Mengarsipkan Musik Indonesia

796c4205c804f7528e4dbe8d1ebbc67fSektor industri musik akhirnya mulai digarap serius saat Presiden Joko Widodo membentuk Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) pada 20 Januari 2015. Di lembaga negara yang dipimpin Triawan Munaf itu, industri musik merupakan salah satu subsektor prioritas industri kreatif yang ditargetkan mampu memberikan kontribusi 9,5 persen dari total Produk Domestik Bruto nasional pada tahun 2017 ini.[1]

Untuk mendukung target tersebut, Bekraf menyediakan fasilitas untuk pelaku industri musik. Fasilitas tersebut, seperti dikutip dari situs resmi Bekraf,  antara lain: perlindungan Hak Kekayaan Intelektual  sehingga bisa mengurangi pembajakan, menginisiasi terbentuknya inkubator-inkubator musik, membuka akses permodalan untuk industri musik, membangun ekosistem bisnis musik yang sehat, dan program-program lain.[2]

Menarik untuk melihat sejauh mana Bekraf menempatkan isu pengarsipan musik dalam program kerjanya. Pengarsipan di negara ini bukanlah isu populer. Kehadirannya hanya tampak saat pemerintah kebakaran jenggot kala aset-asetnya dicuri. Seperti kejadian klaim sepihak Malaysia atas lagu “Rasa Sayang Eh” beberapa tahun lalu.

Menteri Pelancongan dan Kebudayaan Malaysia saat itu, Adnan Mansor menyatakan pihaknya menolak telah mencuri lagu tersebut dari Indonesia dan menyebut “Rasa Sayang Eh” sebagai lagu rakyat rumpun Melayu dimana Malaysia menjadi bagiannya. Sementara  Jero Wacik yang saat itu menjabat sebagai Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia menyatakan pihaknya siap menempuh langkah hukum asalkan sudah ada bukti cukup yang menjelaskan bahwa lagu tersebut memang berasal dari Indonesia.[3]

Barang bukti yang disebut Jero Wacik tadi ditemukan teronggok di sudut ruang penyimpanan piringan hitam milik Perum Percetakan Negara Republik Indonesia Cabang Surakarta “Lokananta” yang saat itu kondisinya begitu menyedihkan. Di pabrik piringan hitam yang kemudian berkembang menjadi studio dan label rekaman ini, arsip lagu ditemukan teronggok debu di ruangan pengap tanpa pendingin udara untuk menghindari plat piringan hitam dari kerusakan. Setelah kurang lebih seminggu melakukan pencarian dari ribuan piringan hitam, titik terang akhirnya muncul. Lagu “Rasa Sayang Eh” ternyata adalah bagian dari album kompilasi Asian Games: Souvenir From Indonesia. Album ini merupakan buah tangan dari Indonesia bagi negara-negara peserta Asian Games IV di Jakarta yang dilangsungkan pada tahun 1962, Malaysia salah satunya.

Maka sudah jelas sebab musababnya: pengarsipan musik Indonesia memang payah. Sampai saat ini belum ada institusi negara yang mempunyai tugas pokok dan fungsi spesifik melakukan kegiatan pendokumentasian dan penyimpanan musik Indonesia meski sudah ada Arsip Negara Republik Indonesia (ANRI) yang melaksanakan tugas pemerintahan di bidang kearsipan.

Gagasan Arsip Musik Nasional

Sesuai Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2009 tentang Kearsipan, arsip yang tercipta dari kegiatan lembaga negara dan kegiatan yang menggunakan sumber dana negara dinyatakan sebagai arsip milik negara, termasuk arsip musik. Undang-Undang ini juga mewajibkan bentuk rilisan yang berkaitan dengan lembaga negara dan menggunakan uang negara untuk dikirimkan ke ANRI. Hal ini didukung pasal 53 butir (6) bahwa perusahaan wajib menyerahkan arsip statis kepada lembaga kearsipan berdasarkan tingkatannya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Dalam skala yang lebih luas, sebetulnya sejak era  80-an ada imbauan agar label-label rekaman di Indonesia mengirimkan kopi setiap rilisan rekaman ke Perpustakaan Nasional Republik Indonesia sebagai pelaksana tugas tugas pemerintahan di bidang perpustakaan, baik secara langsung maupun melalui Asosiasi Industri Rekaman Indonesia (ASIRI) sebagai asosiasi profesi.

Konsep ini  sebetulnya mirip dengan cetak biru pembentukan Lokananta pada tahun 1956. Presiden Soekarno saat itu secara langsung memerintahkan setiap stasiun Radio Republik Indonsia di tiap provinsi mengirimkan minimal dua lagu daerah untuk digandakan dalam format piringan hitam. Artinya, Lokananta memang disiapkan sebagai bank sentral lagu-lagu daerah di Indonesia.[4]

Sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 215 Tahun 1961, bidang usaha Lokananta kemudian berkembang menjadi label rekaman dengan spesialisasi pada lagu daerah, pertunjukan kesenian, juga penerbitan buku dan majalah. Nama-nama besar seperti Gesang, Sam Saimun, Waldjinah, Buby Chen, Jack Lesmana, termasuk lagu “Terang Bulan” milik Saiful Bahri yang lagi-lagi sempat diklaim milik Malaysia.[5]

Kondisi perusahaan yang sempat kolaps saat likuidasi Departemen Penerangan di era  Presiden Abdurrahman Wahid membuat kegiatan pengarsipan menjadi mangkrak. Tidak adanya ruang penyimpanan yang memadai membuat arsip-arsip rilisan menjadi rawan terhadap kerusakan. Arsip-arsip tersebut saat itu disimpan dalam ruangan yang sirkulasi udaranya hanya mengandalkan jendela yang dibuka tutup saat jam kerja, tanpa pendingin udara. Kebijakan likuidasi Departemen Penerangan yang membuat Lokananta mengalami semacam missing link sebelum akhirnya berada dibawah Perum Percetakan Negara Republik Indonesia pada tahun 2007.

Bukan hal mudah untuk membentuk suatu lembaga negara baru yang secara khusus bertanggungjawab pada pengarsipan musik Indonesia. Ada serangkaian persyaratan birokratis yang harus dipenuhi sebelum benar-benar bekerja sesuai tugas pokok dan fungsinya. Revitalisasi institusi yang sudah ada jadi langkah paling logis untuk membenahi sektor pengarsipan musik Indonesia. Dalam hal ini, ANRI, Perpustakaan Nasional, serta Lokananta. Juga memperkuat simpul-simpul komunitas seperti kolektor dan inisiatif publik seperti yang dijalankan Irama Nusantara dan Galeri Malang Bernyanyi.

Masa Depan Arsip Musik Indonesia

Digitalisasi dianggap bisa menjadi jalan keluar untuk menyelamatkan rekam jejak musik Indonesia. Menjadi sebuah perjalanan yang panjang dan masih akan berlanjut hingga anak cucu kita nanti, bahkan sampai keturunannya lagi, dapat menikmati musik seperti di usia kita yang saban hari masih mengalun nada-nada milik Paul McCartney. Beruntung ia dan The Beatles adalah band fenomenal yang melegenda hingga arsipnya mudah ditemui dimana-mana. Lantas bagaimana nasib arsip musisi-musisi lainnya yang kalah melegenda tapi memiliki kualitas musik yang paling tidak setara dengan mereka?

Semua pola pengarsipan tetaplah sama, yaitu pelestarian. Tujuan pelestarian bahan pustaka menurut Martoatmodjo yang dikutip Handoyo (2012, 2) adalah sebagai berikut: pertama, menyelamatkan nilai informasi dokumen. Kedua, menyelamatkan fisik dokumen. Ketiga, mengatasi kendala kekurangan ruang. Keempat, mempercepat perolehan informasi, dokumen yang tersimpan dalam CD (Compact Disk) sangat mudah untuk diakses, baik dari jarak dekat maupun jarak jauh. Sehingga pemakaian dokumen atau bahan pustaka menjadi lebih optimal.[6]

Dari uraiain itu dikatakan jelas bahwa kandungan nilai informasi yang harus diselamatkan dengan beragam medium yang ada. Salah satunya medium digital. Medium ini membuat yang manual menjadi otomatis untuk diakses dan semua yang bersifat rumit akan menjadi ringan dengan teknologi yang dimilikinya. Dengan pengertian ini, medium digital diharapkan mampu mengakomodir mental musisi untuk menata dan merawat arsip-arsip mereka.

Menurut Chowdury, digitization is the process of taking a physical item, such as a book, manuscript or photograph, and making a digital copy of it. Digitization entails creating a digital copy of an analogue object. Digitalisasi mencakup pembuatan kopi file digital dari suatu objek yang berbentuk analog (koleksi asli sebelum bentuk digital).[7] Musik pun tak ubahnya dengan buku dan naskah kuno yang juga bisa diarsipkan secara digital keberadaannya. Saat ini musik masih punya bentuk fisik berupa CD, piringan hitam, dan kaset.

Lalu muncul pertanyaan apakah pengarsipan itu harus selalu dimulai dengan melestarikan yang sudah kuno dan mengganti medium dan bentuk fisiknya menjadi digital? Dan apakah kita tidak bisa mulai menanamkan nilai-nilai pelestarian terhadap sesuatu yang baru dikaryakan? Mengarsipkan masa depan mungkin menjadi idiom yang tak lazim dan cenderung mimpi belaka mengingat Indonesia memiliki histori yang tidak cakap untuk mengarsipkan data-data musik. Di Indonesia sejauh ini musik dianggap hanya hiburan yang tidak memiliki nilai penting dalam stabilitas negara. Belum lagi perkara bagi hasil dari institusi para musisi yang menggantungkan pengharapannya untuk mendapatkan sepeser dari kue besar industri musik.

Adaptasi Medium Pengarsipan: Belajar dari Kotak Musik

Di Jakarta, ada satu program musik bernama Kotak Musik yang menggunakan multiplatform konvensional dan digital sebagai media penyajian. Program tersebut memiliki misi besar mengarsipkan karya-karya musik Indonesia secara digital lewat produk artikel, video performance, dan video wawancara mendalam sekelompok band atau musisi dengan pengalaman aplikasi interaktif.

Jelang dua tahun berjalan, rupanya program Kotak Musik memiliki pembacanya sendiri di sektor digital, terutama kanal YouTube yang memberikan banyak ruang interaksi terhadap video arsip yang diunggah di sana. Beragam komentar dan apresiasi yang diberikan dari berbagai karakter band dan musisi yang dihadirkan.

Semuanya mengerucut pada satu hal, behavior alias tingkah laku warga internet. Pola apresiasi gaya milenial itu tentu bisa menjadi bahan rujukan bagi musisi menentukan sikap mereka atas karya yang ingin disampaikan ke publik. Dan hal ini dapat terjadi bila ada satu medium yang menyajikannya, yaitu medium digital sebagai etalase karya mereka. Lebih jauh lagi dimanfaatkan sebagai perpustakaan untuk menyimpan arsip karya-karya yang mungkin pada dekade berikutnya, komentar yang muncul akan berbeda.

Paling tidak, di tengah perjalanan mempersiapkan perpustakaan digital musik Indonesia, program Kotak Musik dapat merekam tingkah laku penikmat musik sesuai dengan karakter dan waktu dimana ia berada. Artinya medium pengarsipan digital ini tak hanya memberikan hak istimewa bagi musisinya, melainkan juga edukasi dan hiburan kepada masyarakat sesuai dengan zamannya.

Adaptasi itu harus dilakukan atau kita yang termakan oleh zaman. Sepuh Enstein pernah berkata, “the measure of intelligence is the ability to change,” yang berarti artikel ini untuk Anda yang mau mengubah pola pikir soal pengarsipan dengan cara yang cerdas.

CATATAN KAKI
[1]
Potensi Industri Kreatif dalam Diplomasi Ekonomi. https://diplomasiekonomi.kemlu.go.id/images/capbuilddiplomat/Paparan%20BEKRAF.pdf . Tanggal akses 8 Juli 2017

[2] Subsektor Musik. http://www.bekraf.go.id/subsektor/page/musik . Tanggal akses 9 Juli 2017

[3] Folk song sparks row between Indonesia and Malaysia. http://uk.reuters.com/article/oukoe-uk-indonesia-malaysia-song-idUKJAK15366020071003 Tanggal akses 8 Juli 2017

[4] Purwoaji, Ayos dan Fakhri Zakaria :Menyelamatkan Musik Indonesia”, artikel di majalah Rolling Stone Indonesia edisi Mei 2010.

[5] Tentang Lokananta. http://www.lokanantamusik.com/about . Tanggal akses 9 Juli 2017

[6] Martoatmodjo, Karmidi. 2012. Pelestarian Bahan Pustaka. Tangerang Selatan: Universitas Terbuka.

[7] Saleh, Abdul Rahman . 2012. Membangun Perpustakaan Digital. Jakarta: Sangung Seto

Ditulis bersama Dzulfikri Putra Malawi. Dimuat di Ruang Gramedia, 14 Juli 2017 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *