Kapan Kita ke Konser Lagi?

Hai kawan masihkah kita ada di jalan yang sama setelah sekian lama? (Buka, Pure Saturday)

Ketika mulai tekun mendengarkan Pure Saturday medio 2007 lalu, lagu tadi jadi salah satu yang masuk daftar heavy rotation di playlist saya. Dari pagi sebelum berangkat kuliah, saat mengendarai motor menuju kampus (kebiasaan buruk, sebelum diingatkan mantan pacar yang sekarang jadi istri saya), saat nongkrong di kampus, dan pastinya saat mengerjakan tugas-tugas kuliah.

Waktu itu saya tak begitu ambil pusing dengan liriknya. Saya jatuh cinta dengan intro yang menampilkan harmonisasi gitar khas Pure Saturday. Seiring waktu berjalan, saya merasa punya ikatan lebih dengan lagu ini. Terlebih setelah saya bekerja lalu  menikah.

Saat dulu masih kuliah, terutama setelah tahun kedua, saya juga teman-teman satu tongkrongan di kampus seperti dianugerahi banyak waktu luang. Banyak keseloan di depan mata yang terlalu legit untuk ditolak. Sekali waktu kami mengisi dengan kegiatan yang lumayan produktif seperti ikut kompetisi, tapi lebih banyak diisi dengan kegiatan-kegiatan yang benar-benar selo. Salah satunya mendatangi konser-konser untuk berburu setlist. Saya menamai sindikat kami dengan nama Bulaksumur Death Star.

Meminjam ungkapan Sheila On 7, kami menikmati kesombongan di masa muda yang indah dengan memamerkan setlist bertanda tangan. Kesombongan akan makin menjadi kalau bisa befoto bersama musisi. Maklum, kami tak bisa mengaktualisasikan diri dengan nongkrong dengan mobil mewah tiap Rabu malam di Boulevard Kampus.

Ketika satu persatu dari kami lulus dan meninggalkan Jogja, ritual tadi tetap kami lakukan. Terima kasih untuk kecanggihan teknologi beserta printilan-prtintilannya. Kami masih bisa menikmati kesombongan tadi meski harus bernegosiasi dengan pekerjaan, tagihan pulsa, bayaran kost, dan cicilan motor. Sampai akhirnya saya mengakhiri masa lajang akhir tahun 2012 kemarin.

Banyak yang bilang, menikah adalah hilangnya separuh kebebasan. Saya pun sepakat soal itu. Sekarang saya tak bisa kesana kemari sebebas dulu mengingat saya sudah punya tanggung jawab. Akhir pekan yang biasanya jadi waktu khusus untuk saya datang ke acara-acara musik sekarang harus dibagi dengan waktu saya bersama istri (kami sama-sama bekerja), dan orang tua (saya masih numpang di tempat orang tua istri, dan tiap akhir pekan saya mengunjungi orang tua saya) Frekuensi kehadiran saya di konser musik harus mengalah.

Pertengahan Juni kemarin, AW yang merupakan bagian dari Bulaksumur Death Star melontarkan wacana untuk “reuni” Bulaksumur Death Star di konser 19 tahun Pure Saturday di Dago Tea House, Bandung. Saya kalut betul saat itu. Satu sisi, saya ingin menonton konser tunggal dalam momen spesial. Ulang tahun band idola sekaligus peluncuran buku biografi juga berkumpul dengan kawan lama. Tapi disisi lain, saya sudah punya komitmen professional (ceileh…) Saya diundang oleh Sampoerna untuk menonton reuni Dewa 19, salah satu band pembentuk masa kecil saya, di Big Bang Soundrenaline 2013 di Jogja sebagai perwakilan dari blogger.

 Tawarannya begitu menggoda iman. Nonton band idola, dibayari tiket pesawat pergi pulang, diinapkan di hotel berbintang, dan kamu dibayar untuk itu. Namun yang paling penting bagi saya adalah saya dapat pengakuan. Curhat sedikit, selama ini istri saya masih tidak yakin apakah keseloan saya ini bisa mendatangkan manfaat. Saya selalu bilang, untuk menikmati proses ini. Begitu dia tahu saya dapat honor yang lumayan, dia sedikit demi sedikit menyetujui beberapa proposal yang saya ajukan. Salah satunya adalah pos beli CD musik tiap bulan hehehe.

Akhirnya, saya dan AW sepakat. Bulaksumur Death Star akan reuni di dua kota. Bandung dan Yogyakarta. Di Yogya, saya mengontak Nadia dan Remo. Di Bandung, Awe mengajak partner langganan tiap nonton konser, Achi. Seperti biasa, taruhannya berupa pameran foto setlist.

Untuk beberapa jam, saya kembali ke “zaman jahiliyah”. Memelototi penjuru panggung untuk melihat dimana posisi setlist yang bisa disikat, menghitung berapa waktu untuk mendapatkan setlist kemudian lari ke backstage untuk meminta legalisir. Sayang, kemarin saya terlalu malas melakukan itu. Kalaupun ada hanya satu buat setlist Dewa 19 yang diberi panitia untuk media, tanpa dibubuhi satupun tanda tangan personil Dewa 19 yang malam itu tampil. Saya hanya dapat tanda tangan Andra Ramadhan di sampul Pandawa Lima, album favorit saya.

Beberapa hari setelah konser-konser tadi , kami berbagi momen lewat aplikasi pesan instan di ponsel. Intinya satu. Kami kangen masa-masa selo tadi. Kehidupan kami terlalu pendek kalau hanya diisi dengan kerja, kerja, dan kerja. Kami butuh selo, kami butuh konser. Dan kami selalu bertanya, “Kapan kita ke konser lagi?”

Tulisan ini terinspirasi dari tulisan AW disini. Dipersembahkan untuk Nadia, Remo, Beryl, Dwi, Ocha, Gorgom, Andrea, Yoggi, dan calon-calon anggota Bulaksumur Death Star berikutnya….

2 Comments

  1. auliavelina Reply

    halo mas .. dulu kayaknya pernah di rollingstone ya mas?
    gini lho mas, forum musik fisipol mau bikin acara musik gitu mas rencananya..
    nah .. boleh minta tolong minta kontaknya rollingstone yg bisa dihubungi gak ya mas? hehe makasih mas 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *