Kecanggungan di Masa Muda yang Indah

Sore hari jelang buka puasa di tahun 2010. Saya berada di belakang Wisma Kosgoro, Thamrin, Jakarta Pusat. Di depan saya ada Wahyu “Acum” Nugroho. Sambil menunggu adzan maghrib saya mewawancarai bassis sekaligus vokalis dari Bangkutaman yang saat itu masih bekerja sebagai jurnalis majalah Trax yang berkantor di kawasan tersebut.

Ini penugasan pertama saya sebagai “anak baru” di Jakartabeat setelah sebelumnya bos situs tersebut, Philips J. Vermonte, menawarkan saya untuk gabung di pasukannnya setelah mendengar mixtape saya tentang lagu untuk Jakarta. Mixtape yang sebetulnya hanya proyek iseng antara saya dengan Ardi Wilda untuk menunggu bedug Maghrib.

Saya menulis feature panjang tentang Bangkutaman. Kelak tulisan tersebut masuk dalam buku Like This: Kumpulan Tulisan Terbaik Jakartabeat 2010, bersama naskah-naskah dari penulis-penulis kenamaan seperti Dewi Lestari, Arian13, Idhar Resmadi, Ahmad Sahal, dan lain-lain.

“Mainkan bung,” kata mas Philips lewat percakapan di Facebook. Saat itu doski sedang menyelesaikan studi doktoralnya di Amerika Serikat.  Karena sebelumnya saya sempat bekerja sebagai reporter di harian yang markasnya di Kebon Sirih itu, saya spontan bertanya “Ada ID Press mas?”. Dia hanya membalas dengan emoticon nyengir. “Kalo ada yang nanya kantor kita, jawab aja di chat Facebook,” tukasnya. Gila ini orang!

Saya sebetulnya sudah pernah melakukan wawancara panjang. Beberapa bulan sebelumnya saya mewawancarai Waldjinah untuk artikel saya dan Ayos Purwoadji di majalah Rolling Stone Indonesia. Tapi wawancara kali ini sukses membuat saya merasa gemetaran.

Acum ingat, saya begitu canggung dan tegang sehingga saya berulang kali melontarkan pertanyaan yang sama. Personel yang lain, gitaris J. Irwin dan drummer Dedyk Nugroho menyebut saya sebaiknya jadi penulis ensiklopedia karena banyaknya pertanyaan yang saya ajukan. Padahal saya ditemani oleh Ardi Wilda.

Bagaimana tidak tegang kalau tugas lapangan pertama langsung dihajar dengan feature panjang! Apalagi saya membawa nama Jakartabeat yang punya segepok penulis berkualitas. Kalau debut saya mengecewakan, karier menulis saya disini bisa wassalam.

***

Selama empat tahun lebih saya kuliah, kampus mengajarkan saya bahwa karya jurnalistik yang baik adalah straight news yang berpegang teguh pada model piramida terbalik. Tak ada ruang untuk subyektifitas. Jakartabeat menunjukkan sebaliknya.

Saya yang waktu itu baru masuk diberikan kebebasan untuk menghadirkan sudut pandang “saya” dalam berita. Kelak saya menemukan itu di tulisan mas Taufiq Rachman yang sedih karena toko kaset langganan di dekat kampusnya harus tutup, mas Sammack yang memutar kembali ingatannya tentang nama-nama penyiar radio favoritnya, atau curhatan Nuran Wibisono yang baru saja ditinggal kabur pacarnya.

Saya menemukan ada kedekatan yang begitu intim. Sesuatu yang tak saya temui di teks-teks berita yang disodorkan dosen saya sebagai materi perkuliahan di kelasnya

Secara pribadi, ada empat tempat yang saya anggap sebagai “sekolah menulis” saya. Pertama adalah Bulaksumur Pos, tempat saya mengejawantahkan segala teori tentang berita yang saya dapatkan di kelas (sekaligus juga tempat mencari peruntungan soal asmara, tapi gagal…).

Kedua, Kemah Menulis Tempo Institute yang membuka pemahaman baru tentang penulisan berita sekaligus mengenalkan saya pada sosok Ayos Purwoaji.

Ketiga, Rolling Stone Indonesia lewat sosok Wendi Putranto yang memberikan ruang bagi saya untuk menuntaskan impian masa muda (ceileh…) .

Dan terakhir adalah Jakartabeat, tempat saya untuk belajar dan terus belajar bersama puluhan nama hebat lainnya.

Di Jakartabeat saya diajarkan untuk berdialog lewat tulisan, tradisi yang makin hari makin tergerus oleh 140 karakter. Di Jakartabeat, saya dibimbing bagaimana menciptakan wisdom of the crowd di tengah publik yang makin hari makin berisik, dan seterusnya dan seterusnya.

***

Dua tahun berselang di awal tahun 2012. Saya kembali lagi bertemu dengan Acum, Irwin dan Dedyk. Masih di sore hari. Kali ini di belakang Purna Budaya UGM. Mereka sedang bersiap-siap untuk tampil dalam konser “pulang kampung” pertama setelah rilis album Ode Buat Kota.

Kami berbicara santai. Sesekali saya bercakap dalam bahasa Jawa dengan Irwin. Rupanya didikan dari mas Philips, juga kompatriotnya mas Taufiq Rahman yang membidani website ini dari blog berburuvinyl.wordpress.com, membuat  saya bisa tampil lepas. Saya ingat, selepas membereskan feature panjang tadi, mas Philips memberikan saya kutipan dari Lester Bangs. “You cannot make friends with the rock stars…”  Roger that, bos!

Tidak ada lagi kecanggungan seperti dua tahun silam.

Tulisan ini dibuat sebagai kado ulang tahun ke-4 Jakartabeat. Beberapa kontibutor juga menuliskan memoarnya atas inisiasi dari Ardi Wilda. Tulisan Ardi Wilda bisa disimak di sini. Curhatan Nuran Wibisono bisa dlihat di sini. Analisis Gde Dwitya bisa dibaca di sini. Dan kajian Arman Dhani bisa ditelaah di sini.

1 Comment

  1. Pingback: 13 Alasan Kenapa Saya Menulis di Jakartabeat | sesikopipait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *