Kapan Sebaiknya Merilis Album The Best ?

Album The Best bagi saya adalah pintu gerbang. Pintu yang mengantar saya mendengarkan secara lebih tekun lagi karya-karya seorang musisi. Sesuai namanya, album The Best adalah kumpulan lagu-lagu terbaik. Soal kriteria terbaik ini tentu sangat debatable. Apakah terbaik soal penjualan, terbaik dalam urusan chart radio, terbaik untuk kualitas rekaman, dan terbaik-terbaik yang lain.

Gambaran jelas akhirnya saya dapat dari dosen saya, Wisnu Martha Adiputra.

Kalo di luar sana, yang industri musik rekamannya sudah bagus, album The Best dan The Greatest Hits dibedakan. Di sini belum. Album The Best biasanya versi penyanyi (produsen teks), sementara The Greatest Hits merujuk pada penjualan single.

Yang jelas, kalau niatnya cuma ingin mendengarkan lagu yang “enak-enak” saja cara paling amannya ya belilah album The Best. Beres.

Ngerinya, album The Best ternyata punya mitos yang kurang mengenakkan. Konon, album The Best adalah penanda berakhirnya karier musisi. Minimal ya memasuki masa hiatus. Beberapa fakta sudah berbicara.

Dewa 19 mengeluarkan album The Best saat kondisi band hancur-hancuran selepas eksodus Ari Lasso, Erwin Prasetya, dan Aksan Sjuman. Langkah serupa dilakukan sebelum Dewa 19 benar-benar bubar tahun 2011 lalu dengan mengeluarkan album Kerajaan Cinta pada tahun 2007.

Padi juga demikian. Selepas Yoyo harus masuk bui karena kasus narkotika, mereka melempar album The Singles  yang berisi 28 lagu dari album-album terdahulu. Sampai sekarang masih belum ada kejelasan tentang nasib Padi selepas Fadli, Rindra, Yoyo, Ari serta penata rekam andalan mereka Stephan Santoso membentuk proyek Musikimia, dan Piyu masih asik dengan mainan label rekamannya.

Sedang Sheila On 7 harus ditinggal pergi gitaris mereka, Sakti, setelah melepas album The Very Best of Sheila On 7 pada tahun 2005. Ironisnya, Sakti pamit ditengah-tengah penggarapan album kelima mereka, 507.

Lepas dari mitos-mitos tadi, muncul pertanyaan. Kapan sebaiknya membuat album The Best. Menyimak beberapa band-band besar tanah air, rata-rata mereka merilis album The Best setelah punya empat album. Netral merilis album Is The Best setelah mencatatkan Wa…Lah, Tidak Enak, Album Minggu Ini, Paten, dan Oke Deh dalam diskografi mereka . Lalu /rif mengeluarkan album The Best Of setelah melempar Radja, Salami, Nikmati Aja, juga …Dan Duniapun Tersenyum ke pasar.

Pola ini menurut saya cukup bijak kalau mengacu ke teori tiga album pertama. Album pertama adalah perkenalan ke pasar. Band belum melakukan ekspolorasi gila-gilaan karena masih mereka-reka bentuk. Ini ditemui di album pertama Sheila On 7 yang penuh nomor catchy yang langsung nyantol ke kuping pendengar. Album kedua adalah pemantapan, seperti yang dilakukan Padi lewat Sesuatu Yang Tertunda. Album ketiga adalah saatnya eksperimen gila-gilaan macam Dewa 19 di Terbaik Terbaik.

Nah untuk band-band seperti J-Rocks yang baru punya dua album penuh dan satu mini album serta D’Masiv dengan tiga album penuh, dan dua  album isinya cuma dua single, mending tunda dulu rencana bikin album The Best. Simpel sih, soalnya saya denger musik mereka ya masih gitu-gitu aja hehehehe ….

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *