta lagi *nggaya*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *