5 Momen Terbaik Ada Apa Dengan Cinta

Satu dekade lebih berlalu sejak Nicholas Saputra mampu mengajak para pemuda untuk menjadi penyair dadakan dan Dian Sastrowardoyo membuat para pemudi segera mengenakan kaus kaki bola untuk rapat redaksi majalah dinding.

Dan lebih dari satu dekade juga saya masih mengingat momen-momen terbaik dalam film besutan Rudi Soedjarwo ini. Ini 5 momen terbaik saya di Ada Apa Dengan Cinta, momen kamu yang mana?

Perpustakaan

Kalau waktu itu Rangga membaca buku Fisika untuk Kelas 2 SMA karya Marthen Kanginan, mungkin dia tak lebih dari sekedar anak SMA biasa. Yang membuatnya tak biasa adalah dia membaca Aku karya Sjuman Djaja, yang kemudian membuat pelajar-pelajar SMA menjadi pecinta sastra setelah sebelumnya cuma sekedar tahu sama tahu di pelajaran Bahasa Indonesia.

Aku

Karya Sastra

“Surat gue dibaca juga? Kirain cuma mau baca bacaan penting aja. Karya sastra…”

Tonjokan begitu keras dari Cinta, saudara sebangsa dan setanah air. Well, ini adegan yang cukup bikin saya panas dingin. Bukan apa-apa, saat Cinta mengucap karya sastra itu adalah momen dimana bibirnya begitu menggoda untuk dicium.

Dan kemudian keluarlah satu dialog yang cukup fenomenal waktu saya masih ikut kegiatan pers mahasiswa di Bulaksumur Pos beberapa tahun silam. Dialog yang sering muncul kalau anak-anak magang reporter telat setoran berita…..

“Basi madingnya udah siap terbit!”

Karya Sastra

Gandengan Tangan

Kenyataan bahwa saya melakukan hal yang dilakukan Rangga ke Cinta saat mereka kencan pertama di Kwitang ke pacar saya saat saya juga menjalani kencan pertama sudah cukup jadi alasan kuat kenapa adegan ini masuk.

Gandengan

Makan Bersama

Adegan sebelumnya adalah Cinta datang menengok Rangga yang babak belur digebuki anak-anak di SMA nya. Tiba saat makan siang, Yoserizal bapaknya Rangga menyuruh untuk masak. Selanjutnya bisa ditebak. Mereka berdua di dapur masak makan siang. Ya saya tau kok, Ngga kalo si Cinta itu emang cakep….

Rangga Mbati

Mbati…mbati….Rangga mbati !

Lanjut.

Makan bersama sudah biasa. Diskusi politik sambil makan bersama juga sudah biasa. Tapi makan bersama sambil diskusi politik dengan orang tua calon pacar dalam rangka penjajakan hubungan?

Rangga: “Tahun 96 bikin tesis tentang kebusukan orang-orang di pemerintahan. Ya sama juga cari mati. Masih mending kalo cuma dipecat. Dituduh komunis lah, dituduh gerakan makar lah”

Cinta: ” Tapi bukannya sekarang udah reformasi, Om? Jadi udah ga masalah lagi kan?”

Yoserizal: ” Apanya yang reformasi, Cinta?”

Makan Makan

Lalu tiba-tiba….PRANKKKKKKK!!!!!

Dan selanjutnya adalah adegan Rangga yang cukup heroik. Dia berlari berusaha mengejar pelempar bom molotov……

Rangga Lari

Pertengkaran di Kwitang

Ternyata kencan pertama memang selalu penuh kejutan. Bisa berakhir indah atau malah apes. Rangga dan Cinta kebagian yang kedua. Alih-alih asyik berdiskusi karya-karya sastra, sembari curi-curi kesempatan mbribik tentunya, mereka malah bertengkar karena Cinta memilih nonton  konser Pas Band bersama gengnya. Iya Pas Band betulan main di film ini.

Rangga tak terima. Saya bisa merasakan kekecewaan Rangga karena dulu lumayan sering dibeginikan (malah surhat…).

“Ke sekolah berempat, nonton konser juga berempat. Apa namanya kalau bukan mengorbankan kepentingan pribadi buat sesuatu yang kurang prinsipil ?”

“Justru ini sangat prinsipil…”

Gelut


Dan Cinta lalu ngeloyor begitu saja. Rangga bingung harus bagaimana. Mau dikejar kok ya gengsi, gak dikejar kok tengsin berat. Limbong, juragan buku bekas yang diperankan dengan baik oleh almarhum Gito Rollies lalu berkata, “Kau perhatiin ya. Kalau sampai dia menengok kemari itu berarti dia berharap kau mengejarnya. Perhatiin…”

Maka nikmat mana yang kamu dustakan


Tuh…Dua detik yang membuat saya melongo. Penampilan terbaik seorang Dian Sastrowardoyo bahkan sampai detik ini.

Siapa yang bisa menyangkal kombinasi kaus oblong pink, jaket denim yang diikat sekenanya di pinggang, celana denim, sneakers, dan wrist band dari ikat rambut dengan tatapan penuh amarah namun sebetulnya memanggil, “Kesini napa temenin gue….”

Untuk siapapun yang punya ide akan adegan ini, semoga Tuhan Yang Maha Kuasa selalu memberkatimu.

 

18 Comments

    1. masjaki Reply

      Maaapin mas Bud. Maapin banget itu sampe luput. Luput yang disengaja soalnya saya kecewa imej si Karmen (Adinia WIrasati) sebagai cewek tomboy bin bengal tiba-tiba runtuh 🙁

  1. devilpenakut Reply

    Rubah dikit boleh?

    “Bukan apa-apa, saat Cinta mengucap karya sastra itu adalah momen dimana bibirnya begitu menggoda untuk dicium”

    jadi

    “Bukan apa-apa, saat Cinta mengucap karya sastra itu adalah momen dimana bibirnya begitu menggoda untuk diemut”

    Sek.sek. dadi saru rak kuwi?

  2. Pratiwi Utami Reply

    Aku paling suka moment kedua.
    “Basi madingnya udah terbit!” sambil mbanting pintu redaksi Bulpos
    *ceritanya abis nyemprot reporter ngaret 😀

  3. allex Reply

    jangan lupa momen terbaik kalo nonton AADC versi bajakan.. yaitu saat cinta ngejar rangga ke bandara tiba2 filmnya udahan *mungkin handicam buat ngebajak wkt itu abis batre atau apalah).. terus diganti sama semacam running text gitu yg nyeritain ending film tersebut.. seolah2 sutradara film ini ikut teriak.. “mampus lo pade nonton yg bajakan..”

  4. Pingback: Ada Apa Dengan Cinta (dan Saya) ? | Riyanski

  5. rangga wanna be Reply

    Hahaha…sumpah keren ini mas. jadi flashback ke jaman dimana pegangan tangan aja bikin deg2an maha dahsyat. 😀

  6. Chandra Kirana Reply

    kalo menurut saya, adegan yang tak kalah bagus itu ketika:
    1. scene ciuman yang gagal (mungkin rangga gak berani karena dia pikir ini terlalu cepat) padahal si CInta dah siap banget tuh. bikin kesel aja sini serahin gue
    2. cinta tersipu malu ketika selesai menyenandung puisi rangga di kafe. itu pas banget!
    3. ketika CInta menuang saus di mangkok baksonya plus pas dia di interogasi Alya CS. betapa………
    memang yang terbagus itu “Basi!!!! Madingnya dah sipa terbit!!”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *