Band Saya Diwawancara Media

Semalam (10/2) saya dikabari rekan satu band saya, Riki Irham, kalau sebuah majalah remaja ibu kota baru aja mewawancara band kami, The Oncils. Riki rupanya bisa menjadi humas yang baik bagi band kami meski saya tahu saat kuliah dia tidak mengambil kelas Dasar-Dasar Humas dan lebih memilih masuk kelas di Fakultas Peternakan karena jaraknya yang lebih dekat dengan kost.

 Saya juga dikabari kalau album terbaru kami sudah siap dirilis dalam waktu yang tidak terlalu lama. Rencananya kami akan membuat dalam format piringan hitam. Maklum, hitung-hitungan bisnis kami mencatat kalau semua album ini laku dibeli oleh hipster-hipster yang asal beli plat supaya keren, kami bisa membeli kavling seluas 20 hektar di Jogja Utara.

Kalau ini benar terjadi saya akan berhenti jadi PNS, Moses keluar dari pekerjaannya di perusahaan susu, dan Riki tetap jadi seniman karena kami akan mencurahkan waktu untuk passion dan kesenangan kami: usaha kost-kost an mahasiswi.

Saat ini piringan hitam kami sedang berada di sekitar Selokan Mataram untuk dicuci supaya tata suaranya terdengar lebih bersih dan kesat. Kami akan memasarkan album tersebut secara eksklusif di pasar yang tengah berkembang menjadi subkultur baru di Jogja: Pasar Nologaten.

Berikut petikan wawancaranya yang telah saya sunting seperlunya supaya tidak kena gunting sensor Tommy Soeharto.

Musik dan Kebudayaan: Wawancara Eksklusif The Oncils

Awal tahun ini, secara mengejutkan beredar gosip tentang band The Oncils. Setelah album Jangan Ada Ganteng Di Antara Kita (Live at Kebun Raya Bogor) yang dirilis tiga tahun yang lalu, kabarnya tahun ini The Oncils akan menelurkan mini album keenam mereka dalam format piringan hitam. Untuk mengkonfirmasi kabar yang jelas kabur tersebut, seorang jurnalis musik dari majalah remaja Kawanku Bukan Kawanmu melakukan wawancara eksklusif  via telegram indah bersama band trio yangberanggotakan Anwar, Moses, dan Riki (bukan nama sebenarnya). Follow @TheOncils for more…

Pagi The Oncils, kabarnya tahun ini akan rilis album baru setelah vakum tiga tahun ya?

Tiga tahun terakhir kami tiap personil memang punya kesibukan masing-masing. Anwar sibuk sekali menjadi manajer band-band papan bawah dan papan penggilesan. Riki sibuk bikin album duet sama istrinya yang gendut, Dila Fat-mala. Moses sibuk bikin album foto PPC. Untuk album baru rencana akan rilis tahun ini, sekarang kami sudah kembali masuk studio, studio 21.

Bisa ceritakan sedikit tentang konsep album baru kalian?

Konsepnya masih sama dengan album sebelumnya, sesuai karakter kami, yakni konsep fiktif. Masih dengan semangat untuk membuat album musik yang nggak ada lagunya. Kami ingin merebut kembali piala dari AMFIBI (Anugerah Musik Fiktif Indonesia) yang dua tahun terakhir selalu diraih oleh Saipul Jamil.

Kira-kira apa yang baru dalam album kalian nanti?

Kami selalu melakukan inovasi dengan instrumen yang kami mainkan. Sekarang selain sudah bisa pegang gitar dan tamborine, Anwar kalau nyanyi juga bisa sambil pegang gorengan. Riki rencananya kalau diundang ke Dahsyat akan acapella sambil makan nasi padang. Kita akan memperkenalkan kuliner sebagai instrumen musik.

Kalau dari distribusi albumnya bagaimana? Kan The Oncils terkenal mendistribusikan album dengan cara yang unik.

Benar sekali. Dulu waktu Agnes Monica albumnya dijual di KFC, album kami dijual di Mbak Jajan dan terbukti cepat sekali ludes saat rolasan. Album terakhir kami dijual dalam bentuk flashdisk di pameran komputer dan berhasil menyebarkan virus-virus Oncils. Untuk album nanti kami punya ide untuk menjadikan sebagai hadiah Chiki.

Apakah cara distribusi ini diharapkan agarmencapai target pendengar anak-anak?

Bisa jadi. Sekarang ini kan band-band anak seperti Coboi Junior dan Super Junior dianggap kurang cocok sama anak-anak.

Masalah konten lagu, dari mana The Oncils mencari inspirasi?

Kami ini kan band serius, krisis, dan intelektual. Jadi kita biasanya mencari inspirasi sambil nonton stand up comedi. Comic idola kami Mario Teguh, Menteri Tedjo dan Felix Siauw.

Sebagai band serius, krisis, dan intelektual, bagaimana The Oncis melihat hubungan musik dan kebudayaan saat ini?

Ya memang musik dekat sekali hubungannya sama kebundaayahan. Sejak kita di dalam perut,bunda sudah menyetelkan kita lagu-lagu klasik. Waktu kita bayi, ayah-ayah kami menimang kami sambil menyanyi lagu perjuangan.

Maaf, mas. Yang saya tanyakan kebudayaan,bukan kebunda-ayahan…

Oh kebudayaan… Ya nggak jauh beda lah. Sekarang acara-acara seperti Dahsyat, Terong, D’Academy, atupun Indonesia Idol bukan jadi sekedar hiburan. Mereka sudah jadi trend setter budaya dan pencipta imajinasi. Sekarang jauh lebih banyak anak yang punya cita-cita jadi penyanyi daripada presiden.Kasihan Kak Ria Enes dan Susan.

The Oncils kan tahun ini sudah berumur lebih dari lima tahun, tapi masih awet dan nggak ada personil yang keluar. Boleh tahu resepnya?

Resepnya gampang, jangan ada salah satu personil yang lebih terkenal. Morgan Smash, Anisa Chibi, dan Bastian Cobjun kan pada keluar karena lebih terkenal dan dapat tawaran sinetron. Kalau personil The Oncils sejauh ini sukses untuk tidak terkenal semuanya. Sukses untuk tidak ditawari main sinetron. Barusan kami menolak tawaran casting untuk sinetron “Pak Darwin Naik Haji” karena kami dapat peran sebagai hasil evolusi simpanse.

Apakah awetnya The Oncils juga karena faktor kesamaan di antara kalian?

Ya lima tahun lalu, para personil The Oncils memang tumbuh dari mendengar musik-musik bersama. Mulai dari Pink Floyd, 911, Lou Reed, Dizzy Gillespie, Beirut, Metallica, Westlife, Gorgoroth, Sonic Youth, Qosim Nurseha Syndicate, Joy Division, Kavana, Dr. Teeth and the Electric Mayhem, The Moffats, The Jefferson Airplane, The Role Of The New European Energy Union, The Universal Law of Gravitation, The Ten Commandements, The Adams, The Changchuters, Geger sampai Ressa Herlambang. Tapi bukan kesamaan itu yang membuat kita gampang bersatu. Kesamaan lain kita adalah kita sama-sama nggak jago main alat musik ataupun nyanyi. Ini resep rahasia menjaga keawetan yang nggak dimiliki oleh band lain. Kalah itu Sheila On 7 atau GIGI. Mana bisa Eross main gitar yang senarnya tinggal tiga atau Armand nyanyi pake mic yang lupa dicolokin. Kami sudah terlatih karena sudah khatam, lulus cum laude  dari sekolah musik Lia Eden.

Sebagai penutup, apa misi The Oncils sepuluh tahun ke depan?

Kami ingin jadi MLM. Kami ingin punya downline yang banyak. Tapi di sini motif dan yang dipertukarkan bukan nilai ekonomi, melainkan menyebarkan semangat musik dan kebudayaan.

Semangat sepeti apa itu?

Sekarang ini di Indonesia sedikit sekali musisi yang have fun, kebanyakan galau. Galau karena mungkin tujuannya cuma jadi idola dan dapat job. Mungkin sekarang saat yang tepat untuk mengobarkan spirit lama kita: Makan nggak makan asal ngeband!

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *