5 Album Kompilasi Penting di Industri Musik Indonesia

Ukuran-Visual-Artikel-PHI-768x576Sebelum kebebasan memilih jadi semudah sekarang, album kompilasi adalah pilihan mudah menikmati lagu berdasarkan preferensi personal. Jika ditarik ke ranah yang lebih luas, album kompilasi dapat dibedah dari berbagai aspek. Dari sisi bisnis, album kompilasi adalah bentuk seleksi label rekaman untuk artis-artis debutannya. Jika pasar merespon baik, maka kontrak album penuh segera disodorkan. Sedangkan jika berbicara dalam ranah sosiokultural, album kompilasi adalah bentuk dokumentasi para penggerak kancah musik, utamanya kancah musik independen, dalam menangkap semangat zaman. Berikut ini adalah lima album kompilasi penting di industri musik Indonesia.

Lomba Cipta Lagu Remaja (LCLR) Prambors 1977/1978

Dua kompilasi awal dari sepuluh edisi kompilasi ikonik Lomba Cipta Lagu Remaja Prambors Rasisonia (rilisan terakhir adalah tahun 1996). Kelahiran LCLR dipicu dari monotonnya industri musik Indonesia di medio 70-an. Grup-grup seperti Koes Plus, Panbers, D’Lloyd, The Mercy’s, juga Panbers menjadi nama yang mendominasi dengan warna musik yang cenderung seragam, baik dari aransemen maupun lirik. Remy Sylado bahkan menulis sebuah artikel di Jurnal Prisma yang khusus membedah gilanya kecanduan musisi-musisi Indonesia saat itu, termasuk kelompok rock ugal-ugalan AKA, memakai kata mengapa di lirik lagu. Tulisannya ada di sini

LCLR kemudian menggedor lewat sederet pencipta lagu seperti James F. Sundah yang menciptakan “Lilin Lilin Kecil” (LCLR 1977), Chris Manusama (menciptakan “Kidung” di LCLR 1978), sampai Iszur Muchtar, lebih dikenal sebagai pelawak di kelompok Padhyangan Project, yang menulis “Menepis Bayang Kasih” di album LCLR 1990/1991. Selanjutnya adalah sejarah. Dari album ini kemudian muncul nama-nama yang akhirnya kita kenal sebagai legenda musik Indonesia seperti Chrisye, Yockie Suryoprayogo, Benny Soebardja, sampai Yovie Widianto.

Indie Ten 1 (1998)

Dari penamaan, album ini sebetulnya agak rancu karena menyalahi “kaidah”. Kata indie di ranah industri musik mengacu pada pola kerja mandiri yang tidak tergantung pada label rekaman besar. Namun di album rilisan tahun 1998 ini album indie justru menjadi cara label raksasa Sony Music Entertainment Indonesia melakukan seleksi debutan-debutannya untuk nantinya dibuatkan album penuh.

Dua nama yang akhirnya menuliskan cerita kesuksesannya sendiri adalah Cokelat dan Padi, yang di album ini masing-masing diwakili single “Bunga Tidur” dan “Sobat”. Dua lagu akhirnya masuk di album pertama mereka, Untuk Bintang dan Lain Dunia. Juga ada Caffeine dan Wong yang sempat meramaikan chart televisi dan radio, serta eksponen Institut Kesenian Jakarta, Fable, yang akhirnya justru menjadi band indie sebenarnya. Lewat album ini juga Jan Djuhana menancapkan nama sebagai sosok artist and repertoire berkuping emas.

Masaindahbangetsekalipisan (1997)

Masaindahbangetsekalipisan-768x782

Kurun waktu 1996 sampai 1997 dicatat menjadi tahun penuh letupan di industri musik Indonesia, terutama kancah musik independen. Tahun ini dicatat sebagai kelahiran band-band independen yang akhirnya menjadi living legend seperti PAS, Pure Saturday, dan Puppen (RIP) yang kebetulan semuanya berasal dari Bandung. Saat itu studio Reverse milik Richard Mutter (drummer PAS) menjadi tempat latihan banyak band namun tak satupun juga yang kunjung merilis album. Dirinya lalu  mengajak band-band tanpa kejelasan nasib tadi untuk rekaman di album kompilasi Masaindahbangetsekalipisan. Album rekaman ini didistribusikan secara mandiri tanpa bergantung pada jaringan ritel kaset dan CD.

Richard mungkin sekadar ingin membantu membuatkan album komplasi saja, namun Masaindahbangetsekalipisan akhirnya dicatat sebagai salah satu dokumentasi penting pergerakan musik bawah tanah Indonesia. Dari album yang namanya berasal dari celetukan anak lelaki Richard ini, kita mengenal Burgerkill sebagai salah satu kelompok musik cadas terbesar di Indonesia hari ini.  Juga Superglad yang merupakan hasil metamorfosis dari satu-satunya band asal Jakarta di kompilasi tersebut, Waiting Room.

JKT:SKRG (2004)

Setelah gempuran gelombang pertama di kurun waktu 1996-1998, geliat musik independen muncul kembali di awal millennium baru. Kali ini Jakarta yang jadi sumbu penting. Entah apa jadinya Seringai, White Shoes and The Couples Company, The Upstairs, Sore, The Adams, sampai Teenage Death Stars hari ini jika David Tarigan dan kompatriotnya di Aksara Records tidak jeli mendokumentasikan geliat musik di bar sempit yang berlokasi di kawasan Menteng, BB’s Bar (kini sudah tutup).

Lebih dari satu dekade berselang sejak album ini dirilis tahun 2004, nama-nama di album ini menjadi cetak biru di setiap genre musiknya. Sulit tidak menyebut Seringai jika berbicara ranah heavy metal, sesulit mengabaikan pengaruh besar White Shoes and The Couples Company bagi pegiat musik indiepop. Kesompralan The Brandals masih menjadi referensi band-band garage, meskipun Eka Annash dkk kini sudah jauh lebih kalem karena faktor usia. Bahkan Teenage Death Stars masih jadi acuan band-band minim musikalitas dengan kredo sengak skill is dead.  Kredit khusus diberikan kepada C’mon Lennon lewat “Aku Cinta J.A.K.A.R.T.A” sebagai anthem paling representatif untuk sebuah kota. Seperti “Yogyakarta” milik KLa Project dalam versi tengil.

Jogja Istimewa (2010)

Jogjakarta seringkali terlewat dalam perbincangan kancah musik jika dibandingkan Jakarta dan Bandung. Padahal kota ini punya representasi mumpuni di berbagai lini. Mungkin karena kota ini kelewat santai jadi pelaku kancah musiknya pun tak terlalu ambil pusing. Namun di tahun 2010, Jogja menegaskan keistimewaanya sebagai kutub musik yang tak bisa dilewatkan begitu saja lewat Jogja Istimewa. Sebuah album kompilasi dari proses kurasi ketat oleh Wok The Rock, Ajie Wartono, dan Anton Kurniawan. Dibandingkan dengan album pendahulunya yang telah disebutkan dalam tulisan ini, sepuluh track Jogja Istimewa dipilih dengan kriteria harus memiliki lagu baru dalam kurun waktu setahun terakhir dan cenderung sepi dari publikasi.

Memajang “Jogja Istimewa”, sebuah nomor rap berbahasa Jawa dari kolektif Jogja Hip Hop Foundation sebagai pelatuk, album ini secara tidak langsung menjadi pelantang suara warga Jogjakarta yang di tahun tersebut mendapat cobaan di sana-sini. Erupsi hebat gunung Merapi membuat Jogja seperti kota mati untuk beberapa saat. Namun semangat gotong royong semua elemen warga membuat Jogja bangkit, sama seperti yang dilakukan saat gempa menghajar Jogja tahun 2006 silam. Belum selesai, Jogja diusik lewat polemik Rancangan Undang-Undang Keistimewaan. Meskipun situasi tadi tidak menjadi pertimbangan utama dan semata hanya kebetulan saja, namun Jogja Istimewa menjadi kuat lewat konteks sosial politik yang melatarabelakanginya, selain tentu saja keberhasilan mendokumentasikan pencapaian dunia musik subkultur Jogja saat itu. Sebuah album yang istimewa!

*dimuat di Pop Hari Ini , 22 September 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *