Mengenang Kisah Klasik

so7_11

Pigura itu terpacak jelas di ruang tamu. Di dalamnya terbingkai penghargaan platinum dari Sony Music Entertainment Malaysia atas prestasi penjualan album bertajuk Kisah Klasik Untuk Masa Depan yang mencapai 40 ribu kopi (album ini akhirnya terjual 150 ribu kopi di Malaysia). Desain plakat penghargaannya  cukup unik berupa potongan koran yang tersembul di balik saku celana denim.

Pigura itu jadi salah satu titik berfoto favorit penggemar Sheila On 7 si empunya penghargaan platinum tadi setiap datang ke markas duta besar Yogyakarta untuk musik pop Indonesia ini yang terletak di daerah Condongcatur, Sleman, Yogyakarta.

Sebelum menempati markas saat ini, Akhdiyat Duta Modjo, Eross Candra, Adam Subarkah, dan Brian Kresno Putro menempati sebuah bangunan sederhana satu lantai yang berjarak tak jauh dari basecamp mereka sekarang. Pigura tadi juga dipasang tepat di ruang tamu. Seperti ingin menjelaskan sebuah pencapaian terbaik dari band yang memulai debut di tahun 1996 silam.

Sheila On 7 yang saat itu hadir dengan susunan formasi Duta, Eross, Adam, gitaris Saktia Ari Seno (meninggalkan band pada tahun 2006 untuk mendalami agama) dan drummer Anton Widiastanto, yang keluar pada tahun 2004 mampu melibas pahlawan lokal negeri jiran seperti Siti Nurhaliza.

kisah-klasik_2

Di negeri sendiri, Sheila On 7 seperti tak terbendung. Setelah kesuksesan penjualan album perdana pada tahun 1999 yang kemudian diikuti dengan saga penjualan album Kisah Klasik Untuk Masa Depan, mereka dihadapkan pada rutinitas tur ke berbagai kota di Indonesia.

Mendarat, check in hotel, wawancara media disambung soundcheck, kembali ke hotel untuk bersiap, manggung, kembali lagi ke hotel untuk sekadar merebahkan badan, lalu mengejar penerbangan paling awal untuk ditanggap di kota berikutnya. “Dalam sebulan paling cuma lima hari di rumah,” jelas Duta memberi gambaran merayapnya jadwal tur saat itu.

Padatnya tur membuat Sheila On 7 harus mencuri waktu untuk masuk kembali ke studio. Capaian kesuksesan album debut yang laku hingga 1,3 juta keping membuat publik sangat menunggu jabang bayi kedua. Saat rencana perilisan album diberitakan, banyak yang langsung memesan di toko-toko rekaman fisik, termasuk di Popeye. Toko rekaman fisik terkemuka di Yogyakarta ini dibanjiri pesanan pre order. “Alhamdulillah albummu ki akeh banget sing tuku. Apik banget (Alhamdulillah, albummu banyak yang mau beli, bagus sekali),” ujar Duta menirukan pemilik Popeye saat itu.

Sony Music Entertainment Indonesia yang saat itu menjadi rumah bagi karya-karya band yang memulai debut di tahun 1996 ini memang sedikit mengejar tenggat waktu perilisan. Maklum, mereka ingin menjaga momen manis penjualan album ini terus berjalan tanpa terputus. Setelah berkutat hampir selama sebulan di Ara Studio, studio rekaman milik Dimas Wahab ayahanda personil Bragi, si anak kedua Kisah Klasik Untuk Masa Depan resmi beredar.

Para personel mengaku lupa tanggal persis peluncuran. Pantau pada 3 September 2001 menyebut 28 September 2000 sebagai tanggal rilis.[1] Sementara Hai Klip edisi ketiga terbitan tahun 2002 menulis 20 Oktober 2000. “Penentuan tanggal rilis itu biasanya menyesuaikan tanggal ulang tahun Pak Jan atau istrinya,” ujar Adam mencoba menjawab kebingungan. “Apakah untuk semua album?,” tanya saya. “Hanya untuk album yang kira-kira bakal laku saja,” ujar Adam sambil tersenyum.

Jan Djuhana atau akrab dipanggil Pak Jan adalah Artist and Repertoire Sony Music. Ia menjadi sosok Midas dibalik gilang gemilangnya perjalanan Sheila On 7. Berbekal intuisi yang tajam, Pak Jan tanpa ragu langsung membuatkan album penuh selepas menerima demo dari Eross dan Adam, yang sempat tersasar masuk ke toko elektronik distributor produk Sony.

Keputusan Pak Jan cukup mencengangkan karena untuk ukuran band dari luar kutub industri musik Indonesia saat itu yang didominasi band-band Jakarta, Bandung, serta Surabaya, Sheila On 7 bisa melenggang mulus tanpa harus melalui jalur kompilasi. “Pak Jan waktu itu bawa album pertama ke board Sony Music. Dia bilang, kalau album ini sampai nggak jadi saya nggak tahu lah saya ini masih berguna di industri musik,” ujar Duta.

Tanda-tanda album ini menjadi kisah klasik sudah terlihat di minggu pertama perilisan. Laporan Pantau menyebutkan baru sehari beredar, album ini sudah terjual 150 ribu keping. Selang tiga bulan, angka satu juta berhasil dicapai. Setahun kemudian, album ini sukses mencatatkan angka 1,7 juta keping yang kemudian menjadi pembaptisan titel album paling laris sepanjang sejarah karier bermusik Sheila On 7.

Namun bukan angka penjualan yang diingat oleh para personel Sheila On 7. Justru proses produksi yang dinilai lebih tertata yang membuat angka-angka penjualan tadi tak pernah terlintas.  “Tembus satu juta, mendekati dua juta, anak-anak nggak terlalu peduli. Bahkan nggak ada yang bercanda, Wah sedilit meneh meh rong yuto lho, Dab (Sebentar lagi hampir dua juta lho, Bro). Masalah penjualan bisa kita percayakan ke orang yang lebih tahu. Itulah gunanya punya label,” ungkap Duta.

Sony Music seingat mereka juga tak pernah mengejar target penjualan. “Label nggak pernah ngomong target. Itu bagusnya Sony waktu itu. Mereka bukan tipikal label yang semuanya harus menuruti maunya mereka secara musikal. Kita benar-benar dibebaskan,” ujar Eross.

Hasilnya adalah album dengan limpahan kemewahan produksi. Gambarannya sudah terlihat terlihat dengan munculnya nama komposer Erwin Gutawa sebagai penata aransemen gesek. Masih kurang, violinis Maylaffayza juga ikut ambil bagian. “Di album pertama hampir nggak mungkin kita minta string asli. Ketika aku lihat Erwin Gutawa mainin Sephia pakai string asli aku cuma membatin ,’It happened’,” papar Eross.

Mereka juga tak dikejar-kejar jatah shift rekaman seperti saat rekaman album pertama. Gemuknya dompet setelah kesuksesan album pertama membuat para personel Sheila On 7 lebih berani membelanjakan uangnya untuk melengkapi dan membenahi senjata andalan di studio dan di panggung. “Setelah album pertama laku aku kalau beli bass bisa seminggu sekali. Eross juga sering beli gitar. Duta mulai mikir variasi backing vocal,” jelas Adam.

Bukan hanya rekaman yang meningkat, penampilan fisik Sheila On 7 setelah album ini pun mengalami perbaikan. “Aku mulai belanja khusus kostum manggung, tapi nggak selalu tiap manggung baju baru. Effort untuk mulai ke arah situ ada, walaupun tidak selalu tepat eksekusinya,” ujar Duta sambil tertawa.

Saat album pertama, Sony Music memang memberi semacam perhatian akan mirisnya tata busana Sheila On 7 saat tampil di publik. Beberapa staf Sony Music menghibahkan baju-baju mereka supaya penampilan Sheila On 7 lebih pantas dilihat. “Situasinya seperti pembagian pakaian pantas pakai,” ujar Adam.

Adam lalu melanjutkan cerita sedih Sheila On 7 dan kostum panggung saat awal-awal mereka mulai bersinar dan berpijar. Suatu ketika dirinya serta Duta, Eross, dan Sakti  ingin sekali manggung dengan memakai celana kulit setelah melihat betapa kerennya /rif dan Ahmad Band manggung bercelana kulit. Sakti yang kondisi ekonomi keluarganya lebih baik tak kesulitan untuk meminta ibunya membelikan celana kulit. Setelah berpikir lama, mereka akhirnya menemukan ide brilian. “Kami akan bikin sendiri di penjahit,” ujar Adam penuh kemantapan.

Ketiganya lalu pergi ke kawasan Malioboro menyambangi Liman, toko sentra penjualan bahan-bahan kulit imitasi di Yogyakarta. Bermeter-meter bahan kulit imitasi Oscar yang biasa digunakan untuk membuat jok mobil mereka tebus dan langsung diserahkan ke penjahit untuk dijadikan celana kulit impian. Tapi benar kata pepatah, ada harga ada rupa. “Rampung  manggung sikilku kemringet nganti abang kabeh. Njarem rosone (Selesai manggung kakiku berkeringat sampai merah semua, nyeri rasanya),” kenang Duta sembari terbahak.

 

***

wpx1202

Permintaan wawancara, pemotretan, sampai liputan khusus mengalir deras sejalan dengan legitnya penjualan album. Sepertinya hanya majalah misteri dan majalah religi yang tak memuat berita Sheila On 7. Hampir setiap hari wajah-wajah cah Jogja itu tampil di media massa, dengan frekuensi terbanyak di majalah remaja wanita. “Buat kami yang orang daerah menjadi idola banyak orang, apalagi mayoritas cewek, di usia muda itu jadi hal yang mengasyikkan. Kita inget kalau mau diwawancara majalah cewek kita senang,” ujar Duta seraya tersenyum.

Saat itu semua permintaan peliputan mereka iyakan. Bahkan rumah mereka seakan terbuka bagi para wartawan untuk masuk dan mengambil gambar. Untuk beberapa saat hal tersebut membuat mereka senang, tapi lama kelamaan mereka jengah juga.

Porsi pemberitaan yang lebih banyak mengulas hal-hal yang tak terkait dengan musik membuat mereka mulai ogah berhadapan dengan jurnalis. “Waktu di Malaysia kita ketemu wartawan gosip, ya kita jawab sekenanya saja, kita bercanda sendiri. Pernah kita ditanya apa saja yang ada di tas kita terus kita jadi bercanda sendiri. Salah juga sebetulnya karena tulisan yang keluar pasti jelek karena yang ditanyakan bukan yang kita harapkan,” ujar Eross.

Selain itu, publisitas yang menggila membuat orang bosan dan cenderung pada taraf muak setiap melihat Sheila On 7 tampil. Mulai dari sekadar kasak-kusuk hingga yang paling frontal. Kali ini Adam yang ketiban apes bertemu haters saat sedang mengunjungi sebuah toko rekaman fisik di Tunjungan Plaza, Surabaya. “Dia bilang musiknya Sheila On 7 itu musik banci,” ujar Adam sembari  menunjukkan gerakan mengacungkan jari tengah.  “Aku kaget banget dan cuma diam saja. Pas anak-anak keluar mereka heran kok mukaku pucat sekali,” sambungnya seraya tertawa.

***

ahf_40382

Brian Kresno Putro hanya bisa menelan ludah saat pamannya, Ito Nurarito, memberinya sekeping kaset Kisah Klasik Untuk Masa Depan saat berkunjung ke sosok yang jadi panutan sekaligus “guru spiritualnya” dalam bermusik di suatu malam tahun 2001. Ito, yang lebih dikenal dengan nama panggung Ito Punk, adalah pembetot bass merangkap vokalis di grup new wave Punk Modern Band yang seangkatan dengan KLa Project. “Ini album bagus banget,” kata Brian menirukan pamannya.

Brian, yang saat itu sudah menapaki karir musisi profesional dengan bergabung di grup band Tiket, butuh asupan referensi pamannya untuk masuk ke kancah musik nasional. Saat itu, jelas Brian, tren musik mulai dijangkiti demam band-band acid jazz dan soul seperti The Groove, Brown Sugar, sampai T-Five. “Aku berharap dia bakal ngasih referensi yang lebih bergaya,” ujar Brian yang resmi menduduk kursi drummer Sheila On 7 sejak album 507 ini sembari terbahak.

Keduanya lalu mengadakan hearing session. Untuk pertama kalinya Brian mendengarkan Sheila On 7 secara utuh setelah sebelumnya hanya sambil lalu saja. “Pertama kali aku buka sampulnya saja aku punya feeling aku bakal suka album ini,” ujar Brian.

kisah-klasik-untuk-masa-depan-1

Di sampul album garapan rumah desain Indieguerillas dari Yogyakarta ini terpajang foto-foto aktivitas Sheila On 7 saat tur, konser, juga saat sedang berada di studio. “Yang paling aku ingat lagu “Just For My Mom” ada foto Adam dan Eross gitaran bareng-bareng di kursi belakang bis, lalu aku liat ini ciptaan mereka berdua,” jelasnya.

Menurut Brian, perjalanan tiap lagu bisa direpresentasikan dengan bagus dalam selembar sampul album. Juga adanya foto bersama manajer mereka saat itu, Anton Kurniawan, yang disebut sebagai personel keenam. “Itu bikin musisi jadi contoh kalau band harus menghargai manajernya,” jelas Brian.

Dari sisi materi lagu, Brian menganggap lagu ini punya materi yang begitu beragam. Mulai dari lagu cinta untuk pacar, ode untuk persahabatan, pesan bagi selingkuhan, sampai penghargaan khusus untuk sosok ibu. “Dulu aku lihat lagu “Just For My Mom” ini kok cemen banget,” katanya sambil tertawa. Namun karena ada kata mom lagu itu dirasa Brian menjadi kuat. Kalau ditulisnya buat darling atau baby itu malah jadi kacau. Kalau mom jadi membuat orang sedewasa apapun akan kembali masa kecilnya dan ingat saat-saat bersama ibunya.”

Tapi justru “Tunjuk Satu Bintang” yang sampai sekarang punya ikatan emosional dengan Brian, juga istrinya. “Waktu itu kita masih pacaran. Suatu saat kita ngobrol bareng tentang tujuan-tujuan hidup. Aku ingat saat itu dia bilang sama aku untuk tunjuk satu pedoman untuk hidup sebagai musisi. Kata-kata coba kau tunjuk satu bintang itu jadi sangat dekat buat aku dan itu sangat berhasil di kehidupanku,” ungkap Brian panjang lebar.

Menurutnya sampai hari ini lagu itu selalu mengiringi saat ia dan istrinya duduk bersama dan mengevaluasi ulang apa yang sudah mereka dapatkan sejauh ini. “Begitu masuk dari pertama kita udah dibawa jiwanya ke alunan orkestra  buat jalan.”

Saking magisnya lagu berdurasi empat menit dan 18 detik itu, Brian mengaku sulit untuk menginterpretasi ulang kala berada di panggung. “Aku selalu jawab “Tunjuk Satu Bintang” tiap ditanya anak-anak, tapi tiap selesai manggung aku selalu merasa kurang karena lagu itu sudah bagus seperti apa adanya,” akunya.

Sejauh ini Brian baru merasa benar-benar puas membawakan lagu tersebut saat tampil di Rolling Stone Café, Jakarta Selatan pada pentas musik sebuah stasiun TV swasta pada bulan Februari lalu. Padahal Eross melakukan kesalahan saat intro karena luput menyetel nada gitarnya. “Harap dimaklumilah kalau live,” pinta Brian seraya tertawa.

“Tunggu Aku Di Jakarta” menjadi nomor favorit lain dari sosok yang membantu sideproject Eross di Jagostu ini. Secara aransemen mungkin tidak semewah “Tunjuk Satu Bintang”, namun bagi Brian kekuatannya ada di tema lagu. “Waktu itu jarang ada band yang kasih tema lagu untuk sabar menunggu saat kita sedang berusaha meraih mimpi. Mungkin baru Slank ya yang punya di “Kirim Aku Bunga”. Liriknya cowok banget,” terangnya.

Sedangkan “Pagi Yang Menakjubkan” diakui Brian memberi semacam tantangan bagi para musisi untuk mengulik sesuai gayanya masing-masing. Untuk deretan lagu-lagu hits dirinya tak banyak berkomentar . “Ibaratnya kamu dalam tahap sudah nggak bisa complaint. Ini album yang akan membuat band lain-lain berharap dapat membuat album seperti ini paling tidak sekali dalam karirnya.”

Sound drum Anton yang khas dan klasik menjadi satu hal penting yang dipelajari Brian di album ini. “Saat itu belum banyak band punya ciri khas sound drum yang konsisten dari album ke album. Mas Stephan Santoso menurutku jenius karena waktu itu dia meng-handle band-band lain seperti Padi dan Cokelat tapi bisa mengarahkan karakter sound-nya sesuai karakter band,” papar Brian. Menurut Brian, ini membalikkan perspektif kalau sound engineer hanya manut saja di studio rekaman. “Ternyata sound engineer bisa bikin karakter kuat bagi sebuah band.”

Stephan Santoso, yang diganjar gelar Penata Rekam Terbaik di ajang AMI Awards 2001 untuk ramuannya di album ini, mengaku kalau Kisah Klasik Untuk Masa Depan adalah salah satu album paling mengesankan selama bekerja sebagai peramu rekam profesional. “Album kedua Sheila On 7, itu awal saya dapat teknologi untuk mixing, memadukan software digital dengan analog. Menghasilkan karya bareng Sheila On 7 waktu itu kita dapat banget mood-nya dan materinya juga bagus. Rasanya dapat, secara teknologi juga dapat,” ujar Stephan.[2]

Di tengah-tengah sesi dengar, pamannya tiba-tiba memberi semacam misi. “Brian, kamu coba cari tahu kenalan sama mereka. Seharusnya kamu jadi drummer Sheila On 7,” ungkap Brian. Saat itu Brian hanya sambil lalu saja dengan titah pamannya. Toh, dia sedang sibuk dengan Tiket yang baru saja mengeluarkan album pertama dan belum khatam benar mendengarkan lagu-lagu milik Sheila On 7. Tapi semuanya kemudian berubah begitu cepat.

Tahun 2004 adalah kali pertama Brian terlibat dalam proyek musik bersama personel Sheila On 7 setelah bertemu di ajang Soundrenaline 2003 di Surabaya. Adam mengajaknya untuk membantu mengisi drum di album kompilasi Bass Heroes. Latihan pertama dilakukan di studio milik nenek Brian di daerah Tanah Kusir, Jakarta Selatan. Tempat itu  jadi situs bersejarah bagi Brian karena jadi tempat membangun proyek-proyek musiknya sejak ia SMA. “Mulai dari Susu bareng Nikita Dompas sampai Tiket.”

Pada saat itu hubungan personel Sheila On 7 dengan drummer Anton Widiastanto mulai terlihat berjarak, setidaknya menurut pengamatan Brian. Dirinya seringkali mengisi waktu bersama Duta, Eross, dan Adam yang sering datang ke Jakarta untuk promo album keempat, Pejantan Tangguh. “Aku ngajak mereka main bowling. Mungkin kalau main futsal aku nggak akan jadi drummer Sheila On 7,” ujarnya sambil tertawa. Tangal 18 Oktober 2004, Sheila On 7 dan Anton Widiastanto memutuskan untuk tidak bersama lagi. Kursi drummer pun kosong untuk sementara waktu. Mereka sempat memakai penggebuk pocokan. Salah satunya adalah Kiki MIrano, drummer Esnanas.

Di tahun yang sama Brian lulus dari Universitas Atma Jaya, Jakarta dan Tiket dalam masa hiatus. Ia lalu mendapat tawaran pekerjaan sebagai session musician di Kerajaan Brunei Darussalam selama tiga bulan. Setelah beres dari Brunei, Brian belum punya rencana untuk melanjutkan proyek-proyek musiknya. Saat sedang bermalas-malasan di rumah orang tuanya, Adam tiba-tiba datang lewat sambungan telepon, “Bri, kamu mau bantuin anak-anak?.” And the rest is history.

url

***

Sebagai eksponen formasi Kisah Klasik Untuk Masa Depan yang masih bertahan hingga sekarang, Duta, Eross, dan Adam masih bisa mengingat saat mereka mulai masuk studio. Mulai dari kisah misteri di studio sampai menjahili anak pemilik studio rekaman. Berikut petikannya.

Ada beban saat memulai rekaman album ini karena kesuksesan album pertama?

Adam: Ora (tidak) sih, nggak ada apa-apa.

Duta:  Aku begitu dengar materinya waktu selesai rekaman, aku punya keyakinan kalau album ini penjualannya bakal bagus.

Eross: Tahun itu kami sangat padat, manggung, lalu di sela-sela manggung bikin rekaman, kadang terpotong. Hampir nggak ada ekspektasi. Kita bener-bener nggak mikir, aku punya mood bikin lagu, ketemu anak-anak, jamming, lalu rekaman. Bahkan nggak ada ketakutan angka penjualan bakal berapa.

Apa yang membuat yakin?

Duta: Saat album pertama sebagai band yang berangkat di Jogja lalu rekaman album di Jakarta, aku belum bisa meraba, belum punya bayangan apa-apa. Aku waktu itu cuma nyanyi lagu yang aku senangi, lagu dari bandku yang aku senangi, ternyata hasilnya bisa seperti itu.  Album kedua ini aku waktu rekaman lebih senang lagi. Di satu sisi aku merasa kemasan musiknya lebih matang tapi secara materi sebenernya nggak jauh berbeda sama album pertama. Itulah kenapa aku punya optimisme yang tinggi.

Sony mematok  target penjualan?

Adam:  Dari Sony begitu terima demo bilang, “Sip, materinya oke” (tertawa).

 Kapan mulai ada tanda penjualan album akan melebihi penjualan album pertama?

Duta:  Aku pribadi nggak ingat pernah memikirkan itu. Masalah penjualan bisa kita percayakan ke orang yang lebih tahu. Itulah gunanya punya label. Dan saat itu industri masih bagus. Yang kita tahu buat lagu yang baik dan punya live performance yang sama bagusnya atau malah lebih bagus dari versi albumnya.

Adam: Aku masih suka mendengarkan rekaman penampilan live kita di tahun-tahun itu. Bosok tenan (jelek sekali) (tertawa)

 Berapa lagu yang disetorkan untuk demo album ini?

Duta: Ada belasan sih, album pertama yang lebih banyak. Tapi tetep ada sih yang masuk unreleased.

Adam:  Antara 21 sampai 22 lagu waktu album pertama.

Berapa lama rekaman album ini?

Duta: Sebelum masuk era rekaman di Jogja mulai album 507, kita selalu tertib saat rekaman karena take di Jakarta semua dan ditarget berapa shift harus selesai. Aku lupa, pokoknya antara dua sampai tiga minggu.

Suksesnya album pertama mempengaruhi ke peningkatan di proses produksi album ini?

Eross: Vibe saat rekaman yang album ini lebih tertata, nggak grusah-grusuh (tergesa-gesa).  Album pertama kan shift dibatasi, yang ini lebih bisa eksplor dan bisa minta string section asli. Lebih terkonsep. Dengan fasilitas-fasilitas tadi kita jadi lupa target penjualan.

Duta: Aku bercermin penampilan live-ku sangat kurang. Goal-ku ingin nyanyi di panggung lebih baik. Cuma itu saja yang pengen aku kejar. Kepentingan kita memperbaiki nilai minus belum menampilkan live performance yang baik sebagai band yang kata orang jutaan kopi.

Ada nama-nama terkemuka seperti komposer Erwin Gutawa dan violinist Maylaffayza di album ini. Ini memang permintaan Sheila On 7?

Eross: Ketika ditanya sama Pak Jan siapa yang pengen mengisi string-nya,  nama pertama yang aku pikirkan ya  Erwin Gutawa. Kalau Fayza dulu karena mau dikontrak sama Sony, mungkin buat bridging ke album. Sebetulnya kita lebih butuh suara cewek untuk backing vocal, lalu kita coba Fayza tapi kurang cocok. Justru permainan violin dia ngasih ambience lain di lagu.

Tapi kebutuhan lagunya memang memerlukan nama-nama tadi?

Eross: Kalau itu kita memang ingin pakai string, tapi kita nggak tau siapa komposer yang tepat. Sampai keluar nama Erwin Gutawa ya itu dari Sony.

 Cocok dengan lagunya?

Duta: Oh jelas, Erwin Gutawa gitu (tertawa).

 Apa personel Sheila On 7 waktu itu mengamati angka penjualan Kisah Klasik Untuk Masa Depan setiap minggu?

Eross: Enggak, mungkin karena jadwal manggung kami yang padat. Tapi setiap dikasih tahu beritanya selalu berita baik. Dulu aku sama Adam pas album pertama yang sering cemas dan ngecek toko kaset karena album pertama itu perjudian. Album kedua istilahnya sudah take-off lah.

Adam : Sebetulnya sudah kelihatan karena begitu dengar berita mau rilis di toko kaset sudah banyak yang pre-order.

Akhirnya album bisa melebihi angka penjualan album pertama. Setelahnya apakah ada yang berubah dengan kehidupan pribadi personel Sheila On 7?

Duta: Buat kita nggak ada beda. Tapi justru hal itu yang bikin kekurangan kita.

Adam:  Orang-orang ekspektasinya lebih.

Duta: Orang-orang ekskpektasinya kita sudah jadi idola. Ada momen dimana kita harus sadar kita idola, panutan. Bermusik dan segala macam.

Eross: Menurutku jadi overexposed. Akhirnya banyak yang muak tiap denger berita kita. Kita sebetulnya tidak ingin terus diberitakan. Tapi karena kita masih naif, masih lugu banget, setiap ada yang mau wawancara bahkan foto rumah malah kita persilahkan. Baru bisa mikir sekarang harusnya kita nggak perlu ekspos sampai sebegitunya, istilahnya melenceng darri awal yang kita lakukan. Bungkusannya jadi mirip boyband.

Saya amati memang saat itu  Sheila On 7 justru malah sering tampil di majalah remaja putri dan semakin mirip dengan citra sebagai boyband ya?

Adam:  Mungkin pada awal rencananya label memang begitu (tertawa). Ya kalau kita pertama image-nya kan dari daerah.

Duta:  Pada akhirnya anak-anak sadar kalau kita ini pemain band bukan boyband karena kita tahu citra boyband ya sekumpulan cowok-cowok yang nyanyi nggak main alat. Mungkin pandangan itu yang buat anak-anak jadi nggak terlalu nyaman, tapi alhamdulillah anak-anak nggak kemudian jadi sok garang. Ya karena roots-nya Sheila On 7 kan band pop. Kalau cewek-cewek banyak yang seneng kan wajar sama yang indah-indah, yang manis. Tapi anak-anak kemudian sadar kalau kita beda dengan band-band pop lain karena kita juga ada bluesnya, ada rock, gak cuma pop. Anton juga ngedrum ada pengaruh jazznya. Jadi yang buat Sheila On 7 unik ya itu. Aku gak pernah kebayang pakai sepatu boot tinggi. Bukan bermaksud seperti yang itu lho ya (tertawa). Kami tahu diri lah, band kami seperti ini. Kami juga nggak ingin membawa band ini lebih garang.

Eross: Mungkin itu bentuk naifnya kita. Semuanya harusnya lebih bisa disortir. Di usia itu Sheila On 7 lagi berkembang. Ada ledakan musikalitas. Harusnya itu yang lebih diperhatikan oleh kami sendiri dan label.

Publisitas tadi membuat personel terganggu?

Adam: Kalau keluarnya di majalah pria dewasa mungkin kita bingung juga (tertawa).

Duta: Aku waktu itu masih 20 tahun, tenaga masih kuat untuk melakukan apa saja. Passion-nya bener-bener cuma ngeband dan melakukan hal apa saja demi band.

Adam:  Isih turah-turah lah (masih banyak tersisa) tenaganya (tertawa).

Biasanya publisitas media yang begitu besar di sisi lain memunculkan pihak-pihak yang tidak suka. Sheila On 7 juga mengalami itu?

Eross: Haters sudah ada dari album pertama. Sejak “Dan…” sudah mulai overexposed. Media sudah menyorot ke kehidupan kami bukan musikalitas. Kami gak menyalahkan siapa-siapa. Semuanya masih serba meraba. Dari band, manajemen, label, juga media. Kalau saat ini sifatnya sudah lebih membangun, ada ktitikus musik yang mengkritik musik kami. Itu yang aku suka. Jadi challenge buat kami.

Duta: Kita orang yang introspeksi diri. Nggak cuma larut lalu kecewa. Kita gali sebenernya apa sih problemnya tapi kita berusaha nggak kemudian kita jadi orang lain juga.

Di album Kisah Klasik Untuk Masa Depan ini Sheila On 7 mulai sadar membangun citra dan merk dagang, salah satunya dengan membuat logo band yang dipertahankan sampai album 507. Juga sampul album yang lebih terkonsep. Siapa yang pertama punya ide?

Adam:  Itu dari mas Anton (Anton Kurniawan, -red)  manajer kita waktu itu.

Duta:  Kita memang….tidak punya ide (tertawa). Yang jelas Sheila On 7 berangkat dari band SMA yang memang seneng ngeband. Dibilang kita mikir branding, mikir image, itu jauh banget. Jadi segala hal-hal yang terkait itu dari manajemen dan label sih sebetulnya.

Adam: (menunjuk fotonya di sampul album) Liat ini nih aku cuma pakai kaos barong bali (tertawa).

Eross: Logo dan sampul album ini yang bikin Santi dan Otomm dari Indieguerillas. Anak-anak nggak ada masukan apa-apa. Aku cuma bilang ke mas Anton untuk memasukkan foto-foto saat tur ke album karena banyak band yang melakukan itu dan aku suka. Dan ternyata aku baru tahu setelah beberapa tahun kemudian aku baru tahu kalau desain sampul album ini seperti sperma. Jadi filosofinya album ini menyebar kemana-mana.

kisah-klasik

***

Perbincangan lalu beralih ke pembahasan 12 lagu di album Kisah Klasik Untuk Masa Depan.  Dari jumlah itu Eross hampir memegang kendali penuh dalam penciptaan lagu, termasuk hits single “Bila Kau Tak Disampingku”, “Sahabat Sejati”, dan tentu saja “Sephia”.

Personel Sheila On 7 masih memberikan otoritas kepada Anda untuk menulis keseluruhan lagu?

Eross: Sebetulnya ngalir. Siapa yang ada lagu monggo (silahkan). Cuma kondisi waktu itu buat beberapa personel belum memberi waktu dan ruang  untuk belajar berkembang. Jadwal kita padat sekali. Keluar kamar hotel susah, akhirnya di hotel cuma nonton TV dan makan. Mungkin kalau nggak se-hype itu secara musikalitas saya dan personel lain bisa lebih berkembang. Aku juga nggak menyalahkan.

Waktu saya berkesempatan mewawancarai Sakti, dia bilang kalau lirik kotak sejuta mimpi itu sebetulnya merujuk ke gitarnya. Apa benar?

Dulu aku sering main sama Adam dan Sakti untuk urusan aransemen gitar. Waktu nulis lagu itu aku menujukan buat Duta, Adam, Sakti, dan Anton. Aku dengan lugunya ingin menjalani hidup dengan gitar. Dengan kotak sejuta mimpi aku mendatangi anak-anak kalau aku punya lagu. Waktu itu kita nggak banyak mikir. Lakukan ini semua, tabrak sana-sini. Itu gambaran Sheila On 7 waktu itu.

Mungkin kalau kita terlambat empat atau lima tahun ke Jakarta nggak akan ada lirik senekat itu.  Itu hal-hal lugas sebagai anak muda, nggak mikir jauh. Aku berani ninggalin kuliah karena musik itu sesuatu yang gila karena aku bukan dari keluarga berpunya dan aku cuma berkaca sama musisi sukses saja, bukan sama musisi gagal (tertawa). Aku ingat ngomong ke anak-anak waktu habis ngasih demo pertama, “Kalau demo ini gagal kita akan nyoba lagi untuk kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya.”  Itu spirit yang cuma dipunyai saat personel Sheila On 7 umurnya 20-an.

Kalau saya amati narasi  “Bila Kau Tak Disampingku” mirip dengan “Dan…” ya?

Waktu jeda album sangat pendek jadi masih ada pemanjangan ide dari album pertama. Apa yang nggak sempat aku lakuin di album pertama aku lakuin di album ini. Kalau dilihat notasinya pas reffrain nggak jauh beda dengan “Dan…”, cuma ada variasi di modulasi lagu. Kalau album pertama semua tanpa perubahan tangga nada. Kalau di album ini mulai dari lagu ini ada modulasi. Semuanya lebih ke ledakan musikalitas di chord lagu.

“Sephia” akan jadi pembahasan paling panjang. Sosok Sephia ini cuma simbolisasi saja atau memang nyata?

Ada beberapa (tertawa). Begini, kalau ditanya bagimana aku di tahun 2000 kadang-kadang aku bersyukur sekali sampai hari ini aku masih selamat, punya keluarga yang sangat aku cintai. Bisa saja di tahun itu aku mati karena kecerobohanku. Cuma  karena Tuhan masih sayang sama aku mungkin Dia masih punya misi sama aku. Ya “Sephia” itu bentuk sembrono, menganggap hal sepele memberi nama selingkuhan. Kalau dulu anak nakal dibilang kancil karena sering mencuri, aku ingin kasih nama selingkuhan itu Sephia supaya suatu hari orang akan menyebut selingkuhannya dengan Sephia walaupun lagu itu pesannya bahwa kisah kita tak akan abadi. Cuma ya anak muda yang sembrono, jadi punya keberanian untuk mengucap selamat tidur kekasih gelapku.

Kenapa harus sefrontal itu?

Karena aku mengeksplorasi. Kalau di album pertama ada hal-hal yang elegan seperti lupakanlah saja diriku di “Dan…”.  Di album kedua aku ingin mencoba yang lebih brengsek dan nekat (tertawa).

Banyak yang kaget karena latar belakang Anda sebagai orang Jawa yang lugu dan juga masih muda untuk bicara tentang kekasih gelap…

Aku waktu itu kalau menulis lagu hampir dipastikan nggak bisa ngarang karena itu aku alamin. Nggak bisa seperti sutradara film yang bisa berimporivisasi dengan cerita. Saat itu aku baru selesai sekolah, masih punya waktu bersosialiasi banyak. Kalau sekarang kalau nggak kerja ya delapan puluh persen waktu aku buat keluarga.

Kapan Anda menyadari kalau Sephia akhirnya jadi icon untuk kekasih gelap?

Aku mulai sadar ketika ada temen main ke rumah tiba-tiba dia nelpon. Waktu aku tanya dia bilang, “Biasa, Sephia” Aku lalu tertawa dan membatin, “It happened.” Akhirnya Sephia selalu jadi pembahasan, entah bagus atau jelek (tertawa.)

Banyak versi tentang asal mula nama Sephia, sebetulnya nama itu dari mana? 

Aku ditanya itu sampai berkali-kali, sampai pada titik aku bertanya balik (tertawa). Jadi  nama Sephia itu didapat waktu sedang tur di kamar hotel ada TV namanya Sophia, cuma waktu itu kalau dikasih nama Sophia malah jadi kayak Sophia Latjuba (tertawa).

Tapi jadi misteri…

Kalau kejadian makhluk halus di studio memang selalu ada. Lali aku opo wae (aku lupa apa saja) (tertawa).

Suara bisik-bisik di awal lagu itu idenya siapa?

Aku. Duta yang take.

Supaya menimbulkan kesan misterius soal sosok Sephia?

Nek kuwi nggo keren-kerenan wae (untuk keren-kerenan saja) (tertawa).

Banyak nama dalam narasi lagu yang Anda ciptakan. Rani, Sephia, Niah, Khaylila, sampai Ibu Linda. Seberapa penting perannya dalam bangunan narasi lagu?

Kadang-kadang ketika dikasih nama orang lebih merasa memiliki ketimbang pakai dia atau kamu. Kayak Bon Jovi pakai Tommy dan Gina. Itu jadi simboliasi orang-orang muda yang berjuang buat hidup. Dan aku berhasilnya dengan Sephia (tertawa).

“Sephia” lalu jadi inspirasi band-band lain untuk membuat lagu bertema hubungan gelap. Bagaimana penilaian Anda?

Tema selingkuh Sebenarnya sebelum “Sephia” mungkin ada, namun mengutarakannya lebih halus tak sefrontal selamat tidur kekasih gelapku. Aku merasa bersalah juga karena mereka bikin lagu tentang selingkuh dan hasilnya cheessy. Saat aku tanya inspirasinya dari Sheila On 7 (tertawa) .

Kalau “Just For My Mom” bagaimana pembagian tugasnya dengan Adam?

Kalau kata-kata yang susah itu dari Adam, yang simpel dari aku. Aku nggak punya kapasitas buat bikin lagu dalam bahasa Inggris (tertawa).

Sosok mama sepertinya cukup berpengaruh saat membuat lagu ini? Saya menemukan  lagi sosok mama di lirik mama buat aku terjaga di “Pagi yang Menakjubkan”

Di umur itu aku masih hidup sama mamaku, aku nggak punya obyek lain. Lebih gampang menuliskan tentang dia dibanding orang lain.

Hancurkanlah tempat  tidurku  di “Pagi Yang Menakjubkan” apa terinspirasi dari so I start revolution from my bed yang ada di “Don’t Look Back In Anger” Oasis?  Karena Oasis kan salah satu influence Sheila On 7

Oasis banyak mempengaruhi Sheila On 7 tapi itu diambil dari lagunya Slank yang judulnya “Mau (Beli) Tidur”. Aku bangun lagi dan bakar rokok, kutendang-tendang ranjangku yang bobrok.

“Sebuah Kisah Klasik” apa juga seperti “Sahabat Sejati” yang bercerita relasi Anda dengan Duta, Adam, Sakti, dan Anton?

Itu dari kehidupan sekolah. Kan biasanya punya geng. Aku selalu menertawakan teman-teman setiap kita mencoba melakukan hal-hal bodoh seperti coba-coba minum. Wis pokoke dino iki seneng-seneng wae, sesuk embuh (pokoknya hari ini senang-senang, besok dipikir nanti saja). Karena hari ini yang membuat kita kangen di masa depan.

Ide memasukkan violin di reffrain dari mana karena membuat dinamika lagu jadi berbeda?

Sebetulnya kita dikasih pemain violin. Sebetulnya part violin  di reffrain itu buat part gitar, tapi kita coba ganti violin. Hasilnya mengejutkan.

“Sebuah Kisah Klasik” jadi semacam cetak biru untuk penulisan lirik-lirik Sheila On 7. Selalu ada optimisme dibalik kesedihan atau perpisahan. Punya misi khusus?

Kalau lirik aku banyak terpengaruh dari Bon Jovi dan The Cure, tapi cinta pertamaku soal lirik itu Slank. Di Bon Jovi banyak lirik-lirik soal optimisme seperti “Wild In The Streets” atau “Blood On Blood” yang menginspirasi ke lagu seperti “Sahabat Sejati”. Aku jadi seperti bikin versiku sendiri walaupun gagal dan nggak mirip (tertawa). Tapi kalau lagu ini berhasil bikin orang semangat artinya sama kayak Bon Jovi yang menginspirasi aku.

 Saya sampai saat ini masih kagum dengan pemilihan frasa kisah klasik untuk masa depan. Bisa diceritakan bagaimana mendapatkannya?

Sampai sekarang aku kalau bikin lagu awalnya dari rasa. Dari rasa itu lalu dicari kata-kata yang tepat. Waktu bikin lagu ini aku rasanya ingin bikin lagu tentang perpisahan. Membicarakan hal yang indah hari ini buat besok. Akhirnya jadilah kisah klasik untuk masa depan. Waktu itu banyak pilihan, tapi kisah klasik untuk masa depan yang menurutku paling oke.

Mengapa harus Jakarta yang jadi pilihan untuk “Tunggu Aku di Jakarta”, bukan Bandung atau Surabaya misalnya?

Itu sebetulnya materi album pertama. Aku waktu itu punya pacar tinggal di Jakarta, sesimpel itu. Dan memang kalau kamu punya mimpi tapi belum menaklukkan Jakarta sepertinya belum sah. Apalagi di bidang musik. Label di sana semua, studio rekaman di sana semua. Jadi nggak ada pilihan kota lain. Aku waktu itu belum tahu scene musik di kota lain seperti Bandung apakah saat itu diakui seperti Jakarta. Jadi mindset-ku  saat itu Slank, Dewa 19 ya di Jakarta.

Kenapa tak ada lirik di sampul albumnya?

Itu aku nggak tau (tertawa).

“Tunjuk Satu Bintang” terinspirasi dari mana?

Itu dari lagunya The Cure. Aku lupa judulnya.

Bintang sepertinya jadi kata favorit dalam penulisan lirik karena saya juga menemukan di “Temani Aku” ?

Itu hal yang simpel. Dari anak kecil sampai orang dewasa ketika menyebut bintang konotasi katanya adalah hal-hal yang baik.

Selain kata hebat dan tangguh ya?

Itu juga. Aku kepengen ketika bikin lagu orang punya semacam booster dari lagu itu.

 Mengapa intro “Karena Aku Setia” menampilkan suasana seperti peperangan?

Ketika aku bikin intro-nya aku kebayang ada hal heroik. Saat itu yang terpikir adalah ada suara helikopter, suara perang. Istilahnya bela negara karena kamu setia sama negara. Pokoknya heroik (tertawa).

“Selamat Tidur” memang diset sebagai penutup?

Iya. Kalau aku dengar album Mellon Collie and the Infinite Sadness-nya Smashing Pumpkins kan track akhirnya lagu akustik.

Siapa Reka Wahab yang jadi backing vocal di lagu tersebut?

Anaknya Dimas Wahab, bapaknya anak-anak Bragi, yang paling kecil. Dia suka main-main ke studio sambil bawa camilan impor. Nah pas dia take camilannya dimakan sama anak-anak (tertawa).

“Bertahan Disana” yang tak dimasukkan album ini tapi muncul di album The Very Best of Sheila On 7: Jalan Terus seperti memperlihatkan Anda menikmati aktivitas tur panjang dengan band?

 Lirik itu memang dari situ. Nggak mungkin aku bisa bikin lirik itu tanpa aku ngalamin itu. Liriknya sebetulnya lebih pas ke album ini.

Bagaimana pola penentuan hits single? Ada negosiasi antara band dengan label? 

Kalau di era itu nggak ada nego pokoknya kita nurut aja. Semua single yang piih Pak Jan.

Penggarapan video klip juga mengikuti label?

Kita ikut saja sama konseptornya dan waktu diterangin kita cuma manggut-manggut, oke…oke… (tertawa).

Ada notes yang menggambarkan relasi personal antara anda dan mendiang ayah. Apa yang ingin disampaikan?

Ini untuk pertama kalinya aku merasa ada orang yang dekat di lingkungan kamu dan dia berguna buat hidup kamu. Buatku itu fase pertamaku jadi seorang lelaki. Ternyata suatu hari kita harus fight sendiri. Dan aku baru bisa lega setelah menulis “Lapang Dada” karena di era ini aku serba meraba semua. Ada perasaan ganjil tapi aku belum tahu menulis seperti apa. Banyak yang belum terjawab dan itu semua baru terjawab setelah aku punya anak.

***

Adam Muhammad Subarkah kembali menulis lagu di album ini setelah di album pertama menulis “Terlintas Dua Kata”. Ada dua lagu yang ditulis bassist bertubuh gempal ini. Pertama adalah “Lihat, Dengar, Rasakan” serta “Just For My Mom” yang digarap bersama Eross.

“Just For My Mom” kenapa liriknya berbahasa Inggris?

Aku ingatnya bikin di rumah Sakti. Eross ada ide untuk membuat lagu dengan referensi dari Bon Jovi, Oasis, Extreme, Skid Row, Metallica, Red Hot Chilli Pepper, semuanya lah. Apalagi aku sempat tinggal di luar negeri. Kelihatannya lirik bahasa Inggris keren walau setelah dibaca lagi agak kacau (tertawa). Aku berpikir kata mom lebih keren dari mama atau ibu. Dicampur dengan chord lalu diaransemen di studio. Intinya menggambarkan peran ibu. Kita waktu itu masih bocah, anak mama. Lagi susah ibu selalu ada buat kita.

Di “Lihat, Dengar, Rasakan” liriknya menyiratkan permohonan pada Tuhan untuk mudahkan hidupnya, hiasi dengan belai-Mu. Ada pengalaman spiritual khusus yang melatarbelakangi lagu ini karena di album sebelumnya Anda menulis soal putus cinta di “Terlintas Dua Kata” ?

Aku punya mbak yang biasa bantu di rumah. Dia punya anak dengan kebutuhan khusus. Anaknya senang musik, sering aku putarkan VCD musik, dan senang main gitar juga. Suatu saat aku pas berhenti di perempatan lampu merah ada anak yang  ngamen, pas aku buka kaca mobil ternyata dia. Dia malu terus langsung pergi dan nggak pernah datang ke rumah.

Berarti dia di dia telah berdiri coba berlari merujuk ke anak itu?

Iya, intinya aku cuma ingin mengajak orang lain ingat orang yang kekurangan.

Relasi dengan sosok anak ditampilkan lagi di “My Lovely” yang ada di album Musim Yang Baik ya?

Kalau “My Lovely”  itu personal banget karena itu untuk anak pertamaku. Aku kagum dengan anakku yang harus menjalani operasi besar. Kita sebagai orang tua khawatir dengan kondisinya, tapi dia berhasil melewati dengan kuat. Dia melihat adik-adiknya dengan main bebas. Karena kakinya masih pemulihan, dia lalu menggambar. Makanya ada kata-kata  tersenyum jari menari.

Tapi bertemu problematika masa muda lagi ya di “Bapak-Bapak” yang ada di album 07 Des?

Ah itu banyak kan yang mengalami seperti itu (tertawa). Berhadapan dengan orang tua pacar kan ada yang mulus ada yang enggak. Kalau saya alhamdulillah nggak pernah ada masalah apa-apa.

 

Rujukan:

[1] “Sheila on Sejuta Copy” http://www.pantau.or.id/?/=d/49. Tanggal akses 8 Agustus 2016 .

[2] “5 Album Paling Berkesan dalam Karier Stephan Santoso” http://hiburan.metrotvnews.com/read/2015/11/09/189013/5-album-paling-berkesan-dalam-karier-stephan-santoso . Tanggal akses 30 september 2016

8 Comments

  1. mahatma Reply

    Thx mas ulasan memori kisah klasiknya. Keren banget. Banyak hal personalnya. Jadi banyak tahu behind scene nya. Rasanya gado gado. Ada yg ngekek ga hbs pikir, spt pas moment celana kulit. ada yg bikin terharu jg. komplitlah. Habis baca ini langsung tancap gas muter album kisah klasik. Dan feel nya jd dapet banget. 😀

    Selalu sangat menikmati tulisan2 dr masjaki. Terus ditunggu mas tulisannya

  2. Kemas Muhammad Reply

    Aku inget harus ngampet nggak jajan buat nabung beli kaset album ini dan album pertama. Sayang aku masuk Jakarta pas mereka selalu dibully di tiap pensi, jadi gak pernah menikmati performancenya karena pasti crowdnya gak enak atau mood bandnya ambyar.

    1. Fakhri Zakaria Reply

      Iyo, jaman semono yo aku isin nek ngaku seneng So7 haha. Jadi kalau di sekolah nek nyetel kaset sih Linkin Park, tapi nek wis balik omah yo tetep balik meneh sih hahaha. Tur yo jaman semono nek meh nonton konser e yo ngeri je, mesti rusuh e. Rusuh nonton e, ambyar sound ne sisan.

  3. Nila Reply

    Wah senengnya kalau Mas Jaki bikin tulisan Sheila on 7, nguliknya mantapppp Kisah yang ditulis selalu punya makna dalam dan dilihatnya dari teropong dimensi lain yang gak pernah diulas media 🙂
    Makasih ya mas blognya sering saya referensiin ke-temen temen ngonser sheila lainnya, beberapa malah jadi temen baik walaupun usianya belasan tahun lebih muda dan pantesnya saya jadi tante mereka. Eh tapi kok tante masih single *eh gimana ^^

  4. rio Reply

    lagi moco iki mas,apik tulisan e,mbiyen ki kakang kakangku sengit kabeh ro band iki boh ngopo?tp nek bagi generasi lairan 90an iki ban e apik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *