Asing

Tempo hari saya datang ke pernikahan teman saya dan istri saya. Namanya teman masa sekolah, pasti selalu ada nostalgia. Istri saya bertemu beberapa kawan-kawannya. Setelah ritual cium pipi kanan kiri, lalu dilanjut mengobrol. Topiknya tak jauh dari pertanyaan kerja dimana sekarang atau sudah berkelaurga apa belum.

Saya? Hampir tak ada yang saya kenal. Kalaupun kenal hanya sebatas ingat wajah namun lupa nama. Jadi setiap undangan nikahan teman masa sekolah saya lebih banyak diam sembari lirik-lirik hidangan mana yang sebaiknya disikat. Selalu begitu. “Undangan rasa nostalgia sekolah,” kata istri saya. Saya cuma menimpali dengan senyum kecut, “Saya kan gak punya teman lagi di kota ini.” Selalu begitu. Hampir selalu terulang.

Relasi saya dengan Bogor memang aneh. Saya lahir di Muntilan, kemudian menghabiskan masa TK sampai SMP di Bogor, lalu ke Muntilan lagi menjalani bangku SMA, lanjut kuliah di Jogja, dan kembali lagi ke Bogor setelah bekerja dan menikah. Hampir separuh umur saya di sini. Tapi saya tak punya relasi emosional yang kuat dengan Bogor. Saya selalu melihat Bogor hanya tempat singgah bukan rumah. Rumah saya di Muntilan dan Jogja. Saya pulang ke Muntilan dan Jogja. Ini yang membuat saya belum bisa membangun hubungan dengan Bogor seintim relasi saya dengan Muntilan dan Jogja.

Fase “lepas”nya saya dengan Bogor dimulai saat saya pindah ke Muntilan. Saya sudah bosan di Bogor. Mungkin di Muntilan saya bisa punya pengalaman baru. Bogor sudah terlalu membosankan. Saya benar-benar melepas segala relasi saya dengan Bogor. Apalagi pada masa itu teknologi tak secanggih sekarang. Internet masih belum populer, telepon selular masih jadi barang mewah. Saya punya kehidupan baru lagi.

Di Muntilan, saya memulai pengalaman baru. Seperti dibuka mata saya kalau dunia tidak cuma selebar daun kelor. Di Bogor orbit saya hanya sekolah dan rumah, sekali-sekali main dengan kadar yang wajar. Satu pengalaman baru di Muntilan, berkawan dengan teman yang hobi mabuk. Sangat menendang pantat saya yang biasa hidup di lingkungan yang cukup religius. Tapi saya masih cukup sadar untuk tidak ikut minum alkohol sampai sekarang. Alasan paling kuat, saya pusing menghirup bau alkohol.

Selain itu, saya mendapat apa yang dulu mustahil saya dapat saat di Bogor. Kepopuleran di sekolah. Di Bogor, saya nothing. Di Muntilan, saya bisa membuat preman sekolah sampai cewek paling cantik memburu saya supaya kiriman salamnya atau fotonya tertempel di majalah sekolah dan mading yang saya kelola.

Lulus SMA saya diterima kuliah di Jogja. Bayangan indah saya tentang mahasiswa begitu nyata di Fisipol UGM. Baju bebas, santai dan cuek. Selamat tinggal SMA, selamat datang kebebasan. Kehidupan baru lagi dimulai. Atmosfer kampus yang bebas membuat mahasiswanya oke-oke saja mengekspresikan diri. Dan ini yang saya suka. Keseloan. Kesantaian. Kebebasan. Bisa dibilang ini salah satu bagian terindah dalam hidup saya.

Saya lagi-lagi memutuskan relasi saya dengan Muntilan. Bukan dengan kotanya, namun dengan teman-teman saya di Muntilan. Pertimbangan saya, saya gak akan berkembang kalau masih bergaul dengan orang yang itu-itu saja.

Selepas wisuda, tuntutan hidup membuat saya kembali ke Bogor. Saya merasa ada yang aneh selama sebulan pertama. Mau main keluar tak ada teman yang bisa saya temui. Setiap mengelilingi Bogor, saya merasa hubungan saya dan kota ini sudah berbeda. Saya merasa sebagai pendatang yang sedang mereka-reka tempat baru.

Begitu kuatnya relasi saya dengan Jogja terlihat saat saya menikah akhir tahun kemarin. Orang tua saya heran mengapa lebih banyak teman saya di Jogja yang datang di resepsi pernikahan saya. “Aku kan wis ra duwe konco meneh ning kene, Bu (saya sudah gak punya teman lagi disini. Bu)”

Dan kembali lagi, saya selalu gagal membangun relasi kuat dengan kota ini….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *