MODUS : Mode ala Kampus, Mode buat Ngampus (Kajian terhadap Busana Kuliah Mahasiswa Fisipol UGM selama 2008-2009)

Ini tulisan lama saya. Sekitar tahun 2009 kalau tak salah. Sebelumnya sudah saya unggah di Multiply saya (R.I.P) dan notes Facebook. Jadi selama kurun waktu 2008 sampai 2009 saya melakukan kajian karena pusing dengan skripsi yang tak beres-beres. Nah hasilnya seperti yang….satu ini…….

Dulu waktu masih SD saya selalu ngebet pengen jadi mahasiswa. Saya bosan berseragam putih merah, gak ada variasi. Nah setiap kali bertemu mas dan mbak mahasiswa, saya selalu melihat sosok-sosok keren, sosok-sosok tanpa seragam. Kini saya sudah mahasiswa, sudah hampir mantan mahasiswa malah.

Saya beruntung kuliah di kampus yang gak terlalu mementingkan urusan outfit, tidak seperti fakultas belakang yang kudu ini itu buat jadi sukses. Anda mau sukses, pakailah kemeja berkerah, sepatu dan bla..bla..bla.

Fakultas saya, apalagi jurusan saya termasuk cuek untuk urusan seperti itu. Dosen-dosen jurusan saya saja sebagian besar ber-jeans dan ada yang ber t-shirt saat mengajar. Ibarat bus, mesin lebih penting daripada body.

Makanya, di fakultas saya ada bermacam-macam mahasiswa dengan segala dandanannya. Nah seperti biasa, saya akan membuat klasifikasi sontoloyo. Kali ini tentang 5 mazhab mode terbesar di kampus saya. Ini sekadar hiburan ringan kala revisi skripsi saja, tak ada maksud buat melecehkan kelompok tertentu kok.

1. Mode Mushola
Jam sholat dzuhur biasanya dipenuhi makhluk-makhluk lapar yang menjejali kantin. Tapi mereka justru memenuhi mushola untuk dzhuran dan bercengkerama setelah menghadap Sang Pencipta. Ya, merekalah aktifis mushola kampus.

Dandanannya mudah dikenal, sekaligus bertahan dari tahun ke tahun. Meski tren celana pipa menjamur, para ikhwan setia dengan celana bahan sebatas mata kaki serta gamis panjang bagi kaum akhwat.

Meski kaos dengan warna jedar-jeder mencolok mata sedang mewabah, mereka setia dengan jaket kebanggaan bertuliskan nama organisasi, biasanya kalo gak KAMMI ya HMI, atau jaket Save-Save-an seperti Save Palestine, Save Ukhuwah. Dan satu lagi, mereka (kaum ikhwan) lebih memilih bersandal ketimbang bersepatu kets. Gak tau kenapa, mungkin karena anti pakai Converse yang produk Amerika. Tapi kan kita bisa nginjak Amerika sekaligus bergaya dengan pakai Converse, ya to?

2. Mode Mapala
Saya selalu beranggapan anak-anak mapala (mahasiswa pecinta alam) itu cool. Lupakan rambut gondrong bau matahari yang jarang dikeramas oleh Suster Keramas. Lupakan wajah dekil dan badan bau yang jarang tersentuh air. Lupakan sisa bau alkohol yang masih menempel hasil mabuk semalam. Bagi saya mereka tetap cool dengan kemeja flannel, celana jeans belel, dan sepatu atau sandal yang biasa dipakai untuk naik gunung. Sama seperti geng Mola, anak-anak Mala seperti kebal pada perubahan mode mutakhir khas anak-anak gaul jaman sekarang.

3. Kerudung Gawul
Berbeda dengan akhwat-akhwat yang identik dengan gamis serta jilbab panjang, para Kawul-ers muda ini mencoba mengkompromikan perintah agama dengan tuntutan mode. Kudungan tapi gak ketinggalan. Ketinggalan mode maksudnya.

Nah jadinya ya seperti begini. Kerudung untuk menutup kepala yang sesuai agama Islam memang termasuk bagian aurat. Lalu atasannya biasanya kaos lengan panjang (umumnya kaos adeknya yang dipakai). Kalau tak ada kaos lengan panjang ya kaos lengan pendek tapi ditambahi sambungan (pipa kali disambung). Itu yang umum ya. Nah bawahannya jeans. Jeans kalo longgar kan lucu ? nah dipakailah jeans model pensil yang membuat kaki terlihat mirip lemper. Atau yang lebih mutakhir sesuai tuntutan kemajuan peradaban dunia. Celana legging, yang sering dipakai buat latihan senam, yang betul-betul full pressed body, dijadikan sebagai pentup bagian bawah.

Nah sekarang bandingkan antara Mola-ers dangan Kawul-ers dengan metode analogi bangun datar. Mola-ers adalah persegi panjang. Dari atas sampai bawah baju yang mereka kenakan ya longgar-longgar, lurus dan sama sampai bawah. Nah kalo Kawul-ers adalah segitiga sama kaki terbalik. Atas longgar, makin kebawah makin sempit.

4. Mas-mas Klimis
Awalnya saya kira mereka mau sidang skripsi. Kemeja, celana bahan atau jeans (tapi bukan blue-jeans), dan sepatu pantovel. Tapi kok ya tiap hari sidang terus. Ternyata mereka adalah penganut sekte Mas Klimis. Kalau kebanyakan teman-teman saya (dan saya) kuliah dengan kostum standar (kaos, jeans dan sepatu kets), maka mas-mas klimis seperti mau sidang skripsi tadi. Kalau kami datang ke ruang kelas dengan muka kucel, rambut kusut dan aroma khas belum mandi hasil begadang garap tugas, maka mas klimis datang dengan muka segar, badan wangi dan rambut berdiri yang mengkilat. Oh ya, hobi mereka adalah merapikan baju setiap kali lewat di kaca kelas yang gelap. Beda dengan kami, mengintip apakah ada makhluk manis di balik kaca gelap 😀

5. Etalase
Pengen lihat seisi distro di Gejayan ? lihat makhluk ini. Ingin menengok Centro ? berkenalanlah dengan mereka…..

Ada yang mau nambahin ? 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *