Jalan Mulus Tulus

Tidak banyak solois pria yang bisa lepas dari stigma berkepanjangan: pretty boy dengan bekal lirik dan aransemen yang membuat leleh ibu-ibu muda atau mbak-mbak lajang usia matang. Dugaan tadi sempat saya alamatkan kepada Muhammad Tulus. Memang saya kelewatan sih. Gara-gara dugaan tadi saya malas untuk membeli debut album selftiteld-nya.

Ketika Tulus mengeluarkan album kedua, saya tergelitik untuk mengambilnya dari rak toko CD. Sukses mencatatkan diri sebagai salah satu Album Indonesia Terbaik tahun 2012 dari Rolling Stone Indonesia lewat album selftitled yang jadi debut serta hype di Java Jazz Festival 2014 lalu menjadi pemicu saya.

Dan Gajah adalah jawaban Tulus atas segala kesompralan saya selama ini. Tulus juga membuktikan dia berhasil mengatasi sindrom album kedua. Gajah seperti karpet merah di atas jalan mulus karir bermusik Tulus.

Tulus memang masih menyimpan potensi untuk menjadi penyanyi model pretty boy tadi. Gajah mempunyai amunisi lebih dari cukup untuk membuat mereka meleleh. Tapi Tulus sepertinya enggan untuk bermain aman. Dia memberikan lebih. Ya di musik, ya di lirik.

“Baru” adalah penggoda yang kuat untuk kita menganggukkan kepala, menjentikkan jari, atau menggoyangkan kaki dari sejak intro. Gitaris Anto Arief seperti baru saja lulus cum laude di Penataran P4 sebagai gitaris yang mengamalkan prinsip demokrasi Pancasila: kebebasan yang bertanggungjawab. Anto mengeluarkan segala antusiasmenya akan Motown disini tanpa terjebak ego pribadi. Dia memang bermain genit tapi tak terdengar norak, seperti kocokan gitarnya di detik ke-22 . (Mas Anto habis ini saya mohon “kebijaksanaannya” ya hahahahahahaha)

Sementara bass Rudy Zulkarnain dan drum Ari Renaldi menjadi semacam penjaga yang tegas tapi tidak intimidatif seperti satpam komplek sebelah (apaan sih…). “Nikmatilah kejutanku.” Tulus seperti menantang saya mendengar track berikutnya.

Di “Bumerang” Tulus membuka mata saya bahwa dirinya patut dicatat sebagai salah satu penulis lirik berbahasa Indonesia terbaik. Tulus memang masih bermain di tema-tema patah hati, namun prinsip man behind the gun diamini dengan baik oleh dirinya.

Tulus tidak terjebak pada ratapan berbalut kalimat-kalimat puitis sok tegar padahal aslinya hancur tak karuan. Tulus berbicara dengan metafor namun disampaikan begitu lugas. Seperti memberikan semangat untuk para kekasih yang ditinggal kabur namun di saat bersamaan juga seperti air garam yang diguyurkan ke luka.

Sekilas saya melihat ada kemiripan penulisan lirik antara Tulus dengan Eross Chandra dari Sheila On 7. Tulus sedikit lebih kalem, Eross sedikit galak (mungkin karena dia dulu dikenal sebagai playboy hehe).

Seperti tidak memberikan kesempatan saya untuk jeda, Tulus kembali menendang saya dengan “Sepatu”. Sampai sekarang saya masih berpikir dari mana Tulus bisa mendapat perumpamaan yang sangat manis untuk kisah cinta yang begitu tragis. “Kita adalah sepasang sepatu. Selalu bersama tak bisa bersatu.”

Ide untuk menambah instrumen gesek patut dicatat sebagai kejahatan terbesar yang pernah dilakukan Tulus untuk mereka yang baru putus. Sungguh menggores perasaan.

Sementara “Gajah” adalah masterpiece. Perpaduan lirik yang juara sekaligus aransemen yang  aduhai indahnya. Lebih baik saya tak usah banyak menjelaskan lah. Reviewer yang baik adalah yang tidak royal membagikan spoiler bukan? 🙂

“Angkat penamu bila gemar menulis. Buktikan sekarang.” Siap!

Gajah

Artist: Tulus

Demajors, 2014

Track List:

  1. Baru
  2. Bumerang
  3. Sepatu
  4. Bunga Tidur
  5. Tanggal Merah
  6. Gajah
  7. Lagu Untuk Matahari
  8. Satu Hari Di Bulan Juni
  9. Jangan Cintai Aku Apa Adanya

3 Comments

  1. masjaki Reply

    Kalo saya sih tiap dengerin album yang menurut saya bagus, saya berusaha ngebatasin. Diputar sedikit-sedikit biar gak cepet bosen dan sensasinya selalu dapet hehe

  2. Pingback: Upaya Pongki Menyegarkan Diri | masjaki

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *