Mengenang “Sex In The School”

Sekitar 2 tahun lalu saya diminta kawan saya yang kini jadi dosen di kampus saya untuk mengisi kelas yang diampunya: Dasar-dasar Penulisan. Saya diberi tugas untuk menceritakan pengalaman menulis saya sebagai kontributor (ceileh…) untuk Rolling Stone Indonesia dan Jakartabeat.net.

Kelasnya penuh, mengingat ini kuliah wajib di jurusan saya. Saya jadi semangat, apalagi banyak dedek-dedek lucu hehehe. Waktu masuk sesi tanya jawab ada yang bertanya, “Pengalaman nulis masnya dimulai dari mana?”

Saya mendalami dunia penulisan, penulisan berita terutama, saat masuk ekskul jurnalistik saat SMA. Ekskul ini popularitasnya kalah jauh dibandingkan dengan bola basket, yang prestasinya di tingkat Kabupaten Magelang ternyata gak bagus-bagus amat tapi anak-anaknya aksinya sudah selangit. Tapi saya yakin saya akan mudah mendapat popularitas. Maklum saya gak ganteng-ganteng amat (waktu itu ya, sekarang sih beda), fisik gak gagah-gagah mata, dan pergi ke sekolah dengan angkutan umum, bukan dengan kendaraan yang jadi standar populer di SMA saya: motor bebek yang full variasi Posh.

Keyakinan saya didasari bahwa majalah sekolah yang dikelola lewat ekskul jurnalistik akan dibaca semua orang, dari guru sampai penjaga sekolah. Otomatis kalau saya nulis dan tulisan saya bagus orang akan mencari-cari siapa itu Fakhri Zakaria. Apalagi ada layanan titip salam di majalah, mau gak mau yang ingin nitip salam pasti akan mencari-cari saya kan?

 Oh ya, itu belum termasuk tugas saya yang lain lho sebagai dokumentasi kegiatan sekolah lewat kamera. Tinggal nenteng kamera, saya pasti dipanggil untuk dimintain motret cewek-cewek kece yang bagusnya juga senang difoto. Lumayan, punya negatif film (fotografi digital belum segila sekarang) yang bisa saya cetak sewaktu-waktu untuk tombo kangen.

Menginjak kelas 3, saya sudah tidak aktif di majalah sekolah tadi. Maklum sudah harus persiapan buat ujian akhir. Harus rajin belajar. Tapi kok ya gatel juga untuk nulis dan sekaligus menjadi terkenal. Waktu itu di Yogya dan sekitar ada penelitian Iip WIjayanto yang bikin geger. Dia bilang 97 persen koma sekian-sekian mahasiswi Jogja sudah tidak perawan.

Meski pun metode penelitiannya juga gak jelas (apakah mahasiswi tahun pertama atau mahasiswi S3 yang sudah punya anak?), tapi kok bikin penasaran juga. Apalagi saya dikasih pinjam buku karangannya yang berjudul “Sex In The Kost”. Ngeri-ngeri sedap juga isinya, meski saya kecewa karena laporan Iip gak seliar Freddy S. atau Enny Arrow.

***

Seperti biasa kalau bel tanda istirahat sudah menyalak, saya sudah ada di pole position untuk ngacir ke kantin. Sambil mulut sibuk mengunyah bakwan, telinga saya tekun menelan cerita kawan saya, sebut saja Asep, tentang isu beberapa siswi yang gosipnya sudah berbadan dua. Saya sih tadinya gak terlalu antusias, karena gosip itu sebetulnya juga sudah tersebar kesana kemari. Tapi yang bikin saya jadi terhipnotis adalah saat Asep bilang, “Aku meruhi dewe de’ e pas yangyangan ning sekolahan (aku melihat sendiri waktu mereka pacaran di sekolahan).”

Di kelas, saya sudah susah untuk konsentrasi. Sialan betul cerita Asep tadi. Efek terlalu banyak membaca “Sex In The Kost” akhirnya muncul: cerita ini harus ditulis. Besoknya dengan uba rampe semangkuk nasi soto, gorengan dan es teh manis, Asep pun saya tanggap untuk memutar kembali rekamannya. Asep mengajak kawan saya yang lain, yang juga senang mengintip aksi-aksi siswa saat kencan di sekolah.

Saya mewawancarai mereka kalau tak salah hampir seminggu di tempat dan waktu yang tak terlalu mencolok. Di parkiran motor saat jam kosong atau selepas pulang sekolah di kantin yang sudah tutup. Ampuh juga rupanya uang buka mulut yang saya berikan tadi. Mereka dengan rinci memetakan lokasi dan waktu-waktu prime time untuk main gila.

Setelah mendapat data-data yang cukup, saya harus menyiapkan segepok literatur supaya tulisan saya ini keliatan berbobot. Pegangan saya adalah buku “Pengantar Sosiologi” karya Kamanto Sunarto, pinjaman dari om saya. Bab yang saya jadikan rujukan adalah tentang perilaku menyimpang. Sedap.

Supaya tidak menimbulkan kecurigaan, teruatama dari om saya yang hobi ngintip kesibukan saya, saya mengetik saat rumah sedang sepi. Dokumen saya simpan di disket yang saya sembunyikan dengan rapih di sela-sela tumpukan buku-buku pelajaran saya. Hasilnya saya cetak saat seisi rumah sedang pergi ke acara hajatan. Beres. Sekarang tinggal mikir bagaimana distribusinya.

Saya sengaja hanya mencetak satu kopi saja. Pertama supaya unsur misteriusnya terjaga. Kedua, kalau ada masalah, saya bisa dengan mudah menarik dokumen tadi dan kemudian memusnahkannya. Oh ya, saya pakai nama samaran. Saya lupa, tapi yang jelas ada embel-embel Al-Maksumi yang saya juga bingung artinya apa karena tiba-tiba saja terlintas.

Terbitan tadi saya beri judul “Sex In The School”.

***

It’s the showtime. Karena misi pertama saya bikin terbitan ini adalah untuk menarik perhatian kecengan-kecengan saya di kelas 2, yang pertama kali saya kasih lihat tentu mereka. “Jangan disebarin, baca aja sendiri, jangan bilang saya yang bikin,” kata saya .

Bel pulang sekolah, apa yang saya harapkan tercapai. Kecengan-kecengan saya tadi memanggil-manggil nama saya. Mereka semua senang dan terhibur sekaligus nagih edisi kedua yang lebih menantang. Saya sok-sok an jual mahal.

Dua narasumber saya tadi lalu saya kasih giliran berikutnya. Mereka keliatan senang, bahkan menjanjikan cerita yang lebih gila lagi. “Sex In The School” kemudian bergulir cepat. Tiap saya lewat kawan-kawan saya memohon supaya diberi pinjam.

Saya menikmati saat-saat ini. Menjadi populer dan dicari banyak orang. Saya harus menyiapkan kejutan yang lebih gila lagi untuk berikutnya. Saya harus mendapat pengakuan dari pelakunya langsung!

Beberapa nama yang sudah lama berpacaran dengan teman sekolahnya sendiri sudah saya kantongi. Sekarang waktunya mengorek mereka. Sengaja saya milih yang cewek dulu karena biasanya cewek kan suka takut-takut untuk diajak nakal. Saya ingin membangun ketegangan di calon naskah saya nantinya.

Waktu buat wawancara tiba. Tololnya, saya menggunakan treatment yang sama saat mengorek kesaksian dari Asep. Pertanyaan pertama tanpa ampun langsung meluncur dari saya, “Kamu katanya pernah ngamar ya sama pacarmu?”

Efeknya sungguh di luar perkiraan. Responden saya tadi menangis dan berlari keluar kelas yang saya pakai untuk tempat wawancara. Gawat nih situasinya.

***

Apa yang saya takutkan akhirnya datang juga. Terbitan saya menimbulkan masalah. Responden saya tadi mengancam membocorkan proyek rahasia saya ini. Pilihan sulit. Kalau sampai ada intel dari guru BP dengar saya bisa kena masalah dengan sekolah. Apalagi saya sudah kelas 3 dan waktu itu sekolah sempat kesal dengan saya karena om saya (yang jadi wali saya selama SMA) memprotes dengan keras kebijakan sekolah yang menarik sumbangan pembangunan masjid untuk anak-anak kelas 3.

Akhirnya saya harus tunduk juga. Terbitan yang sedang berada di kecengan-kecengan saya (mereka pinjam lagi, katanya penasaran) segera saya tarik. Jam menunggu pulang adalah salah satu saat terlama dari hidup saya. Ingin rasanya segera pulang dan memusnahkan semua dokumen-dokumen saya.

Sampai di rumah, saya langsung membakar kopi terbitan. File naskah di komputer saya hapus permanen. Disket untuk menyimpan dokumen saya hancurkan dan saya buang ke tempat penampungan sampah dekat rumah.

Besoknya saya bertemu lagi dengan responden saya. Sesuai kesepakatan, saya menghentikan proyek gila ini. Syukurlah, pihak sekolah tak menyadap pembicaraan saya ini. Kalau sampai kejadian, entah bagaimana nasib saya.

Belakangan hari setelah duduk di bangku kuliah, saya mendadak sedikit bangga dengan aksi saya saat SMA. Saya bisa juga melakukan jurnalisme investigatif, meski dalam skala yang tentu jauh sekali dari apa yang sering dilakukan Tempo hehehe.

 

 

 

 

5 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *