Bertanya Pada AMI

“Daripada cuma bisa bengak-bengok, ngejek seperti itu, coba mereka bikin penghargaan musik juga saja…” (Seno M. Hardjo, Anggota Board of Directors Yayasan Anugerah Musik Indonesia saat diwawancarai Wendi Putranto)

Saya sebetulnya sudah lama tidak lagi mengikuti malam penganugerahaan Anugerah Musik Indonesia yang rutin ditayangkan tiap tahun di televisi. Gelaran AMI terakhir yang saya tonton kalau tak salah adalah kurun waktu 2001 – 2002. Waktu itu Sheila On 7 sedang dalam masa puncak dengan membubuhkan Sephia sebagai pemenang kategori Best of The Best AMI Award 2001 dan disusul 07 Des sebagai Album Rekaman Terbaik dan Album Pop Terbaik di tahun berikutnya.

Semakin banyaknya acara musik (pagi) di televisi membuat acara award-award-an makin menjamur. Saya mencatat hampir semua acara musik pagi setiap tahun punya gawean semacam ini. Dari Dahsyat di RCTI dengan Dahsyatnya Award, Inbox di SCTV dengan Inbox Awards (SCTV juga punya SCTV Music Awards), sampai Klik di Antv dengan Klik Awards. Apakah AMI Awards tetap jadi barometer mengingat usianya yang lebih sepuh dari deretan award-award tadi ?

Wendi Putranto, yang juga hadir saat malam penganugerahan di Studio 8 RCTI (!!!) mencatat beberapa ketidakberesan. Intinya, pihak penyelenggara lebih mementingkan penampilan live para artis dibandingkan mengumumkan penghargaannya sendiri. Dan yang cukup fatal, mereka memasukkan TOR yang memainkan musik funk ke dalam kategori punk. Bisa jadi karena juri AMI berasal dari tatar Sunda. Dan sebelum ini merembet ke pitnah-pitnah lain, fembahasan cukuf disudahi samfai sini dulu.

Ajang penghargaan seperti AMI Awards sebetulnya bisa jadi sarana edukasi publik untuk mengetahui bagaimana musik Indonesia hari ini. Hal yang paling sederhana adalah pengumuman nominasi dan pemenang dari tiap-tiap nominasi tadi. Dan untuk hal sesederhana ini, AMI juga sudah sempoyongan. Daftar nominasi dibagikan langsung dalam format hardcopy ke jurnalis (!) dan saat acara penghargaan ke-49 nominasi tadi tidak semua diumumkan. Alasannya: durasi

AMI Awards yang harusnya jadi pionir penghargaan musik sayangnya justru terjebak dalam format award-award-an ala acara musik pagi tadi. Ajang yang seharusnya jadi sarana edukasi publik justru jadi alat kejar setoran rating. Dan ini secara tidak langsung memang diakui oleh Yayasan Anugerah Musik Indonesia. “Pembiayaan AMI Awards itu fifty-fifty dengan pihak RCTI. Mereka mencari iklan, begitu dapat dibagi dua, potong ongkos produksi kemudian dibagi dua dengan Yayasan AMI,” kata Seno.

Menjawab “tantangan” Seno tadi, menurut saya ada dua acara awarding yang sejauh ini mampu menjalankan perannya dengan baik. Pertama adalah Anugerah Video Musik Indonesia yang memberikan penghargaan untuk videoklip-videoklip Indonesia yang ditayangkan di acara Video Musik Indonesia (VMI). Setiap episode, dewan juri yang terdiri dari praktisi periklanan,sutradara film,kritikus film, budayawan, dan seniman memilih videoklip terbaik untuk dibawa ke grand final. Aspek penilaian meliputi teknik lighting, editing, camera works, artistik, directing ,wardrobe sampai originalitas tema.

Penyelenggaraan VMI menurut saya memberikan apresiasi yang baik dengan mengumumkan seluruh kategori. Dari kategori yang “umum” seperti videoklip terbaik sampai ke penghargaan untuk mereka yang ada di belakang layar seperti editor, penata artistik dan Director of Photography. Dengan begitu publik pun mendapat asupan informasi, tak cuma menonton seremoni yang penuh hahahihihi saja.Hasilnya adalah nama-nama seperti Dimas Djayadiningrat, Richard Buntario, Rizal Mantovani, sampai Platoon Theodoris.

ICEMA (Indonesia Cutting Edge Music Award) adalah yang berikutnya. Mungkin Seno lupa kepada siapa dia bicara saat memberikan “tantangan” tadi. Wendi adalah anggota Dewan Kategorisasi untuk ajang penghargaan yang pertama kali diadakan tahun 2010 lalu. ICEMA seperti memberi ruang bagi ceruk yang selama ini “tidak terlihat” oleh arus utama.

Berbeda dengan AMI yang serba dirahasiakan siapa-siapa saja yang duduk sebagai juri, ICEMA memberikan informasi jelas di websitenya. ICEMA juga memberikan detail persyaratan karya yang bisa dikompetisikan beserta aspek penilaiannya. Saat penanugerahan, semua nominee diumumkan. Saya ingat saat gelaran pertama Soleh Solihun yang didapuk sebagai MC mengeluh kecapaian membacakan semua kategori.

Well, melihat dari kacaunya penyelenggaraan AMI, sepertinya musik Indonesia ya masih gitu-gitu aja. Surem

NOTE:

Wawancara dengan Seno M. Hardjo dapat disimak di http://rollingstone.co.id/read/2013/07/11/181348/2299922/1096/yayasan-ami-ami-awards-dijalankan-dengan-kejujuran-yang-luar-biasa?lftheadline

Laporan pandangan mata AMI Award 2013 dapat disimak di http://rollingstone.co.id/read/2013/07/03/230638/2292037/1093/dari-dominasi-noah-hingga-pemenang-yang-tak-diumumkan-di-ami-awards-2013

Mengenai Video Musik Indonesia dapat dibaca di http://twittweb.com/mengenang+kembali+acara-23804628

Informasi mengenai ICEMA dapat dilihat di http://icema.co.id/page/about-icema.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *