Pie Kabare, Dah?

Ini adalah tentang orang yang ada di sebelah kiri saya dalam foto yang saya pajang sebagai header warung ini

Namanya Pradah. Aslinya, Perwiro Haryo Mukti. Teman dari masa kuliah. Liverpudlian tulen, lebih suka pakai sandal kalau ke kampus, dan yang paling sering saya curhati waktu saya sedang sibuk-sibuknya mbiribik. Tanggal 18 Juli kemarin dia ulang tahun.

Saya lupa momen perkenalan saya dengan anak Bantul yang selalu mengatakan rumahnya ada pinggiran Kota Yogya ini. Tapi yang saya tangkap waktu awal berkenalan adalah selera berbusananya cukup bagus dan rapih ketimbang kenalan-kenalan baru saya seperti Fajar atau Dito yang terkesan dekil.

Dari area tongkrongan yang sama (Kepel dan B-21), kesukaan musik (dia orang pertama yang berhasil saya cekoki Pure Saturday), lalu nasib yang sama (sama-sama jomblo saat itu), kami punya, istilah ilmiah komunikasinya, field of experience dan term of reference yang sama. Kecuali soal dukungan pada tim sepakbola. Saya pengabdi setan di Manchester.

Seperti sudah jadi aturan tak tertulis di kampus kami, masa kuliah haruslah diisi dengan kegiatan-kegiatan selo. Dari kegiatan selo produktif: jadi awak redaksi dan tim hore Bulaksumur Pos, bikin film pendek dan dokumenter. Juga kegiatan selo yang selo.  Mulai dari curhat di jalanan kompek dosen UGM Bulaksumur, datang malam-malam ke B-21 demi bermain Counter Strike di komputer redaksi Bulaksumur Pos, perlombaan menghitung sisa pulsa kartu prabayar terbanyak, saling membanggakan merk pakaian (ya kami cheap bastard yang senang betul kalau Matahari berbaik hati menjual kaus Super-T seharga 20 ribu dan Sports Warehouse menjual barang-barang lamanya), sampai nonton film horror bersama-sama karena kami punya nyali yang sama-sama ciut.

Momen terakhir memang sialan betul. Waktu itu saya penasaran ingin nonton Pocong:2. Saya belum punya PC saat itu untuk nonton. Kalaupun punya sayapun takut untuk nonton sendiri. Saya segera mengontak Pradah untuk nonton bersama di PC milik dia. Seperti biasa, alasan mengerjakan tugas selalu saya ucapkan kalau pamit ke saudara ibu yang rumahnya saya tumpangi.

Dan saya betul-betul menepati janji mengerjakan tugas. Tetapi hanya lima menit. Tugas intinya adalah nonton Pocong. Betul-betul memalukan. Dua lelaki dalam satu kamar. Dalam ketakutan yang sama menonton film horor. Bantal, guling sampai sarung Pradah yang baunya apek jadi sarana eskapis melampiaskan ketakutan karena kami cukup sadar untuk tidak memeluk satu sama lain. Pulang dari sana saya didamprat karena saudara ibu saya tadi penyakitnya kambuh dan harus ke rumah sakit. Ya kan mana kita tau….

Tapi ya namanya hubungan pertemanan. Namanya gontok-gontokan pasti ada. Yang paling terasa betul waktu kami KKN. Saya sepondok dengan dia. Gontok-gontokan pertama waktu tak sengaja membuka file bokep di flashdisk miliknya yang tertancap di notebook saya. Kesalahan saya: saya teriak-teriak dan mengundag perhatian penghuni pondokan lain yang kebanyakan dari anak-anak mushola kampus. Saya ingat Pradah marah begitu frontal. Wajah termasam dari wajah dia yang paling masam saat emosi.

Kali kedua, masih di momen KKN. Pondokan saya malas betul bersosialisasi dengan warga. Saya menyebut teman-teman saya di pondokan sebagai pembuat kendi karena hobinya di kamar melulu. Lalu saya curhat ke teman saya di pondokan lain. Dan saat saya curhat anak si pemilik pondokan tadi menyerap dengan sempurna curhatan saya dan menceritakan dengan sempurna juga ke Pradah dan teman-teman pondokan saya. Mungkin ada seminggu selalu terhidang muka-muka masam penghuni pondokan tiap bertemu dengan saya. Tapi semuanya berakhir gembira. Apalagi seteah KKN saya dan Pradah bergabung dengan kegiatan selo lain. Membuat dokumenter tentang mbak berjilbab pegawai bioskop Permata yang kini sudah tutup dan membentuk proyek band mitos, The Oncils.

Hubungan saya dan Pradah mulai agak renggang saat saya tinggal menghitung waktu untuk cabut dari kampus.  Ada beberapa masalah pribadi yang tak perlu saya tulis disini. Apalagi waktu saya benar-benar pulang ke Bogor untuk mencari pekerjaan. Saya cuma sekedar tahu bahwa dia akhirnya lulus, lalu sempat bekerja di biro kantor berita Antara, lalu kerja di Nestle, sampai sekarang.

Tapi namanya teman baik. Saya selalu perlu merasa membagi beberapa kabar baik, salah satunya ya  ke Pradah. Dia orang pertama yang saya kabari soal rencana saya menikah tahun kemarin. Dan dia sudah mempersiapkan buat datang. Sayang pas hari-H dia malah sakit. Dan peyakitnya sungguh tidak elit. Gondongan.

Selamat ultah ya Dah. Semoga kamu bernyanyi You’ll Never Walk Alone bukan cuma buat Liverpool doang, tapi buat pasanganmu. Oh ya Dah, Yamaha Vega-mu masih irit bensin kan?

 

4 Comments

  1. @pandu_satria_ Reply

    Asem.. Selera busanaku ra kalah rapih jek.. 😀
    Nice words.. mbok kapan2 aku yo digawekke.. *ngiri.. :p
    Btw happy bday dah.. pye kabarmu?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *