Malu-Malu Mengaku Melayu: 10 Tahun Pop Melayu

Setiap dekade selalu punya cerita sendiri-sendiri. Dan suka tidak suka, kemunculan pop Melayu menjadi salah satu penanda penting industri musik Indonesia di dekade 2000-an.

Mari sedikit mengenang kejayaan konsumsi rilisan fisik dengan mundur satu dekade ke belakang. Gorengan isu lawas asing versus pribumi sebetulnya sudah tersungkur jatuh di ring panggung industri musik nasional. Di akhir dekade 90-an, catatan jurnalis Kompas, Theodore K.S dalam tulisan berjudul “Industri Musik Indonesia di Ujung Abad Ke 20,”  yang dimuat di Buletin ASIRI menunjukkan penjualan kaset musisi Indonesia jauh melampaui penjualan kaset album mancanegara.

Tahun 1999, penjualan kaset musisi Indonesia mencapai angka 30 juta keping, sementara kaset musisi luar negeri hanya 11 juta keping. Sebelum krisis, di tahun 1996 penjualan kaset album musisi Indonesia bahkan mencapai angka 65 juta keping, berbanding jauh dengan kaset album luar negeri yang hanya 11 juta keping.

Selain karena faktor keterjangkauan, harga kaset musisi lokal yang jauh lebih murah, naiknya penjualan album musik Indonesia juga dipengaruhi kemunculan band-band pengusung musik pop alternatif seperti Dewa 19, GIGI, Sheila On 7, Padi, sampai Peterpan yang tumbuh besar seiring kehadiran MTV. Kemunculan band-band ini menurut Jeremy Wallach dalam tulisannya yang berjudul “Exploring Class, Nation, and Xenocentrism in Indonesian Cassette Retail Outlets” mampu menaikkan kelas musisi-musisi lokal yang sebelumnya identik dengan musik kelas bawah. Citra keren, cool, yang sebelumnya jauh ada di belahan bumi Barat kini mudah digapai anak-anak Melayu. Dalam perjalanannya band-band tadi, terutama Peterpan, juga meletakkan dasar baru tentang pop Melayu.
Ada banyak perdebatan tentang definisi pop Melayu di kancah musik Indonesia. Jeremy Wallach antropologis dari Bowling Green State University di Ohio, Amerika Serikat yang meneliti kajian musik popular di Asia Tenggara bahkan perlu mendefiniskan dalam tiga pengertian. Wallach, dalam tulisan berjudul “Muzik 
Popular
 Malaysia
 dan 
Masyarakat
Modern” menyebutkan pop Melayu sebagai musik yang mengandung banyak pengaruh musik pop barat namun memiliki unsur tersirat dari tradisi musik Melayu. Dalam tulisan tersebut, Wallach mengambil contoh kasus di negara Malaysia dan menjadikan Siti Nurhaliza sebagai representasi genre pop Melayu.

Sementara di Indonesia, Wallach dalam bukunya Modern Noise, Fluid Genres: Popular Music in Indonesia 1997-2001 menyebut nama Iyeth Bustami sebagai perwakilan pop Melayu yang mampu mencampurkan sentimentalitas pop Melayu dengan aransemen musik dangdut. Wallach juga mendefinisikan keberadaan pop Indonesia yang menjadi istilah umum untuk menyebut musik populer Barat yang dinyanyikan dalam Bahasa Indonesia dan memiliki kontur melodi vokal khas yang umumnya tidak ditemukan dalam musik-musik pop berbahasa Inggris. Contoh paling gamblangnya adalah Koes Plus.

Kontur melodi vokal khas, juga dikenal dengan sebutan cengkok, menjadi benang merah yang menghubungkan dua gelombang “serbuan” pop Melayu. Gelombang pertama adalah ekspansi tenaga band asing negeri Jiran. Diawali dengan “Isabela” dari  Search dan “Suci dalam Debu” milik Iklim di awal dekade 90-an, tongkat estafet berlanjut di pertengahan era 90-an lewat kemunculan Slam, dikenal dengan lagu “Gerimis Mengundang”, dan Exists yang mengecap popularitas lewat “Mencari Alasan”.

Sementara gelombang kedua dimulai lewat kemunculan band-band asli Indonesia yang diawali dengan kemunculan Radja pada tahun 2004 lalu berturut-turut hadir mulai dari Kangen, ST 12, sampai Wali.

Tiap gelombang punya cerita yang sama. Sama-sama masuk dalam daftar putar paling panas di radio dan televisi dan sama-sama dikritik sebagai musik selera rendahan karena hampir semuanya tampil seragam lewat perpaduan aransemen slow rock yang cenderung mendayu-dayu serta deretan lirik yang tidak jauh dari urusan patah hati.

Perkara lirik yang terus-terusan meratapi nasib ini sudah jadi sasaran tembak dalam berbagai dekade. Remy Sylado menulis kegeramannya akan akutnya pemakaian kata mengapa dalam lirik lagu yang dimuat di jurnal Prisma edisi Juni 1977. Harmoko pernah mencekal “Gelas-Gelas Kaca” milik Nia Daniaty dan “Hati yang Luka” dari Betharia Sonata karena liriknya dianggap dapat mematahkan semangat orang Indonesia untuk bekerja keras. Dan Efek Rumah Kaca secara frontal menghadapi serbuan band-band pengsung musik pop Melayu tadi lewat lagu “Cinta Melulu”. Tapi sepedas-pedasnya kritik, jualan tetap berjalan juga, pada saat itu.

Serbuan gelombang pop Melayu jilid kedua tidak bisa dilepaskan dari Peterpan. Saat pertama kali hadir lewat album Taman Langit tahun 2003, Ariel cs. perlahan mengisi ceruk pasar lewat jejalan lagu yang aransemennya lebih sederhana dari aransemen milik Sheila On 7, Padi, juga Dewa 19 yang saat itu mendominasi. Saat Sheila On 7 limbung pasca album eksperimental Pejantan Tangguh dan sibuk menambal lubang setelah personel hengkang, lalu Dewa 19 mulai tenggelam dengan isu domestik dan kenarsisan akut Ahmad Dhani, saat itulah Peterpan meringsek dan tak terbendung.

Mereka mampu memadukan gaya Britpop dengan kearifan lokal lewat cengkok khas Ariel. Masih soal Ariel, pria kelahiran Pangkalan Brandan ini lalu menjelama menjadi role model. Lewat  gumaman saat bernyanyi, gaya rambut, sampai mata yang disayu-sayukan. Mungkin mereka berharap bisa mendapat berkah dari pangeran Antapani tersebut dalam urusan menaklukkan wanita, baik di atas panggung maupun di atas ranjang.
Lihatlah Kangen berusaha menjadi bintang dengan mengadaptasi gaya penulisan lirik Ariel yang senang menggunakan kata awan, langit, dan bintang. “Dan rasakan semua bintang/Memanggil tawamu terbang ke atas/Tinggalkan semua, hanya kita dan bintang” adalah ciptaan Ariel di lagu “Aku dan Bintang” yang ada di album Taman Langit rilisan tahun 2003. Seperti ingin mengikuti kesuksesan Ariel di album yang sanggup terjual lebih dari setengah juta keping itu, Dodhy Hardianto mencontohnya di “Doy”. Simak petikan liriknya “Ku latih kau terbang diatas awan/Agar kau tegar dan tak terkalahkan…Coba kau pikirkan, coba kau renungkan/Tanya bintang-bintang hanya kaulah yang ku sayang”.

Dide vokalis Hijau Daun dan Bian vokalis D’ Bagindas berusaha mati-matian mengikuti jejak Ariel. Dari dandanan, gaya bernyanyi yang dimirip-miripkan, juga tatapan mata sendu. Bahkan belum cukup sampai situ, Dide bahkan mengajak berduet Luna Maya yang waktu itu masih menjadi kekasih Ariel.

Setelah Peterpan mulai retak pasca ditinggal dua personel pada pada tahun 2006, disusul kasus video seks yang menimpa Ariel di tahun 2010, popularitas Peterpan memudar sejenak. Kekosongan tadi dimanfaatkan ekspansi band-band pop Melayu yang semakin menjadi-jadi.

Tahun 2008, ST12 yang waktu itu masih diperkuat Muhammad Casmali Parli alias Charly Van Houten, Dedy Sudrajat, dan Ilham Febry merilis album P.U.S.P.A, disusul versi repackaged, setahun setelahnya. Album sophomore milik grup yang bermarkas di jalan Stasiun Timur 12, Bandung ini mampu menangguk untung sampai 10 miliar dari unduhan ring back tone.  Belakangan model penulisan judul seperti “P.U.S.P.A” alias “Putuskan Saja Pacarmu” dicontoh oleh D’ Bagindas lewat “C.I.N.T.A” dan membuat vokalis grup rock Power Slaves, Heydi Ibrahim geram dan membuat kaos bertuliskan Lagu Kok Dieja? saat tampil di gelaran Java Rockinland tahun 2011.

Hanya dengan satu single “Baik-Baik Sayang”, Wali bisa meraup duit sampai 24 miliar rupiah hasil dari 8 juta aktivasi ring back tone hanya dalam dua pekan pada tahun 2009. Membuat Museum Rekor Indonesia, (MURI) perlu memberi gelar pada Apoy, Faank, Ovie, dan Tomi sebagai pemegang download RBT terbanyak dan tercepat. Sementara Hijau Daun meski hitungan aktivasi ring back tone-nya lebih kecil, mampu mengumpulkan tiga juta unduhan nada sambung.
Ring back tone menjadikan band-band tadi bisa bertahan hidup hanya dengan bermodal satu single, bahkan dalam taraf yang lebih ekstrim lagi, hanya dengan sepotong refrain berdurasi kurang dari satu menit. Lagipula, buat apa susah payah memikirkan produksi rekaman 12 track dalam satu album kalau satu single saja sudah bisa mengangkat roda nasib? Namun alam punya mekanismenya sendiri untuk memilih siapa saja yang mampu bertahan.

Setelah jor-joran tampil di berbagai lini, band-band pengusung pop Melayu tadi kini menghadapi jalan hidup yang berbeda. Kangen Band malah lebih dikenal karena ulah vokalisnya, Andika, yang kerap tersandung skandal asmara. ST 12 pecah kongsi setelah Charly dan Dedy Sudrajat alias Pepeng keluar dan membentuk Setia Band. Charly bahkan sempat mencoba peruntungan menjadi calon wakil gubernur di Pilkada Jawa Barat tahun 2018 ini, namun nasibnya tak semujur di dunia tarik suara.

Wali kini sibuk menjadi bintang sinetron religi untuk memastikan asap dapur tetap ngebul sementara Hijau Daun kini lebih banyak manggung di kota-kota kecamatan. D’Bagindas ditinggal vokalisnya, Bian, yang kemudian membentuk band baru yang menonjolkan namanya, BIAN Gindas. Sementara nama-nama seperti Merpati, Vagetoz, Goliath, atau Salju yang sebelumnya wira-wiri di acara musik pagi kini tidak pernah terdengar lagi jejak karyanya.

Namun dari segala pasang surut tadi, kita patut berterima kasih karena Kangen Band, ST 12, Wali, juga Hijau Daun mampu membalaskan invasi sesama pengusung pop Melayu di negeri tetangga. Kangen Band yang baru lahir tahun 2005 sudah mampu mencecap panggung internasional pertamanya di Malaysia pada tahun 2007. Tahun 2014, mereka bahkan tur di Taiwan, Hongkong, dan Singapura meski penontonnya masih tetap sesama warga Indonesia.

ST 12 tetap mempesona meski ditinggal pergi si icon Charly. Tahun lalu, mereka bahkan mendapat 16 penghargaan platinum dan secara khusus diminta oleh istri Perdana Menteri Malaysia untuk membawakan salah satu hits single-nya “Salam Terakhir”.

Sementara Wali tidak tanggung-tanggung menggelar tur 7 kota di negeri Jiran pada tahun 2012. Belum cukup sampai situ, rentang fanbase juga melebar ke mancanegara. Terima kasih internet, seorang penyanyi berkebangsaan Malta dengan penuh niat membawakan ulang “Cari Jodoh” yang berganti judul menjadi “I No Can Do” itu. Lagu di album kedua band bentukan mahasiswa-mahasiswa Universitas Islam Negeri Jakarta itu melesat dan menduduki puncak tangga lagu  “Top 20 Eurovision” selama 4 minggu berturut-turut!

A revenge best served cold. Perlulah kita berterima kasih pada punggawa pop Melayu yang telah memberikan balas dendam manis ketimbang terus berharap pada tim sepak bola yang sering keok melulu itu. Tidak perlu malu pada (pop) Melayu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *