Kenapa Bukan Indie?

“Si Jaki ini pop abis. Anak Jakartabeat laen nulis band-band indie segala macem, dia malah nganalisis Sephia-nya Sheila On 7.”

Entah konteksnya bercanda atau tidak, kata-kata Manan di depan rekan-rekan mahasiswa Universitas Indonesia saat training penyiar RTC, radio kampusnya universitas (konon) kebanggan Indonesia itu, jadi penyadar buat saya.

Secara tidak langsung, juru kunci Primitif Zine itu berhasil memberi semacam segmentasi, labelling, dan semacamnya untuk kegiatan menulis saya saya selama ini. Pop!

Saya adalah anak asuh musik pop Indonesia. Tumbuh besar di pertengahan era 90-an membuat MTV Indonesia, Video Musik Indonesia, Delta, Pesta, Hai, Mumu, sampai Hot Chord (meski saya sama sekali tak bisa main gitar) menjadi rujukan. Pengasuh saya di rumah selain bapak dan ibu adalah album-album Sheila On 7, Padi, Dewa 19, sampai Java Jive. Pop!

Ketika mulai menyukai dan akhirnya terjun dalam dunia penulisan, saya memilih musik Indonesia sebagai spesialisasi. Awalnya, seperti tipikal penulis-penulis yang baru terjun, saya berusaha terlihat kompeten dan keren dengan mengulas juga menaruh berbagai nama band-band independen yang mungkin hanya Gusti Allah, band yang bersangkutan, serta saya yang tahu.

Prinsip saya saat itu, semakin susah disebut dan semakin sedikit yang tahu akan mempertinggi reputasi sebagai penulis. Sampai akhirnya saya sekali waktu mencoba mengulas band-band pop mainstream (apalah itu istilahnya tak penting juga) Indonesia yang saya kenal lebih dulu daripada sederetan band-band cutting edge. Ternyata tanggapannya justru lebih antusias. Buat saya, energi terbaik untuk penulis adalah tanggapan dari pembaca. Mulai saat itu saya yakin kemana arah saya. Pop!

***

“Rock ‘n’ roll is an attitude, it’s not a musical form of a strict sort. It’s a way of doing things, of approaching things. Writing can be rock ‘n’ roll, or a movie can be rock ‘n’ roll. It’s a way of living your life.” (Lester Bangs)

Bagi saya tidak ada yang berdosa dengan pop mainstream, utamanya dalam ranah tulis menulis. Saya percaya, seburuk apapun reputasi artistik suatu band akan menjadi kisah rock n roll jika ditulis dengan sudut pandang berbeda.

Ulasan mendalam tentang bagaimana menjadikan jalur pemasaran ilegal sebagai jalur alternatif Kangen Band masuk ke industri musik nasional bagi saya lebih menarik daripada review album terbaru Seringai dengan pilihan kata klise serta informasi yang bisa didapat dari hasil semedi di mesin pencarian, kira-kira seperti itu pandangan saya.

Saya belajar banyak dari editor saya, mas Wendi Putranto. Metalhead ini mampu menghadirkan sisi lain Ari Lasso yang disebutnya sebagai “sosok bintang pop menye-menye” dalam tulisan berjudul Perjalanan Panjang.

Saya sendiri percaya riset adalah kekuatan tulisan. Dari riset yang baik kita akan menemukan sudut pandang dan konteks tulisan kita. Dua hal tadi menurut saya menjadi aspek pembeda tiap-tiap penulis.

Riset juga membantu dalam penyusunan bangunan tulisan. Riset adalah pondasi dasar dalam menciptakan kerangka tulisan.Seringkali dalam proses riset saya menemukan pola baru yang menarik, yang terkadang mengubah total kerangka tulisan yang saya buat sebelumnya. Ini yang saya alami saat menulis feature Lokananta untuk majalah Rolling Stone Indonesia beberapa tahun silam.

Saat datang ke “karantina” penulisan di kamar kost terkutuk milik Ayos yang panasnya seperti wahana Ospek sebelum masuk neraka, saya awalnya sudah punya kerangka tulisan. Namun saat kran data hasil riset dibuka, kerangka tulisan tadi kami rombak total.

Waktu mengisi kelas Dasar-Dasar Penulisan di kampus saya beberapa waktu lalu, ada mahasiswa yang bertanya bagiamana saya melakukan riset. Selain cara konvensional seperti penelusuran artikel di internet, buku, juga mendengarkan album-album musik, saya juga mau tidak mau harus memberi perhatian pada acara-acara musik di televisi lokal. Suka tidak suka, inilah cerminan musik pop mainstream Indonesia hari ini.

Nilai minus saya dalam proses riset adalah seringkali alpa mencatat. Tidak heran jika selama proses penulisan pemandangannya adalah puluhan buku dan tab di browser internet yang tergeletak sana-sini hanya untuk mencari satu data untuk mendukung argumen. Tapi saya menikmati kekacauan ini. Seringkali ujug-ujug justru muncul nukilan informasi menarik lain yang memperkaya tulisan.

riset

***

Penugasan dari editor untuk menulis musisi idola mungkin dianggap sebagai berkah. Tapi bagi saya ini adalah ujian reputasi. Saya dituntut dua kali lebih intensif melakukan riset. Bagi saya, pencapaian terbaik seorang penggemar berkedok jurnalis musik adalah saat musisi idolamu memuji pertanyaan yang kamu ajukan saat wawancara.

Inilah pentingnya melakukan riset. Saat mengajukan penugasan untuk mewawancarai Duta dari Sheila On 7, saya memberikan argumen ke mas Wendi bahwa wawancara ini akan mengulik tiga hal penting: bagaimana band pop mainstream memandang konsep indie, peran seorang artist and repertoire dalam memunculkan mega hits seperti “Dan”, sampai penjelasan mengenai “drama” klasik antara label dan musisi.

Wawancara Duta

Mas Wendi terkenal punya standar tinggi untuk mengetok palu penugasan. Nama besar tidak otomatis membuat proposal penulisan mudah disetujui. Argumen tadi kemudian jadi tanda tangan untuk melakukan wawancara. Hasilnya adalah Duta mau berbicara blak-blakan, dan secara statistik wawancara tadi masuk Top 10 Content 2014 di website Rolling Stone Indonesia.

Kekuatan riset pada akhirnya bisa mengubah tulisan tentang band pop mainstream yang mungkin remeh temeh menjadi tulisan bernas dan memberi sudut pandang baru.

***

Post-scriptum: Tulisan ini terinspirasi dari ajakan kawan saya Ardi WIlda Irawan yang membagikan proses menulisnya disini. Tulisan ini juga ajakan kepada teman-teman untuk berbagi hal yang sama.

 

 

 

 

 

 

12 Comments

    1. Fakhri Zakaria Reply

      Wah mbak Indri dulu RTC juga to? Saya salut sama anak-anak mahasiswa yang masih bisa jaga konsistensi siaran walau harus kejar-kejaran sama padetnya jam kuliah. Di kampus saya sih, radio kampusnya sudah jadi radio siaran komersial. Kalau mau nyoba siaran ya nunggu setahun dulu, sampai mata kuliah Program Siaran Radio ditawarin di semester genap haha

      1. indri juwono Reply

        enggak, mas jaki. aku main di RTC waktu masih jadi radio percobaannya anak elektro. masih radio teknik cihuy :p batalin salutnya, hahaa
        jadi sambil nginep-nginep di ruang senat diminta nemenin siaran malam dan ngobrol2 gak jelas wong belum ada program.

    1. Fakhri Zakaria Reply

      Terima kasih mas Bobhy.

      Untuk menentukan fokus biasanya saya mencari konteks wawancara dulu. Misalnya kalau kaitannya tentang album baru ya fokus saya di proses kreatifnya. Kalau wawancara terakhir dengan Duta, fokus saya adalah fakta bahwa mereka akan mengakhiri kontrak dengan label rekaman. Dari situ saya pecah jadi beberapa bagian, namun tema besarnya masih sama. Kuncinya gampang sih: banyak-banyak baca saja hehe

  1. Pingback: Bagaimana Kita Menulis? | Sidekick

  2. Pingback: Budi Warsito - Belajar Script Development 101

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *