Capres Idaman Versi Penikmat Musik

Selama satu bulan ke belakang kehidupan sehari-hari kita dipenuhi berita-berita soal copras capres dan pilpras pilpres. Di televisi, di radio, di suratkabar, apalagi di media sosial. Sepertinya gegap gempita Pilpres bisa menutupi kenyataan bahwa  Jakarta masih saja macet, Bogor selalu penuh angkot,  dan Liverpool kembali gagal juara Liga Inggris untuk kesekian kali.

Tapi mau kita lari ke hutan dan belok ke pantai sekalipun, Pilpres dan segala keriuhannya memang jadi semacam perayaan yang harus dinikmati tiap lima tahun sekali. Kenapa disebut perayaan? Karena momen Pilpres sejak dimulai tahun 2004 lalu seperti pesta besar-besaran. Panggung-panggung sebesar gedung balai desa, deretan artis-artis top ibukota, bagi-bagi hadiah dan janji-janji, jadi agenda rutin selama lebih kurang satu bulan.

Sebagai penikmat musik, sedikit banyak saya diuntungkan dengan momen kampanye Pilpres. Apalagi kalau bukan bisa nonton konser gratis berkedok kampanye. Tapi memang ada harga yang harus dibayar. Salah satunya harus tahan mendengar juru kampanye sibuk mengumbar janji. Juga saat asyik menikmati suguhan musik tiba-tiba microphone diakuisisi juru kampanye untuk bernyanyi dengan suara yang sebaiknya tidak perlu saya tulis disini.

Tahun ini ada dua pasangan capres yang berlaga. Prabowo-Hatta Radjasa dan Jokowi–Jusuf Kalla. Mengingat selama dua periode Pilpres saya sudah malas datang ke kampanye demi suguhan konser gratis, kali ini saya mau merenung di rumah saja. Merenung sambil memikirkan siapa kandidat capres yang ideal untuk penikmat musik seperti saya.

Saya mulai dari calon pertama. Meski bukan penggemar berat, salah satu impian saya sebelum mati adalah  bisa berjingkrakan saat “Where The Streets Have No Name” dibawakan di konser  U2 di Stadion Utama Gelora Bung Karno.  Tapi ini bakal sulit kalau Prabowo yang terpilih sebagai RI-1

Bono cs. dikenal alergi manggung di negara yang penegakan Hak Asasi Manusia-nya tak beres dan lingkungan hidupnya amburadul. Well, kasus Mei ’98 juga kepemilikan Prabowo di berbagai perusahaan yang bergerak di sektor kehutanan, kertas dan bubur kertas jadi semacam handicap di proposal para promotor.

Tapi melihat beberapa nama musisi yang tergabung di gerbong pasangan yang diusung Partai Gerindra PAN, Partai Golkar, PBB, PPP , dan PKS, ada sedikit harapan. Ahmad Dhani mungkin bisa meminta supaya Prabowo memboyong Queen, eh maksud saya Brian May and Friends ke Indonesia. Dan untuk Anang, dia bisa minta dana untuk membuat konser reuni Kidnap Katrina.

Sebentar saya lupa, ada nama PKS rupanya. Partai ini saat ribut-ribut konser Lady Gaga termasuk yang mendukung penolakan konser yang sedianya akan digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno. Tapi mereka kan sekarang sudah berubah, dan memang selalu berubah sesuai situasi. Paling tidak mereka sekarang sudah mulai mendukung dunia konser, terutama konser dangdut. Bukak sitik jossss!

Bagaimana dengan Jokowi-Jusuf Kalla? Nama Jokowi tentu tidak bisa dipisahkan dengan musik rock. Saat masih menjabat Walikota Solo dia memberi dukungan pada gelaran Rock In Solo, festival tahunan musik cadas terbesar di Jawa Tengah yang pertama kali dihelat tahun 2004 silam. Tanpa dukungan dari pemerintah kota, tentu sulit bagi Rock In Solo untuk kini sejajar dengan festival-festival musik berskala nasional seperti Bandung Berisik, Hammersonic, bahkan Soundrenaline.

Kartu truf Jokowi adalah saat konser Metallica di Stadion Utama Gelora Bung Karno pada 25 AGustus 2013 lalu. Meski dibayangi kekhawatiran insiden Lebak Bulus saat James Hetfield dkk. menyambangi Indonesia tahun 1993 silam, konser ini justru berlangsung sukses dan tercatat sebagai konser tebesar dalam sejarah showbiz Indonesia. Padahal  pada saat yang bersamaan, Front Pembela Islam (FPI) sedang show of force keliling Jakarta memperingati hari ulang tahunnya. Anda pasti tahu sendiri lah sepak terjang FPI.

Kesuksesan konser Metallica bisa jadi salah satu gimmick para promotor saat melakukan negosiasi dengan artis-artis mancanegara. Perlu untuk diketahui, kerusuhan saat konser Metallica di Lebak Bulus tadi membuat Indonesia sempat masuk dalam daftar hitam negara tujuan konser.

Pada akhirnya pilihan dikembalikan ke anda-anda semua. Kalau saya sih sudah jelas. Saya ingin nonton U2 di GBK 😀

8 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *