Sidekick yang Baik

bambu runcing“Asal dari mana mas?

“Muntilan”

“Di mana ya?”

Bisa saja saya mempermudah deskripsi Muntilan sebagai “kota kecil dekat Yogya” atau “dekat dengan Magelang”. Tapi Muntilan bagi saya adalah entitas yang berdikari tanpa perlu subsidi uang muka dari kota-kota lain. Muntilan ya Muntilan.

Muntilan adalah Izzy Stradlin di Guns N’ Roses, Ronnie Wood di The Rolling Stones, atau dalam skala lokal, Ari Tri Sosianto di Padi. Muntilan tidak perlu genit-genitan untuk mendapat perhatian. Muntilan sudah punya lick sendiri yang membuat posisinya begitu signifikan.

Peran sebagai poros jalur Yogyakarta-Magelang-Semarang menjadikan Muntilan yang “cuma” kecamatan di Kabupaten Magelang tidak bisa ditaruh begitu saja di belakang panggung. Kalau memang niat iseng, Muntilan bisa menjadikan Yogya dan Magelang kalang kabut. Tapi sebelum itu terjadi, Merapi dengan bijak bestari memberikan pelajaran dengan melewatkan muatan perutnya berupa batu-batu sebesar rumah tipe 21 dan pasir kualitas wahid setiap kali erupsi. Selama beberapa saat, Yogya-Magelang seperti anak yang lagi senang-senangnya pacaran: putus nyambung.

***

Dalam skala berbeda, Muntilan layak mendapat rekor MURI sebagai kecamatan dengan situasi sosial paling njlimet di Indonesia. Basis warga Muhammadiyah, kantong jamaah Nahdlatul Ulama, rumah warga keturunan Tionghoa, juga tonggak penyebaran Katolik di tanah Jawa. Cukup wajar kalau organisasi-organisasi seperti FPI atau HTI tidak banyak berkembang. Lha wong-wong Muntilan sudah pintar-pintar kok.

Selama bertahun-tahun, warga Muntilan sudah biasa dengan berbagai isu-isu toleransi tanpa harus berbicara di forum ilmiah tingkat tinggi yang ndakik-ndakik. Separuh kota tidak puasa Ramadhan karena Muhammadiyah sudah Lebaran duluan, sudah biasa. Anak muda NU be-­retetet ndona ndona sambil mbleyer-mbleyer motor RX King setiap acara khataman dan haul Mbah Kiai Dalhar, sudah biasa. Hiburan gratis kembang api dan barongsai dari babah-babah dan tacik-tacik yang merayakan Imlek, sudah biasa. Juga mendengarkan khotbah Iedul Adha diiringi bunyi lonceng Gereja Katolik Santo Antonius, sudah biasa juga.

Pernah sih ada aral. Waktu masa Revolusi Fisik tahun 1948 ada peristiwa pembunuhan Romo Sanjaya oleh ekstrimis sayap kanan. Tahun 1998 sempat ada aksi lempar-lemparan ke toko-toko kepunyaan para babah dan tacik di Jalan Pemuda. Juga ramai lagi waktu Amien Rais ngerjain Gus Dur tahun 2001 lalu, sampai-sampai pemuda-pemuda di kampung saya yang basis Muhammadiyah menjaga ketat sudut-sudut kampung untuk jaga-jaga kalau ada aksi dari anak-anak muda NU.

Terakhir yang hampir membuat geger adalah sobek-sobekan spanduk saat kampanye Pemilu 2004. Ada tiga partai yang membagi Muntilan dalam tiga konstelasi politik. Pertama PDI Perjuangan yang didukung golongan nasionalis eks PNI, Jawa Abangan dan Katolik. Basis massanya di lingkungan sekitar Pasar Jambu, Pasar Muntilan, serta lingkungan Pasturan di sekitar Gereja Katolik Santo Antonius.

Lalu PAN yang jadi corong aspirasi warga Muhammadiyah, konsentrasinya memusat di wilayah amal usaha Muhammadiyah seperti Kauman, Kawedanan, dan Jumbleng. Dan yang pasti adalah PKB yang menjadi kendaraan politik jama’ah Nahdliyin yang ada di wilayah Pesantren Darussalam Watucongol yang dibangun almarhum Mbah Kiai Dalhar di Gunung Pring. Sedikit remah-remah di daerah komplek perumahan baru coba disikat oleh Demokrat yang kala itu jadi rising star. PKS? barang satu atau dua strip ada lah sekedar buat selingan.

Seru kan? Tapi sejarah Muntilan adalah sejarah menjadi pelayan. Rela dilupakan supaya Kabupaten Magelang sebagai ibu kost bisa bersinar dan berpijar.

***

Tahun 1979 Kabupaten Magelang berencana mau boyongan supaya tidak selamanya nebeng dengan Kota Magelang. Muntilan jadi salah satu calon kuat ibu kota selain Mungkid, Mertoyudan, dan Secang. Lha jelas Muntilan di-pole position. Paling dekat dengan kota besar Yogya (cuma 30 kilo dan sekali gas motor kalo ndak ada mbak-mbak yang mbonceng), strategis karena jalur utama (kecuali selo banget muter-muter sampai pucuk Merapi), dan sudah ada fasilitas pendukung sejak zaman Belanda.

Wong Muntilan juga sudah punya taste untuk jadi “penduduk ibu kota”. Nama Muntilan telah disebut-sebut pada peralihan kekuasaan Kesultanan Yogyakarta atas Karesidenan Kedu kepada pemerintah kolonial Inggris pada 1812. Laporan Belanda menyebutkan di Kecamatan Muntilan mereka membuat salah satu proyek benteng Jenderal Van de Kock sewaktu nantang gelut Diponegoro. Bekasnya terlihat dari ada wilayah bernama Beteng yang ada di dekat kantor Polsek Muntilan.

Pada kurun waktu 1900, Muntilan berstatus sebagai kawedanan. Sederhananya kawedanan adalah wilayah di bawah kabupaten tapi di atas kecamatan. Kawedanan Muntilan ini sepengetahuan saya membawahi wilayah kecamatan Muntilan, Salam, Srumbung, dan Ngluwar.

Kantor Kawedanan Muntilan sampai saat ini masih ada dan terakhir difungsikan sebagai kantor salah satu satuan kerja Pemerintah Kabupaten Magelang. Kampung di sekelilingnya akhirnya dikenal sebagai Kawedanan. Kampung ini begitu istimewa karena semua penghuninya masih satu keturunan, basis Muhammadiyah di tengah kawasan pecinan, dan hobi sekali gonta-ganti afiliasi politik mulai dari PPP, PAN, sampai kini tercerai berai. Dan kampung ini adalah kampung saya haha!

***

Keputusan ya tetap keputusan. Ibu kota Kabupaten Magelang dipindah ke wilayah hasil koalisi desa Mendut, Sawitan, dan Deyangan di Mendut dan Mertoyudan. Hasil produknya adalah adalah Kota Mungkid. Harapan si pemberi nama mungkin supaya bisa jadi kota betulan.

Kota Mungkid memang menjadi kota, tapi cuma sampai jam 4 sore. Tepat saat PNS-PNS Kabupaten Magelang bubaran. Setelahnya yang meramaikan jalan protokol dan lapangan adalah jangkrik, bangkong, sampai clurut dari sawah-sawah di sekitar Kota Mungkid. Gambaran kehidupan malam Kota Mungkid seperti sayur lodeh sisa kemarin yang lupa dipanaskan: anyep. Ada Candi Borobudur sekalipun, Kota Mungkid sekedar dilewati. Paling banter buat ngiras sate dan tongseng di Pak Kurdi sebelum plesir ke proyek Gunadharma hasil order wangsa Syailendra itu.

Sementara Muntilan dengan setia melayani arus manusia dan barang Yogya-Magelang hampir tidak kenal cuti. Potret khas kota yang tumbuh dari jalan raya utama membuat Jalan Pemuda yang lurus membentang membelah kota menjadi titik nadi kehidupan Muntilan.

Siang, juragan-juragan tembakau dari Magelang, Temanggung, Klaten, sampai Jombang mengirim bertruk-truk hasil ladang ke gudang-gudang tembakau di Gatak Lamat yang ada di timur Jalan Pemuda. Hari pasaran, mulai dari  blantik sapi, pedagang burung, tukang kayu, sampai makelar batu akik before it was cool, ramai-ramai nyanggong ke tengah. Tepatnya ke Pasar Sapi, Pasar Burung, Pasar Kayu, dan Terminal Muntilan. Musim liburan, giliran lusinan bus pariwisata memborong segala rupa tape ketan, dan jenang lalu ke ujung barat Jalan Pemuda depan Monumen Bambu Runcing untuk beli cowek dan munthu  supaya cita rasa sambel lebih pedas dari rasan-rasan ibu mertua.

Lepas Maghrib, ada bioskop Arjuna dan Kartika. Sayang sudah lama tutup, jadi toko ponsel dan lapangan parkir Klenteng Hok An Kiong. Tapi di depannya ada Jalan Sayangan tempat segala macam rupa pelayan nafsu makan. Saran saya datang jam 4 sore buat ngemil Martabak Lumayan. Sebelum Maghrib nyebrang makan bebek goreng Rahayu depan Rumah Sakit Ibu Anak Aisiyah sambil mbribik perawat. Dilanjutkan makan malam dengan sate kambing dan tongseng di Sate Mirah.

Sektor kuliner ini sendiri sebetulnya adalah salah satu daya tarik orang-orang meluangkan waktu ke Muntilan. Dari sarapan sampai makan malam semuanya tersedia. Dari Sop Empal Sayangan yang parkirannya selalu penuh sedan mewah babah-babah juragan toko mas dari Yogya tiap pagi, sampai Bakmi Pak Man Bangjo Kidul Pasar Muntilan yang antriannya jarang lewat dari dua digit walau sudah lewat jam 9 malam.

Tapi ya itu, cuma jadi pelayan. Waktu Laris, toko serba ada terkemuka untuk regional Jawa Tengah, buka cabang di Muntilan, antrian pengunjungnya bukan main betul ramainya. Iseng saya tanya mbak-mbak yang sedang antri bayar belanjaan. “Dari Kota Mungkid, mas…”

 Penulis adalah Duta Besar Muntilan untuk Indonesia.

13 Comments

    1. Fakhri Zakaria Reply

      (((NGALOR))) aku heran ro warung-warung bakso, soto, mie ayam ning Muntilan. Kok iso ombene kuwi-kuwi terus: Es teh, Es Jeruk, Teh Panas, Jeruk Panas. Mbok ono Teh Jeruk po Es Jeruk Panas

  1. yu tembem Reply

    bangga dadi wong muntilan yo mas, kota cilik sing ngangeni. masjaki ndak isih sok tilik muntilan?

  2. yu tembem Reply

    mampir nggonku masjaki.. mumpung lawuhe isih lengkap. tak sekalian njaluk foot bareng hehehehehhe Aq fansmu mas

  3. Yusuf Hadli Reply

    Waduh, jadi kepingin bikin tulisan “Sidekick Yang Pelik” sebagai tribute terhadap Depok, hehe..

    Btw salam kenal ya Mas, selalu senang mampir ke warung sampean 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *