Evolusi Jas Almamater Mahasiswa Indonesia

Kebutuhan manusia akan busana, mengacu pada penjelasan bapak Nasrudin yang mana adalah guru ekonomi saat saya SMP, merupakan kebutuhan yang sifatnya primer selain makanan dan tempat tinggal. Pemahaman ini tentu menjelaskan mengapa masih banyak jomblo-jomblo di dunia karena kebutuhan cinta rupanya tidak penting-penting amat. Tapi tulisan ini hukan dimaksudkan kearah situ.

Pentingnya kebutuhan sandang tadi membuat institusi pendidikan tinggi menjadikan jas almamater sebagai bagian dari paket cinta untuk mahasiswa baru. Tentunya bukan untuk baju kuliah karena dengan meningkatnya perekonomian, para mahasiswa sudah bisa membeli baju kuliah yang lebih beragam, tapi untuk beberapa fungsi yang tidak bisa dilakukan oleh busana keluaran  Uniqlo, H & M, H & R, WIN-HT, HRD dan sebagainya.

Tulisan ini akan mendeskripsikan fungsi jas almamater secara kronologi dalam beberapa periode waktu.

50-an

Saya memulai riset ini dari kurun waktu dekade 50-an saat perguruan tinggi negeri pertama di Indonesia yakni Universitas Gadjah Mada didirikan pada 19 Desember 1949. Alasannya karena saya almamaternya, titik.

Dibandingkan dengan jas almamater kampus lain, jas almamater UGM mempunyai pilihan warna yang tidak bisa dideskripsikan dengan spektrum warna. Menurut Fajar Pratama dan Ardi Wilda Irawan (2006) warna jas almamater UGM dijelaskan sebagai “absurd kalau tak mau dibilang ora ceto

Namun dibalik pilihan warnanya, sesungguhnya jas almamater UGM adalah cerminan solidaritas anak-anak Bulaksumur (sebelumnya cah Keraton) terhadap nasib bangsa Indonesia yang begitu menyedihkannya sehingga….memakai karung goni sebagai pakaian sehari-hari. Jadi jas almamater saat itu berperan sebagai alat perekat solidaritas sosial.

Wajah-wajah calon penerus bangsa. LIhatlah tatapan visioner dari pemuda di ujung paling kanan. Sungguh begitu....suram

Wajah-wajah calon penerus bangsa. LIhatlah tatapan visioner dari pemuda di ujung paling kanan. Sungguh begitu….suram

60-90-an

Di kurun waktu yang cukup panjang ini, peran jas almamater bisa dikatakan dalam pencapaian terbaiknya dengan kokoh berdiri di podium-podium menyuarakan ketidakadilan (bahasaku cah BEM banget cah…)

Kegiatan demonstrasi secara tidak langsung mensyaratkan pemakaian jas almamater sebagai salah satu atribut, selain spanduk, ikat kepala, dan pasta gigi untuk jaga-jaga kalau polisi menembakkan gas air mata.

Selanjutnya biar foto yang berbicara….

Gie eh Nico

Eh ini jas almamater bukan ya ehehehehe

Eh ini jas almamater bukan ya ehehehehe

90-2000 an

Selepas Reformasi, mahasiswa kembali ke kampus. Peran jas almamater mengalami pergeseran ke peran-peran yang sifatnya domestik. Mulai dari atribut saat menjalani program Kuliah Kerja Nyata di Desa (program ini sebetulnya sudah dimulai era 70an, pencetusnya adalah Koenadi Hardjasoemantri yang pernah jadi Rektor UGM tahun 1986-1990), sampai penambah kewibawaan saat mempromosikan kampus di SMA-nya.

KKN UGM Nglipar

2005 – sekarang

Sejak program Empat Mata muncul di Trans7 pada September 2005, jas almamater kembali mengalami pergeseran fungsi. Kali ini fungsinya adalah untuk disyuting sambil keplok-keplok. Dulu jurusan saya sempat ikut tren ini saat program Studi Perspektif (semacam field trip atau karyawisata) ke Jakarta. Tapi karena kami cukup pintar untuk tidak ikut dalam kebodohan itu, kegiatan itu sepengetahuan saya sudah dicoret.

Pas MantabGak tau mulai kapan – sekarang

Minta Sumbangan

 Sumbangan Lagi

Cari Sumbangan

3 Comments

  1. Agfian Muntaha Reply

    Mas, itu yang foto terakhir, mbak2nya yang pake jas merah paling kiri cakep, tahu namanya gak? 😀

    Btw, tulisannya keren bingit! 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *