Clever Commuter

Jadi penglaju yang tidak punya kendaraan pribadi di Jakarta bukanlah pilihan. Namun sulitnya saya untuk 24 jam hidup di Jakarta menjadi landasan kuat menampik segala saran untuk menyewa kamar kos di Jakarta. Pilihannya: bangun pagi buta, lalu mengejar kereta dari Bogor ke Jakarta dan pulang sore hari dan sampai Bogor selepas Maghrib.

Penglaju di Jakarta nir kendaraan pribadi mungkin adalah penglaju dengan nasib terburuk di dunia. Kami dituntut untuk berpikir seratus kali lebih maju karena transportasi publik yang tak bagus-bagus amat kalau tidak mau dikatakan buruk.

Kereta Rel Listrik  Commuter Line

Hubungan saya dengan moda transportasi ini seperti teori Endang S. Taurina dan Ratih Purwasih. Benci-benci tapi rindu dan rindu-rindu tapi benci. Rindu karena murah, cepat dan tempat naik turun yang relatif dekat rumah dan kantor. Benci karena jadwal hanya Tuhan  yang tahu karena seringnya gangguan. Para pengguna KRL bahkan hafal jadwal gangguan. Tiap hari Senin pagi, Jumat sore dan setelah hujan deras. Ritual wajib sebelum pulang adalah mengecek timeline dan fanpage KRL Mania untuk mengetahui ada tidaknya gangguan. Kalau ada, mau tak mau nyeleweng ke bus.

 Bus

Oke saya suka naik bus, tapi tidak dengan bus kota Jakarta. Satu hal: saya tidak bisa menikmati perjalanan. Celakanya, ini pilihan paling rasional untuk pulang ke Bogor kalau KRL gangguan. Naik taksi jelas menguras kantong pegawai macam saya. Memang dengan naik bus kesempatan saya dapat duduk lebih tinggi dibanding KRL. Namun saya harus dua kali ganti bus ke Bogor. Entah itu naik bus Patas AC lalu diganti bus Antar Kota Antar Propinsi ke Bogor, atau naik bus Trans Jakarta dan ganti naik bus Angkutan Perbatasan Terintegrasi Bus Trans Jakarta. Capek dan biaya yang dikeluarkan lebih banyak dan lebih jauh. Pfftttt…..

 Omprengan

Pertama dan terakhir saya mencoba naik angkutan setengah ilegal ini. Salah waktu saat itu. Hujan, Jum’at sore, dan Jakarta. Cukup jadi kesan yang buruk. Tempat tunggu yang tak layak juga harus menunggu dibawah hujan sebelum bertumpukan bagai sarden di dalam mobil van plat hitam yang dimodifikasi untuk menampung penumpang sebanyak mungkin mengarungi tol Jagorawi. Sudah lebih dari cukup untuk putus.

 Bus Kementerian

Sejauh ini jadi angkutan paling layak. Istri saya yang jeli menemukan alternatif ini. Kami menggunakannya saat pulang kerja. Untuk berangkat, tetap KRL yang masih jadi andalan karena relatif tepat waktu dan bebas macet. Bus ini adalah angkutan pegawai salah satu Kementerian. Rutenya dari kawasan Medan Merdeka sampai pangkalan yang letaknya dekat rumah tinggal kami di Bogor. Tarifnya murah dan relatif kosong. Kreatifitas pengelola bus ini membuat kami dapat angkutan layak untuk pulang ke rumah dengan tarif reltif murah. Namun karena status kami yang “numpang” ya harap maklum kalau bus ini tidak bisa dijagakke. Kalau sudah penuh dari kantornya ya bablas.

 Ya inilah kreatifitas saya sebagai penglaju. Mau tidak mau. Demi pola hidup yang lebih baik. Jakarta dalam 24 jam masih bukan pilihan bagi saya hehehe.

3 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *